Karmuji.com | Penyuluh Agama Islam Tuban

KONSEP KELUARGA SAKINAH



Keluarga Sakinah

Istilah “keluarga” adalah sanak saudara yang bertalian dengan perkawinan atau sanak keluarga yang bertalian dengan keturunan. Atau yang dimaksud dengan keluarga adalah masyarakat terkecil yang terdiri dari suami istri yang terbentuk melalui perkawinan yang sah, baik mempunyai anak maupun tidak sama sekali. Sedangkan “sakinah” menurut arti bahasa adalah tenang atau tentram. Keluarga akinah berarti keluarga yang tenang, damai dan tidak banyak konflik, dan mampu menyelesaikan problem-problem yang dihadapi.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang setiap anggota keluarga senantiasa mengembangkan kemampuan dasar fitrah kemanusiaannya, dalam rangka menjadikan dirinya sendiri sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan sesama manusia dan alam, sehingga oleh karenanya setiap anggota keluarga tersebut akan selalu merasa aman, tentram, damai dan bahagia.

Keluarga sakinah berarti pula keluarga yang bahagia atau juga keluarga yang diliputi rasa cinta-mencintai (mawadah) dan kasih sayang (warohmah). Dasar pembentukan keluarga terdapat dalam firman Allah SWT dalam Q.S. Ar-Rum ayat 21 :“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan sakinah adalah rasa tentram dan nyaman bagi jiwa raga dan kemantapan hati mengalami hidup serta rasa aman dan damai, rasa cinta dan kasih sayang bagi kedua pasangan. Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa keluarga sakinah adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan aturan agama secara benar dan dalam pola hubungan dilandasi dengan rasa cinta dan kasih sayang sehingga akan tercipta rasa damai dan bahagia dalam keluarga tersebut.

Dari beberapa pengertian tersebut yang dimaksud dengan membentuk keluarga yang sakinah adalah segala upaya atau cara pengelolaan untuk membentuk keluarga sakinah yang mengarahkan serta mengembangkan kemampuan suami istri untuk mencapai tujuan mewujudkan keluarga bahagia sejahtera, rasa cinta dan kasih sayang sehingga akan tercipta rasa damai dan aman dalam sebuah keluarga, agar memperoleh kehidupan lebih baik di dunia mapun di akhirat. 

Adapun kriteria atau pondasi utama yang harus dimiliki oleh sebuah keluarga sehingga dapat dikatakan sebagai keluarga bahagia sejahtera (sakinah) tersebut adalah sebagai berikut :

Memiliki keinginan menguasai dan mengamalkan ilmu-ilmu agama, setiap anggota keluarga memiliki semangat dan motivasi untuk senantiasa mempelajari ilmu-ilmu agama dan menghayati serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap saling menghormati setiap anggota keluarga memiliki sifat yang sarat dengan etika dan sopan santun.

Berusaha memperoleh rizki yang halal dan memadahipenanggung jawab keluarga berusaha memperoleh rizki yang halal dan hasil atau rezki itu dapat memenuhi kebutuhan para anggota keluarga secara memadahi dan berkecukupan.

Membelanjakan harta secara efektif dan efesien penanggung jawab perbelanjaan keluarga setidaknya bisa mengatur dan menyeimbangkan antara pendapatan dan pengeluaran rumah tangga, sehingga kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga dapat terpenuhi secara memadai.

Perkawinan merupakan awal dari kehidupan berkeluarga untuk sebagai upaya membangun keluarga sakinah, perkawinan harus dilandasi dengan aturan agama yang benar dan sesuai dengan budaya setempat. perkawinan ibarat pondasi awal dalam sesuatu bangunan, jika pondasi awal itu buruk, maka bangunan di atasnya akan mudah runtuh, begitu pula dengan sebuah hubungan keluarga.

Adapun landasan perkawinan yang Islami yaitu : 

Seaqidah.

Didalam mencari pasangannya, baik seorang laki-laki maupun perempuan harus mencari yang seaqidah, artinya satu keimanan atau satu agama. Hal ini dilakukan sebagai langkah awal antisiatif, karena perkawinan yang dilakukan beda agama dilarang oleh Allah SWT. Sesuai firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 221 :

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”

Di sinilah diperlukannya akal fikiran sebagai pertimbangan dalan memilih jodoh. Janganlah mengikuti perasaan hati, jangan hanya karena cinta atau suka saja akan tetapi landasilah dengan pertimbangan-pertimbangan karena hidup berkeluarga adalah perjalanan yang panjang, maka akan membutuhkan persamaan persepsi dan landasan berfikir. Berdasarkan latar belakang ini faktor persamaan aqidah sebagai landasan perkawinan yang utama mutlak diperlukan guna mencapai keluarga bahagia.

Kufu (Sederajat atau Seimbang).

Keseimbangan atau keserasian antara calon suami dan istri dalam hal agama, kedudukan sosial, ekonomi atau kekayaan dan pendidikan yang sangat menentukan kehidupan berkeluarga yang akan dibutuhkan oleh kedua pasangan adalah keseimbangan dalam bidang-bidang, namun dalam realitas kehidupan, tidak semua orang dapat menemukan keseimbangan atau keserasian secar semnpurna. Untuk itu harus diambil prioritas keseimbangan dalam bidang apa yang harus dilakuakan.

Pandangan tentang kafa’ah atau kufu dalam memilih jodoh adalah dalam hal keagamaan (keimanan dan ketaqwaan) karena dengan kuatnya agama akan menolong dan menghilangkan keadaan yang akan membuat keseimbangan dalam sebuah keluarga, karena kuat agama dan mencintai yang berstatus sosial yang tinggi akan mengangkat derajat yang berstatus sosial rendah, dan yang berpendidikan tinggi akan mendidik dan membimbing berkependidikan.

Prioritas utama dalm mencari kesepadan adalah dalam hal agama, karena dengan agama yang kuat akan lebih mudah memandang menghilangkan perbedaan yang ada dalam pasangan suami istri tersebut. Priorotas kedua adalah kedudukan calon suami dan calon istri, kedudukan calon suami diharapkan lebih tinggi dalam bidang-bidang selain agama daripada calon istri, hal ini disebabkan tanggung jawab dan kewajiban seorang suami lebih besar dari pada dibanding tugas dan kewajiban seorang istri. 

Dalam hal ini Syaikh Muhammad Syaltut menuturkan : “Setaraf itu lebih diperlukan untuk istri dan keluarganya terang bila kedudukan suami lebih rendah dari istrinya akan menimbulkan kekecewaan karena istri selalalu memandang rendah terhadap suaminya dan selalu menerima kecaman dari msyarakat yang tidak enak didengar.”

Jadi, dalam kafa’ah ini tidak harus sama persis atau keseimbangan yang sempurna tetapi lebih cenderung pada keserasian, serasi tidak harus sama persis, namun bisa berbeda yang penting dapat saling melengkapi dan menutupi kekurangan-kekurangan yang ada, dari sanalah akan tumbuh keseimbangan. Maksud dari kafa’ah adalah apabila seseorang laki-laki dan wanita berasal dari keluarga yang mempunyai pandangan yang saling berkesesuaian, atau yang hampir sama dengan hal yang moralitas, agama, kedudukan sosial dalam cara-cara menyagkut rumah tangga dalam keadaan sehari-hari, akan menjadikan sebuah keluarga tersebut menjadi seimbang dalam segala hal dalam keluarga tersebut.

Nikah Resmi (Tercatat).

Maksud nikah resmi adalah pernikahan yang sesuai dengan aturan agama dan aturan negara, artinya pernikahan yang dilakukan dicatat dan diakui oleh negara. Setiap peristiwa perkawinan harus dicatat menurut perundang-undangan yang berlaku mengingat bahwa pernikahan yang dilakukan tanpa percatatan yang syah tidak memiliki kepastian hukum dan akan menyulitkan yang bersangkutan dalam kedudukan anak, warisan, status perkawinan, dan lain-lain.

Nikah resmi perlu dilakukan sebagai upaya membangun keluarga yang sakinah. Adakala pernikahan yang dilakuakan hanya dengan nikah syiri yang menurut sebagain ulama sudah benar. Namun sesuai dengan kemajuan jaman manusia tidak hanya hidup bebas ia pasti menjadi penduduk suatu negara, setiap negara mempunyai aturan dan Undang-undang, maka setiap perbuatan dan tingkah laku warganya harus sesuai dengan aturan dan undang-undang yang berlaku dalam negara tersebut. 

Begitupula halnya dengan pernikahan yang dilakukan oleh seseorang, pemerintah atau negara harus mengetahuinya, guna mempermudah proses hukum jika terjadi sesuatu, seperti meninggalkan tanggung jawab sebagai suami atau istri, menentukan warisan, kedudukan anak, dan status perkawinan itu sendiri.

Kesiapan Untuk Menikah.

Agar pernikahan yang dilaksanakan dan keluarga yang akan dibangun dapat berhasil, maka bagi calon suami dan calon istri harus mempersiapkan diri secara matang, baik persiapan yang menyangkut fisik, mental maupun ekonomi.

Kesiapan Fisik.

Persiapan fisik meliputi kesiapan kesehatan dan tenaga untuk menjalani hidup berumah tangga. Hidup berkeluarga berarti hidup mandiri, segala kebutuhan hidup harus diupayakan dan dicari sendiri, tidak hanya terus mengharapkan dan menerima dari orang tua. Pada saatnya orang tua akan jompo dan meninggal sehingga tidak bisa bekerja lagi. Persiapan fisik juga memperhatikan anggota dan bentuk (keindahan) tubuh adalah sesuatu kekurangan jika seseorang atau pasangannya ada yang mempunyai cacat atau kelainan tubuh, karena hal itu akan mempengaruhi dalam beraktifitas dan bekerja. 

Begitu pula dengan bentuk atau keindahan tubuh, walaupun bukan hal yang utama namun juga penting salah satu dari karakter manusia adalah suka terhadap yang indah, sehingga seseorang akancenderung mencari yang indah tersebut. Keindahan akan menjadi salah satu pendorong dalam diri manusia untuk merasa senang dan bahagia.

Kesiapan Mental.

Kesiapan mental untuk menikah diawali dengan niat yang ikhlas dan benar, bahwa pernikahan yang dilakukan karena untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sebagai ibadah kepada Allah SWT. Niat ini penting karena menikah harus berniat memenuhi kebutuhan biologis, maka ia hanya mendapatkan itu saja sedangkan kebahagiaan berkeluarga tidak hanya didasarkan pada hubungan biologis saja, melainkan mempunyai niat yang benar berarti seseorang secara mental telah siap untuk menikah.

Jadi yang dimaksud dengan kesiapan mental adalah unsur kedewasaan pada calon ke dua mempelai, dewasa menurut usia kalender dan dewasa menurut usia psikologis, kedewasaan yang dimaksud adalah kedewasaan berfikir, mengontrol emosi, dan menentukan sikap dalam bertindak.

Kesiapan Ekonomi.

Adalah suatu kebahagiaan apabila kebutuhan ekonomi dalam rumah tangga dapat terpenuhi walaupun hanya kebutuhan pokok saja. Untuk itu bagi calon suami dan istri harus betul-betul siap dalam hal ekonomi karena sering adanya perpecahan dalam satu keluarga dipicu oleh faktor ekonomi. Didalam hal ekonomi ini yang terpenting adalah bagaimana mempersiapkan skill (ketrampilan dan kemampuan) dan kemampuan untuk bekerja. 

Seseorang mempunyai modal yang banyak tetapi tidak pandai dalam mengelolanya lama-kelamaan akan habis juga, namun bisa jadi seseorang tidak mempunyai apa-apa tetapi mempunyai kemampuan dan kemauan untuk bekerja orang tersebut bisa mendapatkan apa yang diinginkan, begitu juga dengan calon pasangan yang akan menikah, minimal mempunyai modal kemampuan dan kemauan untuk bekerja guna mencukupi kebutuhan ekonomi dalam keluarga yang akan dibangun.

Dengan demikian kesiapan untuk menikah dari segi fisik, mental, dan ekonomi tidak bisa dipisah-pisahkan dalam rangka membangun keluarga sakinah, kedua calon pasangan harus betul-betul siap dari ketiga unsur ini kalau hanya siap fisik namun mental dan ekonomi belum, tentu akan menimbulkan masalah dalam kehiduan berkeluarga. Begitu juga hanya siap mentalnya atau hanya ekonominya saja.

Kualitas Pribadi Pasangan.

Perkawinan yang ideal tidak terjadi, kecuali jika didahului oleh persiapan perkenalan antara calon suami istri sehingga tercapai keluarga yang sakinah. Oleh karena itu, salah satu faktor yang menjadi penentu dalam upaya membangun keluarga sakinah adalah mengenai kualitas pribadi yaitu :

Kematangan dan Tanggung Jawab.

Memiliki kematangan berarti bisa mengurus dirinya sendiri, tahu mana yang baik atau buruk buat dirinya. Sedangkan bertanggung jawab berarti dia memahami langkah yang diambil beserta resiko-resiko yang kemungkinan akan dihadapi.

Memiliki Harga Diri.

Agar seseorang bisa mencintai ia harus cinta pada dirinya sendiri. Karena itu lihatlah bagaimana cintanya ia pada dirinya. Kalau ia sendiri tidak mencintai dirinya, bagaimana mungkin ia bisa mencintai pada pasangannya.

Pendidikan.

Calon pasangan suami istri setidaknya hrus berpendidikan tinggi. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan tinggi akan mendidik dan membimbing orang yang tidak berpendidikan.

Berdasarkan hal ini dalam kajian ilmu fiqih, hukum seseorang untuk melaksanakan perkawinan bisa bermacam-macam, bisa wajib, sunnah, makhruh dan haram. Itulah sebabnya Islam menganjurkan kepada manusia jika betul-betul belum siap dan mampu menikah hendaknya keinginan tersebut ditangguhkan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam Q.S. An-Nur ayat 33 :

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat Perjanjian dengan mereka,  jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari Keuntungan duniawi. dan Barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.”

Di dalam mencapai keluarga sakinah hal yang sangat mempengaruhi yaitu niat, yang ikhlas ketika hendak membina sebuah keluarga, pola hidup yang dibina dalam keluarga yaitu menciptakan suasana yang romantis dan yang berkaitan dengan pendidikan anak. Hal yang mempengaruhi ini ada dan berkaitan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan perkawinan dan kehidupan berkeluarga seperti :

Tinggal Dimana Setelah Menikah.

Setelah pernikahan terjadi mencari dimana ia akan tinggal. Suami berkewajiban menyediakan bertempat tinggal bagi istri, dan sebaliknya istri harus menerima dan mau bertempat tinggal dimanapun sejauh suami tidak menempatkan istri dan anaknya ditempat yang rusak.

Tinggal Sendiri.

Alangkah lebih baik tinggal di rumah sendiri meskipun kontrakan. Dengan tempat tinggal yang terpisah dapat mengatur sendiri rumah tangganya, bisa belajar lebih luas untuk saling mengenal, memahami secara lebih baik dan sekaligus dapat membina kepekaan ketika suami istri merasakan penuh perjuangan dalam meletakan pondasi keluarga, insyaAllah akan dapat mengokohkan arah dan misi perkawinan akan melahirkan kekuatan pada jiwa pada masing-masing anggota keluarga, kecuali anggota masing-masing tidak memiliki kedewasaan yang cukup, inilah yang dibutuhkan untuk masa depan masyarakat yang lebih mulia.

Dengan tempat tinggal yang terpisah dari orang tua, kita lebih menghayati bagaimana membangun kekuatan jiwa untuk membentuk keluarga yang kokoh. Dengan membangun rumah tangga sendiri yang penuh kesederhanaan, kita mempunyai kesempatan untuk menguati dan melengkapi. Melengkapi secara fisik dengan perabotan-perabotan rumah tangga yang diperlukan dan secara psikis dengan hati yang menerima, jiwa yang rela dan kesediaan untuk berjuang bersama.

Dalam rumah tangga, kita menginginkan kedamaian, mengharapkan suasana keluarga sakinah, mawadah, wa rohmah, sehingga masing-masing anggota keluarga merasakan rumah mereka sebagai tempat peristirahatan yang memberikan tempat keteduhan jiwa kelapangan dan kedamaian.

Tinggal dengan Orang Tua.

Ada kalanya keluarga muda memilih tinggal bersama orang tuanya, bukan rumah sendiri atau kontrakan. Memilih tinggal dengan mertua mungkin karena dorongan orang tua masing-masing atau sanak saudara dari suami atau istri atau juga karena desakan ekonomi. Islam menggariskan bahwa mertua merupakan pembela bagi menantu ketika menangani masalah, mertua lebih membela menantunya daripada anaknya. 

Mertua merupakan sumber rasa aman bagi seorang menantu, sekaligus membantu proses dan perbaikan dalam hubungan ketika masalah tidak kunjung selesai. Tetapi mereka tetap dituntut adil kepada anaknya maupun menantunya, tetapi tidak semua mertua selalu membela menantunya, tergantung dari masalah yang dihadapi dalam keluarga anak dan menantunya.

Hak dan Kewajiban Suami Istri.

Islam menjadikan hubungan suami-istri sebagai suatu jalinan yang paling suci dan mulia diantara dua insan, oleh karena itu Islam banyak sekali memberikan pengarahan dengan menyatakan hak dan kewajiban masing-masing yang didalamnya diharapkan ialah patuhnya suami dan istri maka akan tercapai suatu kehidupan yang harmonis, tenang, rukun dan abadi. Kewajiban dalam suatu rumah tangga meliputi tiap-tiap anggota keluarga serta mempunyai kewajiban sendiri-sendiri, namun hal ini yang menjadi penangggung jawab adalah suami istri, mereka lebih mempunyai tanggungan yang benar daripada keluarga yang lain.

Hak istri antara lain, keseimbangan didalam hak-hak dan kewajiban-kewajiban, hak untuk mendapatkan perlakuan yang patut meskipun suami dalam keadaan tidak senang, berhiasnya suami demi istrinya dan berbuat baik terhadapnya, hak untuk mendapatkannya bantuan dalam pekerjaan sehari-hari, hak untuk diperhatikan kritiknya dengan lapang dada, memejamkan mata atas sebagian kekurangan istri.

Seorang istri harus bisa menjaga kehormatan perkawinannya. Ia harus bisa menjaga suaminya dari hal-hal yang menyebabkan perasaannya terusik dari wanita lain. Selain itu keduanya juga harus bisa menjaga kehormatannya dengan orang lain. Dan tidak akan menceritakan hubungan yang mereka lakukan di kamar tidur baik dari istri atau suami. Rasulullah Muhammad SAW sangat melarang dan membenci keras, jika ada suami atau istri menceritakan hubungan seks yang mereka lakukan kepada orang lain, karena itu masalah pribadi dan perbuatan yang dilakukan oleh suami atau istri tersebut merupakan perbuatan syetan yang terkutuk yang tidak pantas untuk diperbincangkan dengan orang lain.

Kewajiban seorang suami adalah mencari nafkah dan istri dapat menerimanya atas pemberian nafkah dari suaminya. Merasa puas pemberian dari Allah SWT merupakan sifat yang mulia yang menjiwai setiap insan yang sholeh-sholehah. Suami melakukan tugasnya mencari nafkah untuk anak dan istrinya karena istri yang penurut dan periwayat Allah SWT itu adalah ibadah, istri berusaha seraca keras mengatur rumah tangganya dengan sempurna. Maka istri itu telah melakukan ibadah disitulah titik kebahagiaan rumah tangga, yang masing-masing mempunyai tugas dan kewajiban sendiri bukan secara paksa.

Kewajiban Suami :

Memberi nafkah kepada istri, anak dan keluarga yang lainnya.

Mengurus istri dengan baik.

Menjadi pemimpin keluarga dengan baik.

Membina dan mendidik istri dan anggota yang lainnya.

Menyediakan tempat tinggal untuk istrinya.

Memberi nafkah batin dan menjaga rahasia istri.

Kewajiban Istri :

Membelanjakan harta suaminya dengan baik.

Mengatur rumah tangga dengan baik.

Mentaati perintah suami.

Mendidik dan mengajari anak-anak dengan baik.

Bersedia tinggal ditempat yang disiapkan oleh suami.

Melayani suami dengan baik serta menjaga rahasia suami.

Hak dan kewajiban suami istri ibarat sebuah mata rantai yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, saling keterkaiatan, dan saling mempengaruhi, sehingga di sinilah dibutuhkan ketulusannya, keikhlasan, pengertian dan kesabaran dalam menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing.

Pemeliharaan dan Pendidikan Anak.

Anak merupakan anugerah dari Tuhan, titipan yang harus dijaga dengan baik oleh oranng tua, banyak orang mengeluh ketika anaknya nakal, rewel, mungkin usil dalam istilah lainnya, jangan pernah takut dan khawatir ketika mempunyai anak yang rewel, yang paling penting adalah bagaimana orang tuanya memberi pengarahan terhadap anaknya, anak yang masa kecil nakal ketika dewasa nanti akan menjadi orang yang pemberani, mandiri, kreatif dan pintar, asal bagaimana juga peran orang tua dalam mengarahkan ketika dia nakal sewaktu kecilnya.

Ketika orang tua menghadapi anaknya yang nakal, di sinilah dibutuhkan kesabaran orang tua dalam mendidik, memarahinya dengan emosi tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan membuat pertumbuhannya menjadi kerdil, orang tua adalah rasa aman bagi anak. 

Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang tua ketika menghukum anak diantaranya adalah :

Menghukum anak bukan atas dasar luapan emosi, apalagi sebagai pelampiasan rasa jengkel karena perlakuan anak yang bikin pusing kepala. Segala sesuatu berawal dari niat.

Menghukum merupakan tindakan mendidik, agar anak memiliki sikap yang baik. Artinya, hal yang terpenting dalam mengghukum adalah anak mengerti apa yang seharusnya dilakukan dan memahami apa yang menyebabkan dihukum.

Tindakan menghukum anak adalah dalam rangka mengajari anak, bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya.

Hukumlah anak tetapi jangan menyakiti dia, banyak sekali orang tua menghukum anak tetapi yang terjadi adalah menyakiti anak.

Tetaplah berhati jernih ketika menghukum anak. Keputusan-keputusan yang baik dapat kita ambil pada hati yang jernih.

Kasih sayang mendahulukan kemarahan, meskipun kita menghukum kepada anak, tunjukan lah bahwa kita menghukumnya karena kasih sayang.

Penelitian-penelitian psikologi menunjukkan, bahwa kurangnya terselubung terhadap kasih sayang bapak cenderung melahirkan anak-anak yang menderita kecemasan, rasa tidak tentram, rendah diri, kesepian (meski di tengah kerumunan orang banyak), agresivitas (kecenderungan melawan orang tua) serta berbagai macam kelemahan mental lainnya. Sangat panjang akibat yang diruntut akibat kelaparan yang dirasakan anak terhadap kasih sayang bapak.

Anak yang baik adalah anak yang bersih imannya dan hidup pikirannya, pikirannya tidak akan pernah lahir oleh sikap kita yang keras dan tidak memberi mereka ruang untuk mencoba. Mereka tidak akan berani berinisiatif, apalagi menghadapi tantangan. Apabila tidak ada rasa aman, mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia kerdil, meski tubuhnya besar, kalau mereka tidak menerima penerimaan yang tulus. Hanya anak-anak yang memperoleh penerimaan tanpa syarat dari orang tualah yang akan dapat menerima dirinnya sendiri. Sehebat apapun anak kita kalau tidak memiliki penerimaan diri yang baik, akan mati.


Manfaat Keluarga Sakinah.

Kecenderungan untuk berkawin merupakan fitrah manusia, karena sudah menjadi naluri dan kebutuhan manusia itu sendiri. Secara biologis seseorang membutuhkan lawan jenisnya, dan secara sosial seseorang tidak bisa hidup sendiri. Untuk itu manusia selalu membutuhkan keluarga, dan dari keluarga ia akan hidup bermasyarakat. Dengan demikian, pernikahan sebagai pintu hidup berkeluarga mempunyai manfaat-manfaat bagi setiap manusia yang melaksanakannya. 

Adapun manfaat-manfaat dari pernikahan adalah :

Menyalurkan kebutuhan biologis yang bersih, sehat dan halal.

Menahan berbuat maksiat.

Memperoleh keturunan.

Meringankan kebutuhan hidup sehari-hari.

Meningkatkan Ibadah kepada Allah SWT.

Dari manfaat-manfaat pemikiran ini, maka secara umum dapat dijadikan ukuran untuk mengenai apakah suatu keluarga dapat mencapai keluarga yang damai dan bahagia. Sejauh mana suatu keluaraga dapat merasakan manfaat-manfaat tersebut, apakah hanya sebagian atau sempurna. Keluarga yang sakinah adalah keluarga yang dapat merasakan manfaat pernikahan tersebut secara optimal. 

Dalam keluarga yang sakinah, terjalin hubungan suami istri yang serasi dan seimbang, tersalurkan nafsu seksual dengan baik dijalan yang diridhai Allah SWT, terdidiknya anak-anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah, terpenuhinya kebutuhan lahir batin, terjalin hubungan persaudaraan yang akrab antara keluarga besar dari pihak suami dan dari pihak istri, dapat melaksanakan ajran agama dengan baik, dapat menjalin hubungan yang mesra dengan tetangga dan dapat hidup bermasyarakat dan bernegara secara baik pula.

Adapun yang menjadi ciri-ciri pokok dalam keluarga sakinah menurut pendapat ini adalah hubungan yang terjalin dengan baik, nafsu seksual dapat tersalurkan, mempunyai anak dan mendidiknya, tercukupi kebutuhan hidup lahiriyah dan batiniyah, mampu menjalin hubungan yang baik dengan para saudara dan masyarakat, serta menmabah rasa keimanan yang memotivasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, ada beberapa ciri-ciri keluarga sakinah dapat dilihat dan diklarifikasikan pada beberapa aspek, yaitu :

Aspek Lahiriyah.

Secara lihiriyah keluarga sakinah mempunyai ciri-ciri :

Tercukupinya kebutuhan hidup (kebutuhan ekonomi) sehari-hari.

Kebutuhan biologis antara suami dan istri tersalurkan dengan baik dan sehat.

Mempunyai anak dan dapat membimbing serta mendidik.

Terpeliharanya kesehatan setiap anggota keluarga.

Setiap anggota keluarga dapat melaksanakan fungsi dan peranannya dengan optimal.

Aspek Bathiniyah (Psikologis).

Setiap anggota keluarga dapat merasakan ketenangan dan kedamaian, mempunyai jiwa yang sehat dan pertumbuhan mental yang baik.

Dapat menghadapi dan meyelesaikan masalah keluarga dengan baik.

Terjalin hubungan yang penuh pengertian dan saling menghormati yang dilandasi dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Aspek Spiritual (keagamaan).

Setiap anggota keluarga mempunyai dasar pengetahuan agama yang kuat.

Meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.

Aspek Sosial.

Ditinjau dari aspek sosial, maka ciri keluarga sakinah adalah keluarga yang dapat diterima, dapat bergaul dan berperan dalam lingkungan sosialnya. Baik dengan tetangga maupun dengan masyarakat luas.

Belum ada Komentar

Posting Komentar