Islam Dan Bunga Bank

Share
Islam Dan Bunga Bank

Pembaca yang berbahagia, kita Berjumpa kembali dengan pembahasan yang berbeda, kali ini saya akan membahas tentang bunga Bank dalam pandangan islam.

Para ulama telah sepakat bahwa bunga Bank haram hukumnya karena tergolong ke dalam riba, hal ini seperti yang termaktub dalam Al-Qur'an dan Hadis, yang intinya : "Allah swt dan Rasulullah melaknat orang-orang yang memakan riba".

Beberapa alasan mengapa bunga menjadi dilarang dalam Islam, diantaranya adalah :

1. Bunga (interest), sebagai biaya produksi yang telah ditetapkan sebelumnya cenderung menghalangi terjadinya lapangan kerja penuh (full employment) [M.A. Khan, 1986; Ahmad, 1952; Mannan, 1986].

2. Krisis-krisis moneter internasional terutama disebabkan oleh institusi yang memberlakukan bunga [M.A. Khan, 1986].

3. Siklus-siklus bisnis dalam kadar tertentu dinisbahkan kepada fenomena bunga [Ahmad, 1952; Su’ud, 1980].

4. Teori ekonomi modern yang berbasis bunga ini belum mampu memberikan justifikasi terhadap eksistensi bunga [Khan dan Mirakhor, 1992].

Dalam Al-Qur’an dan Hadis, dinyatakan bahwa penarikan bunga adalah tindakan pemerasan dan tidak adil sehingga tidak sesuai dengan gagasan Islam tentang keadilan dan hak-hak milik, firman Allah SWT,

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamakan riba” (QS Al-Baqarah : 275).

Kelemahan dari sistem bunga sendiri, antara lain :

1. Tabungan yang direncanakan tidak selalu sama dengan investasi yang direncanakan.

2. Suku bunga bukan faktor yang menjamin untuk menyamakan tingkat tabungan dengan tingkat investasi, melainkan tingkat pendapatan.

3. Suku bunga yang tinggi akan mempengaruhi turunnya investasi, tingkat produksi, dan kesempatan kerja.

4. Suku bunga kecil pengaruhnya terhadap tabungan dan investasi.

5. Bukan suku bunga yang menjamin keseimbangan antara tabungan dan investasi, melainkan tingkat investasi.

6. Perilaku spekulasi akan mempengaruhi ketidakstabilan mekanisme ekonomi dan berdampak pada terpuruknya ekonomi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengeluarkan fatwa tentang bunga bank (Interest/Fa’idah), yaitu :

1. Bunga (interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh)yang diperhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut, berdasarkan tempo waktu, diperhitungkan secara pasti di muka, dan pada umumnya berdasarkan persentase.

2. Riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi karena penangguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya.

3. Praktek pembungaan haram hukumnya, baik yang dilakukan oleh Bank, Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi, dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.
Riba dari segi bahasa (lughat), artinya merupakan tambahan atau kelebihan. Dalam ilmu fiqh dikenal 3 (tiga) jenis riba, yaitu :

1. Riba Fadl/riba buyu, yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitasnya (mistlan bi mistlin), sama kuantitasnya (sawa-an bi sawa-in), dan sama waktu penyerahannya (yadan bi yadin). Pertukaran ini mengandung gharar(ketidakjelasan) bagi kedua belah pihak akan nilai masing-masing barang yang dipertukarkan. Dalam perbankan konvensional riba fadl dapat ditemui dalam jual beli valuta asing yang tidak dilakukan dengan cara tunai (spot).

2. Riba Nasi’ah/riba duyun, yaitu riba yang timbul akibat hutang-piutang yang tidak memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko (al ghunmu bil ghurmi) dan hasil usaha muncul bersama biaya (al kharaj bi dhaman).

Riba ini muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara barang yang diserahkan hari ini dengan barang yang diserahkan kemudian. Transaksinya mengandung pertukaran kewajiban menanggung beban.

Dalam perbankan konvensional riba nasi’ah dapat ditemuidalam pembayaran bunga kredit dan pembayaran bunga deposito, tabungan, dan giro.

3. Riba Jahiliyah, yaitu hutang yang dibayar melebihi dari pokok pinjaman, karena si peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang telah ditetapkan. Dalam perbankan konvensional riba jahiliyahdapat ditemui dalam pengenaan bunga pada transaksi kartu kredit.

Demikian penjelasan dari kami, semoga bermanfaat dan membantu untuk lebih teliti dan bijaksana dalam menghadapi setiap perilaku ekonomi dan bisnis yang mengarah kepada praktik-praktik ribawi.
Terimakasih.
Share

Belum ada Komentar untuk "Islam Dan Bunga Bank"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel