Karmuji.com | Penyuluh Agama Islam Tuban

Becik Ketitik Olo Ketoro, Pegangan Hidup Orang Jawa


Assalamualaikum.
berjumpa dengan saya karmuji.com: pembaca yang budiman selamat membac...

Ungkapan becik ketitik Olo ketaro (kebaikan akan ketahuan, keburukan akan tampak) sangat populer dalam kehidupan masyarakat jawa. Kepopuleran ini membuktikan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya di anut dan berjalan secara fungsional, serta memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat jawa. Ungkapan ini lazim di pakai sebagai peredam konflik sosial, apa pun sumber kasusnya.

Dalam suatu kasus atau konflik, tidak selamanya dapat di ungkapkan bukti-bukti yang dapat mendukung diperolehnya kebenaran. Bahkan ada kalanya seseorang yang terlibat dalam konflik tidak bersedia menyatakan hal yang sebenarnya, hal yang seseuai dengan kenyataan. Seseorang sebenarnya lebih baik menyelesaikan konflik tanpa harus memperpanjang permasalahan. Namun, dalam konteks penyelesaian konflik, sangat mungkin ada pihak yang kecewa atas sikap pihak lain.
Bahkan, masing-masing pihak seringkali bersikukuh pada pendiriannya dan saling mengaku bahwa pihaknya yang benar dan pihak lain yang salah. Di dalam kondisi rebut bener (berebut kebenaran) antara dua pihak tersebut, orang jawa menerimanya dengan keyakinan becik ketitik Olo ketaro.

Umumnya, pihak yang berani mengucapkan becik ketitik Olo ketaro adalah pihak yang meyakini bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan. Dengan demikian, becik ketitik ala ketara (kebaikan akan diketahui, keburukan akan tampak) sebagai alternatif penyelesaian konflik jika penyelesaian normatif menemui jalan buntu (mentok).

Pertanyaan yang muncul adalah apa yang melatar belakangi sikap orang jawa dalam meyakini kebenaran becik ketitik Olo ketaro?.

Budaya jawa tidak dapat dilepaskan dari sikap hidup orang jawa, baik sikap hidup yang berkaitan dengan kehidupan sosial (hubungan dengan orang lain) maupun sikap hidup yang berkaitan dengan nilai religius atau ajaran ketuhanan.

Pertama, seperti dinyatakan di atas, seorang akan bersikap “menerima” pemecahan konflik tanpa bermaksud memperpanjang persoalan, utamanya jika konflik itu melibatkan orang-orang yang sebelumnya memiliki hubungan baik.

Akan tetapi, “penerimaan” itu sebenarnya bersifat tentatif (sementara) karena dirinya tetap menghendaki agar kebenaran atau kesalahan itu akan terungkap (walaupun tanpa melalui proses hukum normatif).

Kedua, penerimaan dengan meyakini becik ketitik Olo ketaro tidak terpisah dari pandangan hidup orang jawa yang sangat kental dengan nilai religius. Orang jawa meyakini bahwa Gusti ora sare (Allah tidak tidur), dan karenanya Allah melihat segala pikiran dan tindakan semua orang. Orang jawa sangat yakin bahwa Allah akan memberi keadilan yang seadil-adilnya terhadap kesalahan umat-Nya.

Dengan demikian, penerimaan fase pertama ini dikatakan masih bersifat sementara.
Mengapa?
Ini lantaran orang jawa masih mengharapkan bahwa kesalahan dan kebaikan itu nantinya terbuktikan, dan Allah-lah yang akan memberi bukti-bukti itu walaupun tidak harus melalui proses hukum normatif.
Lalu apa bentuk konkrit dari bukti-bukti tersebut?
Biasanya masyarakat jawa meyakini bahwa Allah akan membalas kesalahan seseorang, misalnya menimpakan penderitaan atau kejadian menyedihkan pada sang pelaku atau keluarganya, seperti sakit berkepanjangan, kehilangan harta benda, kegelisahan, kehilangan kehormatan, dipermalukan secara umum, dicabut derajat atau amanah yang diberikan kepadanya, dan sebagainya.

Bentuk-bentuk penderitaan itu di pandang sebagai bukti bahwa si pelaku adalah pihak yang salah. Seseorang yang terlibat konflik akan di pandang sebagai pihak yang benar jika setelah perselisihan ia tidak mengalami nasib buruk, atau tertimpa musibah.
Satu hal yang perlu dicermati adalah perlunya kesadaran bahwa suatu keburukan, bagaimanapun dan apapun jenisnya, tidak bisa disembunyikan. Jika semasa hidupnya hal itu bisa disembunyikan, nantinya hal itu tetap akan terungkap setelah orang tersebut di akhirat, bahkan pada hari pengadilan di hadapan Allah.

Dengan demikian, yang terpenting adalah menjadikan ungkapan becik ketitik Olo ketaro sebagai kendali moral bagi siapapun agar dirinya terhidar dari perilaku jahat atau keburukan:
jangan sampai seseorang memiliki niat dan perbuatan Olo (buruk).
Mengapa?
Karena keburukan itu akan kembali pada dirinya sendiri (dan keluarganya), baik ketika masih hidup di dunia ataupun nanti di akhirat.

Jadi, sebaik-baik sikap adalah menempatkan ungkapan becik ketitik ala ketara sebagai ajaran untuk mengendalikan hati, pikiran, dan tindakan agar diri kita jauh dari laku Olo (tindakan buruk), dan bukan menempatkannya sebagai bentuk pernyataan vonis atas kesalahan orang lain.
Semoga bermanfaat...
Terimakasih.
Wassalamualaikum.

Belum ada Komentar

Posting Komentar