Zakat Profesi Perintah Agama

Share

Karmuji.com, Pembaca yang berbahagia, dalam pertemuan ini saya akan mengkaji Zakat Profesi, selamat membaca!!!

Penghasilan yang diperoleh dan harta yang berhasil dikumpulkan oleh setiap pribadi muslim, sebenarnya bukan sepenuhnya menjadi hak miliknya. Ada hak atau milik orang lain di dalamnya, sebagaimana firman Allah SWT berikut :
Dalam setiap harta terdapat hak orang lain (orang-orang yang meminta-minta dan orang-orang yang tidak meminta-minta)" (QS. Adz Dzaariyaat [51] : 19)
Dan orang-orang yang dalam hartanya ada hak yang ditentukan. Bagi orang (miskin) yang meminta-minta dan orang (miskin) yang tidak mau meminta” (QS. Al Ma’arij [70] : 24-25)
“.....Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.......” (QS. Al Hadid : 7)

“Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik......” (QS. Al-Baqarah : 267)

Selain itu Rasulullah SAW juga bersabda
Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan” (HR. Thabrani)
dan sabda yang lain,
Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu” (HR. Al Bazar dan Baehaqi).

Penghasilan yang diperoleh dari hasil profesi seperti pegawai Negeri, Pegawai Swasta, Konsultan, Dokter, Notaris dll, merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak dikenal dimasa salaf (generasi yang rdahulu).
Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapat dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin diantara mereka (sesuai dengan ketentuan syara).
Dengan demikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat.

Akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup dan keluarganya baik yang berupa kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) maupun pendidikan, kesehatan, dan biaya lain yang diperlukan untuk menjalankan profesinya, maka ia menjadi mustahiq (penerima zakat).

Zakat profesi memang tidak dikenal dalam hasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dikaterogikan berdasarkan qiyas atau kemiripan (syabbah) terhadap karakteristik harta zakat yang telah ada, yaitu :

1) Model memperoleh harta penghasilan (profesi) mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat diqiyaskan ke dalam zakat pertanian berdasarkan nishab 653 kg gabah kering giling atau setara dengan 552 kg beras dengan pengeluaran zakatnya setiap kali panen.

2) Model harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang, sehingga bentuk harta ini dapat diqiyaskan dalam zakat harta (simpanan/kekayaan) berdasarkan kadar zakat yang harus dibayarkan (2,5%).
Berikut ini adalah Analogi perhitungan zakat profesi.
Misalkan Seseorang sebagai seorang pegawai swasta memiliki penghasilan bersih perbulan Rp 2.500.000,00, maka perhitungan zakatnya
a. Pemasukan (Gaji/bulan) Rp 2.500.000,00
b. Nishab (552 kg beras @ Rp 3.000,00) Rp 1.656.000,00

c. Zakat (2,5 % x Rp 2.500.000,00) Rp 62.500,00

Dibayarkan setiap bulan Nishab merupakan batas minimum penghasilan bersih yang wajib dikenai zakat, apabila penghasilan bersih Seseorang tidak mencapai angka tersebut maka tidak dibebankan zakat profesi melainkan hanya infaq atau shadaqah yang besarnya tergantung pada kemampuan Sahabat.

Berdasarkan firman Allah SWT di surat At-Taubah : 60 mengenai pihak-pihak yang berhak untuk menerima zakat, yaitu “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, ara mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah [9] : 60)

Dengan demikian Seseorang  dapat menyalurkan zakatNya untuk 8 golongan berikut :
1. Fakir, yaitu orang yang tidak memiliki mata pencaharian tetap dan hidupnya jauh di bawah sejahtera
2. Miskin, yaitu orang yang memiliki mata pencaharian tetap, tetapi penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga hidupnya di bawah sejahtera
3. Amil, yaitu lembaga yang ditugasi untuk mengumpulkan dan mengelola zakat
4. Muallaf yang diluluhkan hatinya, yaitu orang-orang yang baru masuk Islam atau dimungkinkan masuk Islam.
Dengan diberikan bantuan dari dana zakat, maka hidupnya akan sejahtera dan semakin mantap meyakini kebenaran Islam
5. Riqab, yaitu orang atau budak yang dalam penguasaan orang lain yang harus dimerdekakan
6. Gharim, yaitu orang yang sedang dalam kesulitan karena dirudung hutang
7. Sabilillah, yaitu mereka-mereka yang berusaha dan berjuang dalam menegakkan kalimah Allah (jihad), baik  dalam pertempuran maupun dalam dakwah
8. Ibnu Sabil, yaitu mereka yang sedang melakukan perjalanan dan kehabisan bekal.

Demikian penjelasan dari kami, semoga memberikan manfaat bagi Kita semua. Amin.
Share

Belum ada Komentar untuk "Zakat Profesi Perintah Agama"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel