Karmuji.com | Penyuluh Agama Islam Tuban

PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG PERNIKAHAN NGLANGKAHI SAUDARA PEREMPUAN

 

 

PENDAHULUAN

Sistem sosial suatu kebudayaan dari unsur agama atau religi mewujudkan diri dalam bentuk berbagai upacara. Adanya keaneragaman upacara menunjukkan adanya daya serap yang berbeda dari kekuatan tradisi setempat di dalam penganutan agama. Tidak dapat dipungkiri bahwa tradisi dapat menjadi hukum. Setiap kebiasaan yang tidak bertentangan dengan hukum agama akan selalu diambil oleh masyarakat dan dijadikan sebuah hukum[1]. Begitu juga yang terdapat pada masyarakat Desa Karang Duren, yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan berlatar belakang adat Jawa. Masyarakat Desa Karang Duren merasa memiliki budaya spiritual dan patokan yang bersifat turun-temurun (dari para leluhur), baik karena terpengaruh oleh kehidupan atau sesuatu yang berhubungan dengan nenek moyang terdahulu. Walaupun nilai-nilai luhur tersebut diakui akan hilang dengan sendirinya, karena sebagai dampak dari kemajuan dan kecerdasan serta makin mendalamnya penghayatan agama.

Meskipun jaman sudah modern dan seiring dengan berkembangnya kemajuan baik dari segi teknologi maupun informasi, namun masyarakat Desa Karang Duren dalam melaksanakan sesuatu hal tertentu selalu mengambil dan menimbang apa-apa yang terbaik bagi mareka sendiri, baik itu menurut adat Jawa maupun hukum Islamnya. Oleh karena itu dalam pelaksanaan perkawinan mereka tidak hanya melaksanakan saja, tapi juga memperhatikan faktor-faktor atau hal-hal yang membuat perkawinan itu berjalan dengan baik. [2] Seperti halnya dalam pernikahan nglangkahi saudara perempuan, yakni apabila seorang adik perempuan mendahului kakaknya untuk menikah baik itu saudara laki-laki atau saudara perempuan.

Dalam hal ini masyarakat Desa Karang Duren percaya bahwa, apabila terjadi suatu pernikahan seorang adik mendahului kakaknya atau juga disebut dengan nglangkahi, maka pernikahan tersebut bukanlah pernikahan biasa dan harus ada ritual-ritual tertentu yang harus dilakukan sebagai syarat untuk merealisasikan pernikahan tersebut.[3] Salah satunya adalah ijin atau keihlasan dari saudara yang dilangkahi, yang dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah pernikahan tersebut dapat dilaksanakan atau tidak. [4]

Meskipun mereka memegang hukum Agama, tetapi mereka yakin bahwasanya sesuatu yang mereka yakini akan terjadi juga, sehingga mereka megikuti tradisi atau kepercayaan yang sudah turun temurun, karena jika tidak maka akan dinilai saru (tidak pantas).

Ini disebabkan karena dalam pelaksanaan pernikahan nglangkahi saudara terdapat pihak-pihak yang merasa dirugikan, terutama apabila saudara perempuannya yang dilangkahi. Karena jika hal demikian terjadi maka akan membawa aib bagi keluarga khususnya saudara perempuannya yang dilangkahi. Selain itu juga menimbulkan kepercayaan-kepercayaan yang sampai saat ini masih sangat dipercaya oleh penduduk setempat. Masyarakat mengatakan bahwa apabila terjadi pernikahan yang mana seorang adik mendahului saudara perempuannya (kakaknya), maka keluarga khususnya kakaknya akan tertimpa sial. Ini adalah sebagian mitos-mitos yang berkembang di masyarakat mengenai dampak pernikahan nglangkahi saudara perempuan.

Kebanyakan masyarakat akan mengatakan bahwa perempuan itu tidak laku dengan kata lain tidak ada yang akan mau melamarnya. Karena setiap orang memandang bahwa dia pasti kurang baik atau kurang layak untuk dijadikan seorang istri, terbukti dengan adik perempuannya yang menikah terlebih dahulu daripada dia (kakaknya). Maka setiap pemuda yang ingin melamar akan mengurungkan niatnya. Selain itu juga banyak orang yang mengatakan bahwa dia akan dijauhkan dari jodoh (jodohnya lama). Sebenarnya ini hanyalah penilaian masyarakat awam, yang tanpa memperhatikan alasan-alasan bagi mereka yang belum siap menikah. Karena sesungguhnya mereka memiliki alasan kuat yang membuat mereka tidak ingin melangsungkan pernikahan dan membiarkan adiknya untuk melaksanakan pernikahan terlebih dahulu.

Berdasarkan contoh diatas sebenarnya sangat bertentangan dengan agama khususnya Agama Islam, yang mana dalam agama Islam kejadian diatas sebenarnya diperbolehkan, karena melihat pada kemudlorotan-kemudlorotan yang ada. Artinya lebih baik kita menghindari sesuatu yang membuat kita kepada hal-hal yang dilarang oleh Agama, misalnya perbuatan zina. Rasulullah saw. bersabda:

4677 عن عَبْدُ اللَّهِ بن مسعود رضى الله عنه قَالَ: قال لنا رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

                                               

Artinya:

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a berkata: berkata Rasulallah saw.: “wahai para pemuda barang siapa yang telah mampu hendaknya menikah, sebab menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan, kalau belum mampu maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya.” (Mutafakun 'alaihi)[5]

 

Sebagaimana penjelasan hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya kalau si calon pengantin sudah berkehendak dan sudah mampu lahir-batinnya, maka janganlah menghalangi apa yang menjadi keinginan mereka, karena akan berakibat fatal kepada keduan-duanya (pihak laki-laki dan perempuan). Sebaliknya apabila memang belum mampu untuk melaksanakan pernikahan tersebut maka lebih baik berpuasa.

Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui apa sebenarnya pengaruh dari pernikahan nglangkahi saudara perempuan, sehingga menimbulkan kepercayaan-kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat akan merugikan bagi perempuan yang dilangkahi sampai saat ini. Untuk itu peneliti mengambil tema “Pemahaman  Masyarakat Tentang Pernikahan Nglangkahi Saudara Perempuan” (Studi di Desa Karang Duren Kec. Pakisaji Kab. Malang)

 

B.  Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, untuk mencapai target sesuai dengan yang di inginkan oleh penulis, maka penulis merasa perlu untuk mengidentifikasi masalah yang hendak dikaji. Masalah pernikahan nglangkahi saudara pada masyarakat Desa Karang Duren menimbulkan dampak yang sangat merugikan terutama pada subyeknya yakni saudara yang dilangkahi tersebut.

Oleh karena itu kami membuat suatu identifikasi, bahwa penelitian ini ingin mengulas seperti :

1.       Apa saja dampak yang ditimbulkan oleh pernikahan nglangkahi saudara perempuan khususnya bagi saudara yang dilangkahi pada masyarakat Desa Karang Duren.

2.       Bagaimana pandangan hukum Islam dan hukum adat Jawa dalam kaitannya dengan pernikahan nglangkahi saudara perempuan.

 

 

A.    Kajian Teori

a.  Pernikahan Adat Jawa

Perkawinan merupakan sesuatu yang sakral, agung dan monumental bagi setiap pasangan hidup. Karena itu pernikahan bukan hanya sekedar mengikuti agama dan meneruskan naluri para leluhur, untuk membentuk sebuah keluarga dalam ikatan hubungan yang sah antara laki-laki dan perempuan. Namun juga memiliki arti yang sangat mendalam dan luas bagi kehidupan manusia dalam menuju bahtera kehidupan seperti yang dicita-citakannya.

Pernikahan adalah sebuah ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri, dengan tujuan membentuk suatu keluarga bahagia dan kekal berdasarkan ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Yang mana dari pasangan tersebut akan terlahir keturunan-keturunan yang pada akhirnya mengisi dan mengubah warna kehidupan dunia ini.       

Pernikahan menurut masyarakat Jawa adalah hubungan cinta kasih yang tulus antara seorang pemuda dan pemudi, yang pada dasarnya terjadi karena sering bertemu antara kedua belah pihak, yakni perempuan dan laki-laki. Dalam suatu pepatah jawa mengatakan "tresno jalaran soko kulino" yang artinya cinta kasih itu tumbuh karena terbiasa. Dalam hukum adat, pernikahan selain merupakan suatu ikatan antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri, yang bertujuan untuk mendapatkan keturunan dan membangun serta membina kehidupan keluarga rumah tangga, tetapi juga berarti suatu hubungan hukum yang menyangkut para anggota kerabat dari pihak istri dan pihak suami.

Terjadinya pernikahan, berarti berlakunya ikatan kekerabatan untuk dapat saling membantu dan menunjang hubungan kekerabatan yang rukun dan damai.[6] Dalam buku “Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat” Soerojo Wignjodipoero mengatakan bahwa pernikahan merupakan peristiwa yang sangat penting dalam penghidupan masyarakat kita, karena pernikahan itu tidak hanya menyangkut laki-laki dan perempuan saja, namun juga melibatkan orang tua kedua belah pihak, saudara-saudaranya, bahkan keluarga-keluarga mereka masing-masing.[7] Selain itu dalam pelaksanaannya juga terdapat ketentuan-ketentuan yang merupakan suatu budaya yang selalu dilakukan, yang mana ini sudah dilakukan sejak dulu. Dari situ dapat diartikan bahwa campur tangan dari orang tua sangat berpengaruh sekali.

Pada zaman dahulu orang tua sering memaksa anak-anak mereka untuk menikah sesuai dengan pilihan mereka atau dengan kata lain melakukan perjodohan. Sering kali orang tua menjodohkan anaknya dengan orang yang masih ada hubungan keluarga. Dalam masyarakat Jawa, hal ini dinamakan nuntumake balong pisah, artinya menyatukan kembali tulang-tulang yang sudah terpisah. Jadi yang dimaksudkan disini yaitu menyatukan kembali hubungan keluarga yang jauh.[8]

Namun pada era modern ini kebiasaan-kebiasaan seperti itu sudah banyak ditinggalkan. Seorang anak sudah dapat menentukan siapa yang akan menjadi calon pasangannya. Akan tetapi tetap dengan pertimbangan dan izin dari orang tua. Adapun sistem pernikahannya disebut dengan “kawin bebas” artinya orang boleh kawin dengan siapa saja, sepanjang hal itu diizinkan dan sesuai dengan kesusilaan setempat di sepanjang peraturan yang digariskan oleh agama. Maksud dari sepanjang kesusilaan adalah pernikahan tadi tidak mengadatkan, tidak menentukan keharusan dengan siapa boleh menikah dan dengan siapa tidak boleh menikah.[9]

Meskipun demikian pihak orang tua masih menginginkan agar dalam mencari jodoh, anak-anak mereka memperhatikan beberapa  hal sebagaimana dikatakan orang Jawa “bibit, bobot, dan bebet” dari si laki-laki atau perempuan yang bersangkutan. Apakah bibit seseorang itu berasal dari keturunan yang baik, yang dapat dilihat dari sifat watak perilaku dan kesehatannya, sebagaimana keadaan orang tuanya, apakah anak itu bukan anak nakal dan sebagainya. Dan bagaimana pula bobotnya, harta kekayaan dan kemampuan serta ilmu pengetahuannya, apakah anak itu bukan anak yang tidak jelas asal usulnya dan sebagainya. Bagaimana pula bebetnya yakni apakah pria itu mempunyai pekerjaan, jabatan dan martabat yang baik.[10] 

Selain harus jelas bibit, bobot, dan bebet bagi si calon pasangan,orang tua biasanya juga memperhatikan berbagai perhitungan ritual lain, agar hubungan pernikahan tersebut dapat langgeng, bahagia dan dimudahkan rizkinya, yang pada akhirnya akan melahirkan anak-anak yang cerdas, patuh pada orang tua, serta taat beribadah. Dari sini jelas peranan orang tua atau keluarga dalam memberi petunjuk terhadap anak-anak mereka dalam mencari pasangan hidupnya masih terlihat mencolok. Hal ini masih sangat dipercayai khususnya oleh masyarakat Jawa. [11]

 

bAsas-Asas Pernikahan

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas bahwa pernikahan itu bukan hanya berarti suatu ikatan suami istri saja, akan tetapi merupakan suatu ikatan yang bertujuan untuk mendapatkan keturunan dan membangun serta membina kehidupan rumah tangga. Yang dari situ akan kita ketahui bahwa pernikahan itu  bukan hanya merupakan hubungan antara suami istri saja tetapi menyangkut hubungan para anggota kerabat baik dari pihak suami dan pihak istri. Dan dari hubungan tersebut akan menghasilkan keturunan yang sah menurut hukum  Islam, Negara dan hukum adat, dan ini sesuai dengan asas-asas pernikahan menurut hukum adat yakni sebagai berikut:

1.    Pernikahan bertujuan membentuk keluarga rumah tangga dan hubungan     kekerabatan yang rukun dan damai bahagia dan kekal.

2.    Pernikahan tidak saja harus sah dilaksanakan menurut hukum agama dan atau kepercayaan, tetapi juga harus mendapat pengakuan dari para anggota kerabat.

3.    Pernikahan juga harus didasarkan atas persetujuan orang tua dan anggota kerabat. Masyarakat adat dapat menolak kedudukan suami atau istri yang tidak diakui masyarakat adat.

4.    Pernikahan dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang belum cukup umur atau masih anak-anak. Begitu pula walaupun sudah cukup umur pernikahan harus berdasarkan izin orang tua / keluarga dan kerabat.

5.    Perceraian ada yang diperbolehkan dan ada yang tidak diperbolehkan. Karena akibat yang ditimbulkan oleh sebuah perceraian adalah pecahnya hubungan kekerabatan antara dua keluarga. [12]

 

c.   Syarat-Syarat Pernikahan 

Sahnya suatu pernikahan menurut hukum adat Jawa dapat dilaksanakan apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1.    Mempelai laki-laki

2.    Mempelai perempuan

3.    Wali, orang tua dari mempelai perempuan yang akan menikahkannya atau dapat digantikan dengan saudara kandung yang laki-laki dan juga wali hakim apabila orang tuanya sudah meninggal

4.    Perangkat desa yang kedatangannya dianggap sebagai saksi atas pernikahan tersebut.

5.    Saksi, diambil dari sauara dari kedua mempelai masing-masing.

6.    Keluarga kedua belah pihak, yang mana harus hadir ketika diresmikan sebuah pernikahan tersebut untuk memberikan restu terhadap kedua mempelai.

7.    Mahar, yang dapat berupa uang atau barang yang digunakan oleh calon istri.

Dalam hal syarat-syarat pernikahan sebenarnya antara hukum adat dan hukum Islam itu tidak jauh berbeda. Karena untuk dapat terlaksananya suatu pernikahan itu syarat utama yakni harus ada mempelai laki-laki dan perempuan. Selain itu antara kedua belah pihak harus mengetahui bagaimana keadaan dan kebiasaan keduanya. Kemudian harus diketahui pula apakah perempuan itu masih sendiri dalam arti belum menikah ataupun dalam pinangan seseorang, apakah si perempuan itu mau menikah dan tidak merasa terpaksa untuk menikah. Selain itu kehadiran seorang wali sangat dibutuhkan, karena seorang perempuan tidak bisa menikah sendiri harus ada wali nikahnya, meskipun wali nikah/ayahnya meninggal dapat digantikan saudara laki-lakinya.

Untuk terlaksananya suatu pernikahan juga dibutuhkan dua orang saksi diambil dari yang masih ada hubungan famili dengan kedua mempelai misalnya saudaranya atau pamannya. Selain itu kehadiran seorang perangkat desa juga sangat diperlukan karena kehadirannya itu juga dianggap sebagai saksi pernikahan. Dan inilah fungsi dari kehadiran keluarga atau kerabat yakni untuk menyaksikan pernikahan tersebut. Satu lagi yang tidak kalah pentingnya yakni adanya mahar berupa uang atau barang yang dapat digunakan oleh calon istri, yang dalam hukum Adatnya disebut dengan peningset.[13] Mahar atau dapat disebut dengan mas kawin adalah pemberian yang diberikan oleh calon suami kepada calon istri diwaktu datang pertama kali ke rumahnya dengan tujuan ingin menikahinya.[14]

 

d.  Tujuan Pernikahan

Bagi masyarakat Jawa pernikahan bukan hanya merupakan ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri dalam pembentukan suatu keluarga bahagia, kekal dan sejahtera berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi adanya pernikahan tersebut bertujuan untuk mendapatkan keturunan yang akan menjadi penerus silsilah keluarga dan kerabat, menurut garis ayah atau ibu atau garis orang tua. Karena adanya silsilah yang menggambarkan kedudukan seseorang sebagai anggota kerabat, adalah merupakan barometer dari asal usul keturunan seseorang yang baik dan teratur.[15]

Selain harus jelas bibit, bobot dan bebetnya bagi si calon pasangan, berbagai perhitungan ritual lain harus pula diperhitungkan agar pernikahan itu bisa lestari, bahagia, dan dimurahkan rizkinya oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan pada akhirnya akan melahirkan anak-anak yang cerdas, patuh kepada kedua orang tuanya, serta taat beribadah.

 

1.      Pernikahan Menurut Hukum Islam  

a.      Pengertian Pernikahan

Al-nikah berasal dari lafazh nakaha, yankihu, nahkan, nikahan, adalah sinonim dengan kalimat zawaj yang berasal dari lafazh zawwaja, yuzawwiju, tazwiej, zawaaj. [16]Nikah menurut bahasa mempunyai arti sebenarnya dan arti kiasan. Arti yang sebenarnya dari kata “nikah” berarti berkumpul, sedang menurut kiasan berarti watha’ yang artinya bersetubuh.[17] Jadi nikah merupakan suatu akad yang menghalalkan pergaulan antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dan menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya.

Dalam pengertian yang luas, pernikahan merupakan suatu ikatan lahir antara dua orang, laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan keturunan yang dilangsungkan menurut ketentuan-ketentuan syari’at. Pernikahan adalah suatu asas yang paling utama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna.[18] Pernikahan bertujuan mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan agar hubungan tersebut dilandasi dengan keridhoan dan kehormatan. Tuhan tidak menjadikan manusia seperti manusia lainnya yang bebas berhubungan antara lawan jenis tanpa adanya aturan seperti hewan maupun tumbuhan. Karena pernikahan adalah salah satu sunnatullah yang berlaku pada semua makhkluk Tuhan, baik pada manusia, hewan dan tumbuhan. Sebagaimana firman Allah swt. surat adz-dzariyat ayat 49

`ÏBur Èe@à2 >äóÓx« $oYø)n=yz Èû÷üy`÷ry ÷/ä3ª=yès9 tbr㍩.xs? ÇÍÒÈ        

"Dan dari segala sesuatu yang kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah".(Q.S. Adz-Dzariyat, 49)[19]

z`»ysö6ß Ï%©!$# t,n=y{ ylºurøF{$# $yg¯=à2 $£JÏB àMÎ7/Yè? ÞÚöF{$# ô`ÏBur óOÎgÅ¡àÿRr& $£JÏBur Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÏÈ

"Maha suci Allah SWT yang telah menjadikan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang di tumbuhkan di bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui ". (Q.S. Yasin, 36)[20]

Persoalan pernikahan adalah persoalan manusia yang banyak seginya, mencakup seluruh segi kehidupan manusia, mudah menimbulkan emosi dan perselisihan. Karena itu adanya kepastian hukum bahwa telah terjadinya suatu pernikahan sangat diperlukan. Dalam hal ini terjadinya suatu akad atau perjanjian pernikahan mudah diketahui dan mudah diadakan alat-alat buktinya, sedangkan apabila telah terjadi suatu persetubuhan sulit untuk mengetahui dan sukar membuktikannya.[21] Oleh karenanya pernikahan dalam Islam mempunyai beberapa segi, antara lain:

1.      Segi ibadah/religius

Pernikahan dalam Islam dipahami dari tujuan, hikmah, dan prinsip-prinsipnya adalah suatu ibadah yang berarti pelaksanaan Syar’i, sebagai suatu ketaatan hambanya kepada sang Kholik. Dalam ajaran Islam diterapkan aturan yang rinci dalam pernikahan, akibat yang mungkin terjadi selama dan setelah terputusnya pernikahan. Oleh karenanya melaksanakan sebagian dari ibadah berarti telah menyempurnakan sebagian dari agama. .[22]

2.      Segi hukum

Pernikahan sebagaimana yang disyari’atkan Islam merupakan suatu perjanjian yang kuat. Sebagai suatu perjanjian, pernikahan mempunyai beberapa sifat:

a.          Pernikahan tidak dapat dilangsungkan tanpa persetujuan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan pernikahan itu.

b.      Akibat pernikahan, masing-masing pihak yang berkepentingan dengan pernikahan itu terikat oleh hak-hak dan kewajiban.

c.          Ketentuan-ketentuan dalam persetujuan itu dapat dirubah sesuai dengan persetujuan masing-masing pihak selama tidak melanggar batas-batas yang ditentukan oleh agama.

2.      Segi sosiologis   

Pernikahan merupakan salah satu unsur utama terbentuknya masyarakat yang baik. Sebab pernikahan adalah sebagai ikatan yang sangat kuat antara laki-laki dan perempuan yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Dengan pernikahan maka akan saling mengenal antara satu sama lainnya, baik dengan pasangan kita sendiri ataupun dengan keluarga pasangan kita beserta lingkungan sekitarnya. Sehingga dengan demikian kita dapat menyatu dalam keharmonisan, kebersamaan dalam menghadapi tantangan dan rintangan hidup.[23]

3.      Segi psykologis

Dengan pernikahan kita diajarkan untuk selalu menjadi orang yang bertanggung jawab akan segala sesuatu yang terjadi. Dan dari rasa tanggung jawab dan perasaan kasih sayang terhadap keluarga inilah timbul suatu keinginan untuk mengubah kearah yang lebih baik dengan berbagai cara, yang menuntut kita untuk sealu kreatif dan produktif. Sehingga tercapai kehidupan yang mawaddah wa rohmah. Selain itu dengan adanya pernikahan maka akan terbebas dari pandangan dan persangkaan yang tidak baik. Karena tidak adanya ikatan pernikahan dapat menimbulkan fitnah bagi pasangan pemuda dan pemudi.

4.      Segi biologis

Tujuan pernikahan ditinjau dari segi personal yaitu untuk penyaluran kebutuhan biologi dan reproduksi generasi. Sebagaimana kita tahu libido seksualitas  merupakan fitrah manusia dan juga fitrah mahluk hidup lainnya, dan sama-sama membutuhkan pelampiasan terhadap lawan jenisnya. Adapun yang membedakannya adalah dalam pelaksanaan kebutuhan tersebut yakni manusia dituntut untuk mengikuti aturan agama, moralitas agama sedangkan hewan tidak hewan tidak dituntut seperti itu.

 

 

 

b.      Rukun dan Syarat Pernikahan

Rukun-rukun dalam pernikahan itu ada lima yaitu: calon suami, calon istri, wali, dua orang saksi dan ijab qabul. Namun dari kelima rukun pernikahan tersebut yang paling penting adalah ijab qabul antara yang mengakadkan dengan yang menerima akad tersebut. Sedangkan syarat-syarat pernikahan adalah syarat yang bertalian dengan rukun-rukun pernikahan, yaitu syarat-syarat yang menyangkut bagi calon mempelai, wali, saksi dan ijab qabul. Rukun dalam pernikahan itu antara lain:

1.      Calon suami

      Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh calon suami antara lain:

a.       Bukan muhrim dari calon istri

b.      Tidak terpaksa artinya atas kemauan sendiri

c.       Orangnya tertentu atau jelas orangnya

d.      Tidak sedang melakukan ihram atau haji

Kata muhrim ini jelas menunjukkan bahwa seorang wanita itu tidak boleh menikah dengan laki-laki yang masih ada hubungan saudara. Karena pernikahannya itu akan menjadi terlarang dan tidak sah baik menurut agama atau masyarakat adat sekalipun. Selain atas kemauan sendiri atau tidak dipaksa oleh kedua orang tuanya, laki-laki tersebut juga harus jelas keberadaan dan statusnya. 

2.      Calon istri

      Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh calon istri antara lain:

a.       Tidak dalam ikatan pernikahan dengan orang lain atau tidak bersuami

b.      Bukan perempuan yang sedang dalam keadaan iddah

c.       Antara laki-laki dan perempuan tersebut bukan muhrim

d.      Harus atas kemauan sendiri (tidak dipaksa)

e.       Harus jelas orangnya

f.       Tidak sedang melakukan ihram atau haji [24]

Meskipun perempuan pada waktu akad nikah tidak dapat melakukan sendiri pernikahannya tetapi harus dilakukan oleh wali, namun kerelaan perempuan yang dinikahkan adalah merupakan suatu keharusan. Seorang wali harus meminta ijin dan kerelaan perempuan yang akan dinikahkan tersebut. Itu adalah salah satu syarat yang mutlak harus dilakukan. Selain itu perempuan tersebut juga tidak boleh sedang dalam ikatan pernikahan atau masih menjadi istri orang lain. Meskipun sudah cerai baik itu cerai mati ataupun cerai biasa dalam artian berpisah dengan suaminya, untuk menikah dengan perempuan tersebut harus menunggu masa iddahnya habis.

3.      Wali

Wali adalah bapak kandung wanita, penerima wasiat, atau kerabat terdekat dan seterusnya sesuai dengan urutan ashabah wanita tersebut, atau orang bijak dari keluarga wanita tersebut, atau pemimpin setempat, karena Rasulallah bersabda

1871 عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ.

 Dari Abi Burdah dari Abi Musa berkata, berkata Rasulallah saw.:“Tidak ada nikah kecuali dengan wali”. (HR. Ibnu Majah).[25]

Wali yang dapat mengakadkan nikah ada dua yakni wali nasab dan wali hakim. Imam Syafi’I berkata bahwa pernikahan seorang perempuan tidak sah kecuali apabila dinikahkan oleh wali aqrab (dekat). Apabila tidak ada wali aqrab maka dinikahkan oleh wali ab’ad (jauh), kalau tidak ada dinikahkan oleh wali hakim. Wali nasab adalah wali yang ada hubungan darah dengan perempuan yang akan dinikahkan, yaitu: ayah dari perempuan yang akan dinikahkan itu dan kakek (ayah dari ayah mempelai perempuan).

Mereka diberikan hak untuk menikahkan anaknya yang masih perawan (bikr) dengan tanpa ijin dari anaknya terlebih dahulu, dengan orang yang dianggapnya baik. Apabila anaknya sudah janda maka tidak boleh, kecuali dengan mendapatkan ijin terlebih dahulu. Sedangkan wali-wali yang selain ayah dan kakek tidak berhak menikahkan mempelainya kecuali sesudah mendapat ijin dari pengantin yang berangkutan.[26] Sabda Rasulallah saw.:

1025 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْكَحُ الثَّيِّبُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ وَإِذْنُهَا الصُّمُوتُ

Artinya:

 “{Dari Abi Hurairoh ra., bahwasanya Rasulallah saw. telah bersabda: “tidak boleh dinikahkan seorang janda hingga ia mengizinkan, dan perawan tidak boleh dinikahkan hingga ia dimintai izinnya”. Sahabat-sabahat bertanya: Ya Rasulallah bagaimanakah izinnya itu? Beliau bersabda: “Diamnya”.” (HR. Tirmidzi)[27]

 

Adapun hukum-hukum bagi wali adalah sebagai berikut:

  1. Orang yang layak menjadi wali adalah: laki-laki, baligh, berakal, sehat dan merdeka, bukan budak.
  2. Hendaklah ia meminta izin kepada walinya jika wanita itu seorang gadis dan walinya bapaknya sendiri, atau meminta pendapatnya jika wanita itu seorang janda, atau seorang gadis, tetapi walinya bukan bapaknya sendiri, berdasarkan sabda Rasulallah saw.

2545 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَيِّمُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ تُسْتَأْذَنُ فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا قَالَ نَعَمْ

Dari Ibnu Abbas bahwa sesungguhnya Rosulallah saw. bersabda:Janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya dan gadis harus dimintai izinnya dan izinnya itu ialah diamnya” (HR. Muslim)[28]

  1. Perwalian seorang kerabat dihukumi tidak sah dengan adanya wali yang lebih dekat kepada wanita tersebut. Jadi tidak sah perwalian saudara sebapak dengan adanya saudara yang sekandung, atau perwalian anak saudara dengan adanya saudara.
  2. Jika seorang wanita mengizinkan kepada dua orang kerabatnya supaya menikahkan dirinya dan masing-masing dari keduanya menikahkannya dengan orang lain, maka wanita itu menjadi istri dari laki-laki yang lebih dahulu dinikahkan dengannya dan jika akad dilaksanakan pada waktu yang sama, maka pernikahan wanita itu dengan kedua laki-laki tersebut dihukumi batal.[29]

Sedangkan wali hakim ialah kepala Negara yang beragama Islam, dan dalam hal ini biasanya kekuasannya di Indonesia dilakukan oleh Kepala Pengadilan Agama, ia dapat mengangkat orang lain menjadi hakim biasanya yang diangkat kepala KUA (Kantor Urusan Agama) kecamatan untuk mengaqadkan nikah perempuan yang berwali hakim. Sabda Rasulullah saw.:

1021 عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

Artinya:

Dari Aisyah ra., ia berkata: Rasulallah saw. Bersabda: “siapapun perempuan yang menikah tanpa seizin walinya, maka batallah pernikahannya dan jika ia telah bercampur, maka maskawinnya itu bagi perempuan itu, lantaran ia telah menghalalkan kemaluannya dan jika terdapat pertengkaran antara wali-wali, maka sultanlah yang menjadi wali bagi orang yang tidak mempunyai wali”. (HR. Imam yang empat kecuali Nasa’i dan disahkan oleh abu ‘Awanah dan Ibnu Hibba serta Hakim)[30] 

 

Sesungguhnya perwalian hanya dapat dilakukan oleh wali nasab dan tidak dapat berpindah kepada wali lain atau wali hakim, kecuali apabila terdapat sebab-sebab yang dapat diterima. Hal-hal yang menyebabkan hak menjadi wali dapat berpindah kepada hakim yaitu:

a.       Apabila tidak ada wali nasab

b.      Tidak cukup syarat bagi wali yang lebih dekat dan wali yang lebih jauh tidak ada.

c.       Wali yang lebih dekat ghaib sejauh perjalanan safar yang memperbolehkan mengqhosor sholat.

d.      Wali yang lebih dekat sedang melakukan ihrom atau mengerjakan haji atau umrah.

e.       Wali yang lebih dekat masuk penjara dan tidak dapat dijumpai.

f.       Wali yang lebih dekat menolak, tidak mau menikahkan.

g.      Wali yang lebih dekat hilang tidak diketahui tempat tinggalnya.

Dari sini dapat diketahui bahwa betapa pentingnya peranan seorang wali, karena adanya wali itu untuk menjaga hubungan rumah tangga anak dengan orang tua, dan juga karena orang tua itu biasanya lebih tahu tentang bakal jodoh anaknya.[31] Rasulallah saw., bersabda:

156 عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا عَلِيُّ ثَلَاثٌ لَا تُؤَخِّرْهَا الصَّلَاةُ إِذَا آنَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدْتَ لَهَا كُفْئًا

Artinya:

Dari Ali bin Abi bahwa sesungguhnya Rosulallah saw. bersabda: “Ya Ali Tiga perkara yang tidak boleh ditunda-tunda yaitu: sholat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila telah hadir dan janda (orang yang tidak bersuami atau beristri ) apabila telah mendapat orang yang sekufu’.” (HR. Tirmidzi) [32]

4.      Dua orang saksi

Pernikahan hendalah dihadiri dua orang saksi atau lebih dari kaum laki-laki yang adil dari kaum muslimin. Allah berfirman dalam surat At-Thalaq ayat 2 yakni:

(#rßÍkô­r&ur ôursŒ 5Aôtã óOä3ZÏiB (#qßJŠÏ%r&ur noy»yg¤±9$# ¬! ……….

 “.......Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.”[33]

Adapun tujuan diadakannya dua orang saksi dalam pernikahan yaitu untuk menjaga apabila ada tuduhan atau kecurigaan dari orang lain terhadap pergaulan mereka. Selain itu juga untuk menguatkan janji mereka berdua, begitu pula terhadap keturunannya. [34]Adapun ketentuan-ketentuan hukum bagi kedua orang saksi  adalah sebagai berikut:

a.       Saksi nikah terdiri dari dua orang atau lebih.

b.      Kedua orang saksi nikah hendaklah orang yang adil, yang dibuktikannya dengan meninggalkan dosa-dosa besar dan kebanyakan dosa kecil.

c.       Di masa sekarang ini hendaklah jumlah saksi diperbanyak, karena sedikitnya jumlah orang yang adil.[35]

5.      Shighat akad nikah

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa rukun yang paling pokok dalam pernikahan adalah ridhonya laki-laki dan perempuan, dan persetujuan mereka untuk mengikat hidup berkeluarga. Karena perasaan ridho dan setuju bersifat kejiwaan yang tak dapat dilihat, karena itu harus ada perlambang yang tegas untuk menunjukkan kemauan untuk mengadakan ikatan bersuami istri.

Perlambang itu diutarakan dengan kata-kata oleh kedua belah pihak yang mengadakan akad. Pernyataan yang menunjukkan kamauan untuk membentuk hubungan suami istri disebut “ijab”. Dan pernyataan yang dinyatakan oleh pihak yang mengadakan akad berikutnya untuk menyatakan rasa ridha dan setujuinya disebut “qabul”.

Untuk dapat terjadinya akad yang mempunyai akibat hukum pada suami istri haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a.          Kedua belah pihak sudah tamyiz. Apabila salah satu pihak ada yang gila atau masih kecil dan belum tamyiz (dapat membedakan yang benar dan salah), maka pernikahannya tidak sah.

b.      Ijab qabulnya dalam satu waktu. Maksudnya yakni dalam pengucapan ijab qabul tidak boleh ada tenggang waktu.

c.          Hendaklah ucapan tidak menyalahi ucapan ijab, kecuali kalau lebih baik dari ucapan ijabnya sendiri yang menunjukkan pernyataan persetujuannya lebih tegas.

d.      Pernyataan atau pengucapan ijab qabul harus jelas dan tegas sehingga dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. [36]

Ketika pengucapan ijab qabul diisyaratkan juga yaitu hendaknya menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh orang yang melakukan akad, penerima akad dan saksi.[37] Beberapa ketentuan hukum shighot yakni:

a.  Setaranya calon suami dengan calon istri, dimana calon suaminya adalah orang merdeka (bukan budak), beragama serta amanah (jujur).

b. Perwakilan diperbolehkan di dalam akad nikah. Jadi seorang calon suami diperbolehkan mewakilkan kepada siapa saja yang dikehendakinya di dalam akad nikah. Sedangkan calon istri, walinya adalah orang yang melangsungkan akad nikahnya.[38]

Adapun terkadang seorang wanita itu terkadang menentukan beberapa syarat yang diajukannya kepada seorang laki-laki yang melamarnya. Jika persyaratan yang diajukan menguatkan akad nikah seperti: mengajukan persyaratan berupa nafkah, tentang hubungan seks, atau jatah pembagian hari apabila suaminya itu beristri lebih dari satu, maka persyaratan itu telah tercakup di dalam tujuan nikah itu sendiri sehingga persyaratan seperti itu tidak diberlakukan lagi. Sedangkan jika persyaratan yang diajukan itu  merusak akad nikah, seperti: tidak mau melayani suaminya selayaknya suami istri, tidak menyediakan makanan bagi suaminya dan lain sebagaimanya, maka persyaratan yang demikian itu dianggap batal serta tidak diwajibkan memenuhinya, karena bertentangan dengan tujuan menikah.

Jadi apabila seorang istri membuat persyaratan-persyaratan yang tidak sampai menghalalkan apa-apa yang diharamkan, dan sebaliknya tidak mengharamkan apa-apa yang dihalalkan baginya,maka suaminya harus memenuhinya. Jika tidak maka seorang istri dapat membatalkan pernikahannya apabila ia menghendakinya,[39] ini berdasarkan hadist Rasulallah saw.,:

4754 عَنْ عُقْبَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَقُّ مَا أَوْفَيْتُمْ مِنْ الشُّرُوطِ أَنْ تُوفُوا بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الْفُرُوجَ

 Dari ‘Uqbah dari Rasulallah saw. berkata:“Syarat yang paling berhak untuk dipenuhi adalah syarat yang menyebabkan kamu dihalalkan atas kemaluanmu (wanita)”. (Muttafaq ‘Alaih; Al-Bukhori: 4754, Muslim: 1418).[40]

 

c.          Larangan Pernikahan Dalam Islam

Tidak semua perempuan boleh dinikahi, tetapi syarat perempuan yang boleh dinikahi hendaklah dia bukan orang yang haram bagi laki-laki yang akan menikahinya. Larangan pernikahan dengan seorang perempuan itu ada dua macam, pertama larangan muabbad, yaitu larangan untuk dinikahi selamanya. Kedua, larangan muaqqat, yaitu larangan pernikahan dengan seorang perempuan selama perempuan tersebut masih dalam keadaan tertentu. Apabila keadaan itu berubah maka larangan itu tercabut dan perempuan itu menjadi halal untuk dinikahi.

Larangan pernikahan yang untuk selamanya (muabbad) itu disebabkan oleh tiga hal:

1.      Karena ada hubungan nasab

Perempuan yang haram dinikahi karena adanya hubungan nasab antara lain:

a.       Ibu

b.      Anak perempuan

c.       Saudara perempuan

d.      Bibi dari pihak ayah (‘ammah)

e.       Bibi dari pihak ibu (khalah)

f.       Anak perempuan dari saudara laki-laki (kemenakan)

g.      Anak perempuan dari saudara perempuan                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              

2.      Ada hubungan mushaharah (perkawinan)

Perempuan yang haram dinikahi sebab adanya hubungan pernikahan yaitu:

a.      Ibu dari istri (ibu mertua), nenek dari pihak ibu dan dari pihak ayah dan ke atas, sebagaimana firman Allah

“Dan ibu-ibu istri kamu”(Q.S. An-Nisa’, ayat 23). [41]

b.      Anak perempuan dari istri yang sudah digaulinya atau anak tiri, termasuk cucu tiri perempuan dan terus ke bawah. Sebagaimana firman Allah swt.,“Anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya ...” (Q.S. An-Nisa’, ayat 23). [42]

 

c.       Istri anaknya (menantu) atau istri cucu dan seterusnya. Firman Allah swt.,Nà6Î7»n=ô¹r&

 “dan istri-istri anak kandungmu” (Q.S. An-Nisa’, ayat 23). [43]

d.      Istri ayah (ibu tiri), diharamkan seorang laki-laki menikahi janda ayahnya meskipun si ayah belum pernah menyetubuinya.

Ÿwur (#qßsÅ3Zs? $tB yxs3tR Nà2ät!$t/#uä šÆÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# žwÎ) $tB ôs% y#n=y 4 ¼çm¯RÎ) tb$Ÿ2 Zpt±Ås»sù $\Fø)tBur uä!$yur ¸xÎ6y ÇËËÈ  

 “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (Q.S. An-Nisa’, ayat 22). [44]

3.      Karena ada hubungan sesusuan

Larangan karena hubungan sesusuan sama seperti haram karena adanya hubungan nasab, sebagaimana yang diterangkan dalam firman Allah swt.,

ôMtBÌhãm öNà6øn=tã öNä3çG»yg¨Bé& öNä3è?$oYt/ur öNà6è?ºuqyzr&ur öNä3çG»£Jtãur öNä3çG»n=»yzur ßN$oYt/ur ˈF{$# ßN$oYt/ur ÏM÷zW{$# ãNà6çF»yg¨Bé&ur ûÓÉL»©9$# öNä3oY÷è|Êör& Nà6è?ºuqyzr&ur šÆÏiB Ïpyè»|ʧ9$#

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan [281]; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu dan  saudara perempuan sepersusuan”(Q.S. An-Nisa’, ayat 23).[45]

 

karena perempuan yang menyusui menempati kedudukan seperti ibunya sendiri dan ia haram dikawini oleh laki-laki karena adanya hubungan sesusuan sama seperti kalau ada pertalian nasab. [46]

Larangan pernikahan dalam waktu tertentu (muaqqat) itu disebabkan oleh enam hal sebagai berikut: 

  1. Memadu dua orang perempuan yang bersaudara.

Diharamkan memadu antara dua orang bersaudara, baik kandung atau dengan bibi dari ayah atau dengan bibi dari ibunya. Sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 23:

br&ur (#qãèyJôfs? šú÷üt/ Èû÷ütG÷zW{$# žwÎ) $tB ôs% y#n=y 3

“Dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau.”[47]

  1. Istri orang lain atau bekas istri orang lain yang sedang dalam masa iddah.

Diharamkan bagi orang Islam menikahi istri orang lain atau bekas istri orang lain yang sedang iddah, karena memperhatikan hak suaminya, sebagaimana firman Allah swt.,

* àM»oY|ÁósßJø9$#ur z`ÏB Ïä!$|¡ÏiY9$# žwÎ) $tB ôMs3n=tB öNà6ãY»yJ÷ƒr& ( |

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki”(Q.S. An-Nisa: 24)[48]

  1. Perempuan yang dithalak tiga kali.

Perempuan yang telah dithalak tiga kali tidak halal bagi suaminya yang pertama, sebelum ia dinikahioleh laki-laki lain dengan pernikahan yang sah.

  1. Orang yang sedang ihram

Orang yang sedang ihram (laki-laki ataupun perempuan) haram menikah, baik dilakukannya sendiri atau diwakilkan atau dikuasakan kepada orang lain. Pernikahan oleh orang yang sedang ihram bathal, dan segala akibat hukumnya tidak berlaku.

  1. Menikah dengan budak, padahal mampu menikah dengan perempuan merdeka.

Jumhur ‘Ulama berpendapat bahwa tidak diperbolehkan laki-laki merdeka menikah dengan budak perempuan, kecuali dengan syarat:

(1)   Karena tidak mampu manikah dengan perempuan merdeka.

(2)   Takut terjerumus dalam zina

Sebagaimana firman Allah Q.S. An-Nisa’: 25

`tBur öN©9 ôìÏÜtGó¡o öNä3ZÏB »wöqsÛ br& yxÅ6Ztƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# ÏM»oYÏB÷sßJø9$# `ÏJsù $¨B ôMs3n=tB Nä3ãZ»yJ÷ƒr& `ÏiB ãNä3ÏG»uŠtGsù ÏM»oYÏB÷sßJø9$# 4

 “Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki.”. [49]

 

 

 

  1. Menikah dengan perempuan zina.

Tidak dihalalkan menikah dengan perempuan zina, begitu pula bagi perempuan tidak halal menikah dengan laki-laki zina, terkecuali sesudah mereka bertaubat, alasan-alasannya adalah:

a.       Allah mensyaratkan agar kedua orang laki-laki perempuan yang mau menikah betul-betul menjaga kehormatannya.

b.      Dibolehkan menikah dengan budak perempuan bilamana tidak sanggup menikah dengan perempuan merdeka.

  1. Menikah dengan bekas istri yang pernah dilaknati.

Tidak halal bagi seorang laki-laki menikah kembali bekas istrinya yang sama-sama mengadakan sumpah palaknatan, karena bila telah terjadi saling sumpah pelaknatan seperti ini, maka perempuan tadi haram baginya untuk selama-lamanya.

  1. Menikah dengan perempuan musrik.

Para ulama sepakat bahwa laki-laki muslim tidak halal menikah dengan perempuan penyembah berhala, perempuan zindiq, perempuan keluar dari islam, penyembah sapi, perempuan beragama politeisme (manunggaling kawula lan gusti)[50]

Secara garis besar dapat kita fahami bahwa tujuan ajaran Islam mensyari’atkan pernikahan adalah untuk membentuk keluarga muslim yang bahagia dan diridhoi oleh Allah. Namun apabila melaksanakan pernikahan dengan tidak ada maksud untuk mencapai tujuan tersebut, maka pernikahan itu merupakan pernikahan yang menyimpang dari yang telah disunnahkan Rasulallah saw. dan tidak sesuai dengan syari’at agama islam.

Diantara tanda-tanda pernikahan yang telah menyimpang dari tujuan ialah pernikahan yang semata-mata untuk memuaskan hawa nafsu saja, bukan untuk melanjutkan keturunan, bukan untuk membentuk keluarga muslim yang bahagia dan yang diridhoi Allah, namun pernikahan untuk waktu-waktu tertentu saja dan sebagainya [51]seperti:

1.      Nikah mut’ah

Kata mut’ah adalah term bahasa Arab yang berasal dari kata ma-ta-‘a yang secara etimologi berarti kesenangan, alat perlengkapan dan pemberian. Dalam istilah hukum biasa disebutkan bahwa nikah mut’ah adalah pernikahan untuk masa tertentu. Dalam arti pada waktu dinyatakan masa tertentu yang bila masa itu telah datang, maka pernikahan terputus dengan sendirinya. Nikah mut’ah itu waktu ini masih dijalankan oleh penduduk Iran yang bermadzhab Syi’ah Imamiyah dan disebut dengan nikah munqati’.[52] Bentuk hakiki dari nikah mut’ah itu sebagaimana terdapat dalam literatur fiqh Syi’ah Imamiyah adalah sebagai berikut:

a.       Ada akad nikah dalam bentuk ijab dan qabul antara pihak yang berakad.

b.      Ada wali bagi perempuan yang belum dewasa, sedangkan yang telah dewasa tidak perlu ada wali dan wali itu diutamakan laki-laki.

c.       Ada saksi sebanyak dua orang yang memenuhi syarat.

d.      Ada masa tertentu untuk ikatan perkawinan baik diperhitungkan dengan tahun, bulan, minggu bahkan bilangan hari, yang masa ini disebutkan secara jelas dalam akad.

e.       Ada mahar  yang ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama.

f.       Tidak ada peristiwa talak., karena putus pernikahannya terjadinya dengan sendirinya setelah waktu yang ditentukan berakhir.

g.      Bila salah seorang dari suami istri mati dalam masa yang ditentukan tidak ada saling mewaris, kecuali bila disyaratkan dalam akad. Anak yang lahir adalah anak sah dan berhak menerima warisan.

h.      Perempuan yang telah putus pernikahannya karena berakhirnya waktu mesti menjalani masa iddah yang bagi perempuan haid selama dua kali haid, bagi yang kematian suami selama 4 bulan sepuluh hari, sedangkan bagi yang hamil sampai melahirkan.[53]

Dari uraian di atas terlihat bahwa dari segi rukun nikah tidak ada yang terlanggar, namun dari segi persyaratan ada yang tidak terpenuhi yaitu ada masa tertentu bagi umur pernikahan, sedangkan tidak adanya masa tertentu itu merupakan salah satu syarat dari akad. Perbedaan lainnya dari pernikahan biasa adalah tidak terbatasnya perempuan yang dapat dikawini secara nikah mut’ah, sedangkan pada pernikahan biasa dibatasi empat orang dengan syarat dapat berlaku adil.

 

 

 

2.      Nikah tahlil atau muhallil 

Nikah tahlil atau muhallil adalah nikah yang tujuannya untuk menghalalkan bekas istrinya yang telah ditalak tiga kali bagi suami yang telah mentalaknya itu, sehingga mereka dapat menikah kembali.

Bila seseorang telah menceraikan istrinya sampai tiga kali, baik dalam satu masa atau berbeda masa, si suami tidak boleh lagi menikah dengan bekas istrinya itu kecuali bila istrinya itu telah menikah dengan laki-laki lain dengan pernikahan yang sebenarnya, kemudian bercerai atau suami kedua meninggal dunia dan telah habis masa iddahnya.[54] Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 230:

bÎ*sù $ygs)¯=sÛ Ÿxsù @ÏtrB ¼ã&s! .`ÏB ß÷èt/ 4Ó®Lym yxÅ3Ys? %¹`÷ry ¼çnuŽöxî 3 bÎ*sù $ygs)¯=sÛ Ÿxsù yy$uZã_ !$yJÍköŽn=tæ br& !$yèy_#uŽtItƒ bÎ) !$¨Zsß br& $yJŠÉ)ムyŠrßãn «!$# 3 y7ù=Ï?ur ߊrßãn «!$# $pkß]ÍhŠu;ム5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôètƒ ÇËÌÉÈ

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.[55]

 

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa pernikahan tahlil itu batal atau nikah yang fasid baik ditinjau dari segi adanya larangan dan laknat bagi pelakunya, maupun dari segi adanya kesalahan dalam akad, yaitu menggunakan syarat. Ulama Hanafiyah berpendapat dalam akad bahwa ditinjau dari segi nikahnya sendiri sebenarnya sah, tetapi karena syarat yang terdapat dalam akad itu, maka yang batal hanya syaratnya saja dalam arti yang berlangsung adalah pernikahan biasa. Menurut Imam Syafi’iy nikah tahlil dalam bentuk pertama dan kedua tidak sah, namun dalam bentuk ketiga ada ucapan Syafi’iy yang mengatakan sah.

Apabila persyaratan itu dilakukan sebelum akad pernikahan tetapi tidak disebutkan dalam rumusan akad, kecuali hanya diniatkan saja, kebanyakan ulama berpendapat bahwa yang demikian juga termasuk nikah tahlil dengan arti tidak sah pernikahannya. Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’iy berpendapat pernikahan dalam bentuk itu adalah sah karena  dalam akad pernikahan tidak terdapat adanya persyaratan. Akad pernikahan hanya batal dengan apa yang disyaratkan dan tidak dengan apa yang diniatkan. [56]

4.      Nikah syighar

Nikah syighar adalah perbuatan dua orang laki-laki yang saling menikahi anak perempuan dari laki-laki lain dan masing-masing menjadikan pernikahan itu sebagai maharnya. Dalam bentuk nyatanya ialah sebagai berikut: seorang laki-laki berkata sebagai ijab kepada seorang laki-laki lain: “saya nikahkan anak perempuan saya bernama si A kepadamu dengan mahar saya menikahi anak perempuanmu yang bernama si B”.

Dalam bentuk pernikahan tersebut di atas yang menjadi maharnya adalah perbuatan menikahkan anaknya kepada seseorang, dalam arti kehormatan  anaknya yang dirasakan oleh orang yang menikahi itu. Kedua perempuan yang dinikahkan oleh walinya itu sama sekali tidak menerima dan merasakan mahar dari pernikahan tersebut, sedangkan mahar itu adalah untuk anak perempuan yang dinikahkan itu bukan untuk wali yang menikahkannya.

Yang tidak terdapat dalam pernikahan itu adalah mahar secara nyata dan adanya syarat untuk saling menikahi dan menikahkan. Oleh karean itu, pernikahan dalam bentuk ini dilarang. Larangan tersebut terdapat dalam hadits Nabi dari Nafi’ dari Ibnu Umar dalam kualitas Muttafaq Alaih yang artinya sebagai berikut:  “Rasulallah saw melarang perkawinan syighar. Perkawinan syighar itu ialah bahwa seorang laki-laki mengawinkan anaknya dengan ketentuan laki-laki lain mengawinkan anaknya kepadanya dan tidak ada diantara keduanya mahar”. [57]

Sebab nikah syighar tersebut diharamkan ialah karena dalam shighat akad nikah tersebut tidak disebutkan kesediaan membayar mahar oleh calon-calon suami kepada calon istri-istrinya. Apabila dalam shighat akad nikah dinyatakan kesediaan membayar mahar kepada calon istri, maka nikah tersebut hukumnya adalah sah. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa nikah syighar dapat disyahkan apabila suami-suami bersedia membayar mahar mitsil kepada istri-istrinya.

Dari berbagai penjelasan tentang pernikahan menurut adat Jawa dan pernikahan menurut hukum Islam dapat kita pahami bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan baik dari makna, asas-asas, tujuan, syarat dan rukun. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan dalam pembahasan tentang larangan pernikahan secara Hukum Adat dan pernikahan secara Hukum Islam. dan perbedaan itu dapat disajikan dalam bentuk tabel perbedaan dibawah ini yakni:

Larangan  pernikahan dalam Hukum Islam

Larangan pernikahan dalam Hukum Adat

1.      Pertama larangan muabbad, yaitu larangan untuk dinikahi selamanya, seperti karena hubungan nasab, hubungan musaharoh (perkawinan), dan hubungan saudara sesusuan.

2.      Kedua larangan muaqqat, yaitu larangan pernikahan dengan seorang perempuan selama perempuan tersebut masih dalam keadaan tertentu.

3.      Nikah mut’ah

Kata mut’ah berarti kesenangan, alat perlengkapan dan pemberian. Dalam istilah hukum biasa disebutkan bahwa nikah mut’ah adalah pernikahan untuk masa tertentu. Dalam arti pada waktu dinyatakan masa tertentu yang bila masa itu telah datang, maka pernikahan terputus dengan sendirinya.

4.       Nikah tahlil atau muhallil 

Nikah tahlil atau muhallil adalah nikah yang tujuannya untuk menghalalkan bekas istrinya yang telah ditalak tiga kali bagi suami yang telah mentalaknya itu, sehingga mereka dapat menikah kembali.

5.       Nikah syighar

Nikah syighar adalah perbuatan dua orang laki-laki yang saling menikahi anak perempuan dari laki-laki lain dan masing-masing menjadikan pernikahan itu sebagai maharnya.

1.      Pernikahan nglangkahi saudara perempuan, orang Jawa percaya kalau ada perempuan yang didahului menikah oleh adiknya maka untuk dapat terlaksananya pernikahan tersebut harus diadakan upacara langkahan dan ditambahkan syarat pada pemberian peningset.

2.      Pernikahan mintelu, yaitu pernikahan anak keturunan ketiga dari satu keluarga.

3.      Pernikahan Geweng yaitu pernikahan pada pasangan yang hari kelahiran Jawanya (weton) itu jatuh pada wage dan pahing.

4.      Pernikahan ketemu slawe yaitu pernikahan yang mana jika hari kelahiran Jawanya (weton) dijumlah antara laki-laki dan perempuan itu berjumlah dua puluh lima.

 

Selain perbedaan diatas terdapat juga beberapa tambahan ritual-ritual lain yang mana selalu dilakukan oleh masyarakat. Dan ritual itu jika kita teliti maksud dan tujuannya akan diketahui bahwa sebenarnya tujuannya itu juga demi kebaikan dan kelancaran pelaksanaan pernikahan. adapun ritual-ritual itu antara lain:

1.      Orang yang menikahkan anak perempuannya pertama kali disebut atau dinamakan mantu sapisanan/mbukak kawah. Sedangkan mantu anak bungsu dinamakan mantu ragil/tumplek punjen, yang mana hal ini nantinya membutuhkan persyaratan uba rampe tertentu dan setiap uba rampe itu juga memiliki makna sendiri.

2.      Upacara ngunduh mantu adalah penutupan dari rangkaian acara pernikahan Adat jawa. Acara yang diselenggarakan oleh keluarga kemanten pria ini biasanya diadakan sepasar / 5 hari setelah upacara panggih. Oleh karena itu disebut sepasaran. Namun tidak semeriah upacara panggih, hanya dikhususkan kapada keluarga dan kerabat dekat serta para tetangga. Dimaksudkan untuk memberikan pengalaman temanten putri agar dapat hidup di lingkungan keluarga pria.

3.      Pemilihan hari dan tanggal yang baik untuk melaksanakan pernikahan adalah menjadi salah satu syarat sebelum diadakan suatu pernikahan. Ini dikarenakan  orang-orang Jawa percaya adanya hari-hari yang baik dan kurang baik untuk menyelenggaran upacara Ijab Kabul maupun panggih. waktu yang dilarang tersebut adalah waktu naas (apes) yang akan berakibat kurang baik bila dilanggar. waktu larangan tersebut tidak mengikat secara langsung, tetapi menurut pengalaman ilmu budi dan ilmu titen yang dimiliki para orang pendahulu sangat besar pengaruhnya. Karena sekuat apapun manusia pasti memiliki pengapesan dan kelemahan. Oleh karenanya menghindari waktu pengapesan merupakan doa selamat dunia akhirat.

 

 

PEMAPARAN DAN ANALISIS DATA

A.    Kondisi Obyektif  Lokasi Penelitian

1.      Kondisi Geografis

Sebelum penulis menguraikan materi penelitian tentang “Pemahaman Masyarakat Tentang Pernikahan Nglangkahi Saudara Perempuan” (Studi di Desa Karang Duren Kec. Pakisaji Kab. Malang), terlebih dahulu penulis akan membahas uraian tentang keadaan geografis daerah tersebut. Dalam bahasan ini peneliti hanya menguraikan secara singkat, namun demikian semoga dapat mewakili apa yang dimaksud yaitu mengenai Pemahaman Masyarakat Tentang Pernikahan Nglangkahi Saudara Perempuan di Desa Karang Duren Kec. Pakisaji Kab. Malang, yang mana Desa ini termasuk dalam wilayah Malang selatan.

Adapun batasan Desa Karang Duren dengan desa lainnya adalah di sebelah utara berbatasan dengan Desa Kendalpayak, di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Wonokerso–Sutojayan, di sebelah barat Pakisaji, dan di sebelah timur berbatasan dengan sungai brantas. Pusat pemerintahan di Desa Karang Duren terletak di tengah-tengah desa tepatnya di antara Desa Golek dan perbatasan Desa Sutojayan, yakni di sebelah SDN Karang Duren 02. Di sinilah aparat pemerintahan melakukan aktivitas mereka.

 

2.  Kondisi Keagamaan

Jumlah penduduk kelurahan ini pada akhir 2006 adalah mencapai 5922 jiwa yang di dalamnya terdapat 1695 kepala keluarga yang terdiri dari 2922 laki-laki dan 3004 perempuan. Mayoritas penduduk Desa Karang Duren beragama Islam, yang sebagian besar masyarakatnya adalah sebagai warga Nahdatul Ulama (NU) dan hanya sebagian kecil saja yang menjadi warga Muhammadiyah (MD). Namun demikian warga Desa Karang Duren selalu rukun, tidak pernah terjadi perselisihan yang serius diantara mereka. Karena mereka menyadari benar bahwa perbedaan itu bukanlah suatu masalah besar dan tujuan mereka adalah sama yakni agama Islam.

Terbukti dalam keadaan sosial masyarakatnya yang sangat rentan dengan nilai-nilai keagamaan, yakni adanya beberapa kelompok jam’iyah keagamaan yang berkembang di Desa Karang Duren ini diantaranya yaitu: jam’iyah diba’ putra (Ansor), jam’iyah Diba’iyah putri (Fatayat), jam’iyah Tahlil Perempuan (Muslimat), jam’iyah Yasinan putra dan masih banyak yang lain. Kegiatan ini dilakukan setiap minggu sekali di hari yang berbeda-beda pada tiap kegiatan. Dan kebanyakan dari kegiatan ini dilaksanakan setelah sholat isya’ yakni sekitar jam 20.00WIB.

Selain itu juga terdapat jam’iyah tahlil putra dan jam’iyah tahlil putri pada tiap RT masing-masing, yang biasanya juga dilaksanakan pada tiap minggu sekali. Belum lagi kalau ada tasyakuran-tasyakuran, baik tasyakuran hari besar Islam, tasyakuran bayi, tasyakuran orang melahirkan, pernikahan bahkan tasyakuran orang meninggal dunia. Adapun pelaksanaan tasyakuran ini biasanya dilakukan setelah sholat maghrib ataupun isya’. Kegiatan sosial keagamaan ini dilaksanakan dengan salah satu tujuannya adalah mengakrabkan hubungan antara tetangga atau kerabat dan biasanya mengenai pendanaannya mereka biasanya mengadakan arisan.

Dari berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan sebagaimana uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi keagamaan masyarakat Karang Duren dapat dikatakan sangat kuat. Dan ini dibuktikan dengan presentase jumlah penduduk yang memeluk agama Islam lebih dominan daripada agama yang lain yakni 98,6 %, dan sisanya beragama Kristen dan Hindu Budha.[58] Ini berdasarkan data yang diperoleh oleh penulis dari kantor kelurahan tentang pemeluk agama.

 

3.  Kondisi Pendidikan

Mayoritas tingkat pendidikan masyarakat khususnya para pemudanya masih setingkat SLTP dan hanya sebagian kecil saja dari jumlah keseluruhan penduduk yang melanjutkan ke SLTA apalagi pada jenjang perguruan tinggi. Hal ini disebabkan karena secara keseluruhan masyarakat Karang Duren kurang memperhatikan terhadap pendidikan. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi yaitu kurang pahamnya masyarakat tentang pentingnya pendidikan, serta ketidakmampuan para orang tua untuk membiayai putra putrinya dalam menempuh pendidikan formal yang lebih tinggi. Sehingga menyebabkan minimnya masyarakat di desa ini mengenyam pendidikan ke tingkat yang lebih lanjut.

Selain itu adanya pabrik-pabrik rokok yang berada di sekitar Desa Karang Duren itu lebih mendukung masyarakat untuk bekerja daripada sekolah. Mereka lebih mementingkan pekerjaan, dan ini merupakan salah satu cara yang dipilih untuk lebih meringankan beban orang tua.

Dari kondisi pendidikan yang kurang memadai di Desa Karang Duren tersebut, tentu sedikit banyak akan mempengaruhi keberhasilan pembangunan. Karena salah satu keberhasilan pembangunan nasional adalah dari sektor pendidikan, di mana dengan majunya tingkat dan mutu pendidikan pada suatu bangsa akan mempengaruhi suasana pembangunan bangsa tersebut.

Kondisi masyarakat yang demikian ini, tidak mempengaruhi semangat para tokoh masyarakat (termasuk para guru) untuk memperbanyak pendidikan baik formal maupun non formal. Untuk lembaga non formal maksudnya adalah pendidikan formal di bidang agama yang dilakukan pada masjid, mushalla atau pondok pesantren. Terbukti dengan adanya lembaga-lembaga pendidikan baik itu lembaga pendidikan formal ataupun non formal, sebagaimana data yang diperoleh penulis di lapangan yang saat ini mulai mengalami kemajuan, sesuai dengan data berikut:

 

Tabel. 4.1

Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan

Jumlah

TK (taman kanak-kanak)

4

SDN (sekolah dasar negeri)

3

MI (madrasah ibtida’iyah)

1

TPQ

2

Pondok pesantren

1

Majlis ta’lim

2

Jumlah

13

Sumber data: Kantor Kelurahan Desa Karang Duren

Adapun data-data tentang tingkat pendidikan masyarakat Karang Duren, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut:

Tabel. 4.2

Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan

Jumlah

S1

76

Diploma 1,2,3

28

SMA

691

SMP

994

SDN

3217

Sumber data: Kantor Kelurahan Desa Karang Duren

 

 

4.   Kondisi ekonomi

Adanya perekonomian merupakan cara atau usaha untuk memenuhi kebutuhan manusia. Perekonomian terjadi jika ada manusia yang saling membutuhkan, begitu juga keadaan perekonomian penduduk setempat yang diramaikan oleh masyarakat dengan aktivitas petani. Sebagaimana data yang diperoleh penulis bahwa sebenarnya penduduk kelurahan ini mempunyai berbagai mata pencaharian mulai dari buruh, PNS, pedagang dan sebagainya. Tapi mayoritas penduduknya kurang lebih 51 % dari jumlah penduduk sebenarnya bermata pencaharian sebagai buruh, sebagaimana tabel berikut:

Tabel. 4.3

Pekerjaan Penduduk Desa Karang Duren  

Pekerjaan

Jumlah

Pedagang

359

Guru

112

TNI

8

Bidan

3

Mantri

1

Buruh tani

237

Petani (pemilik lahan)

81

Pengusaha

27

Sumber data: Kantor Kelurahan Desa Karang Duren

Dan selain dari data tersebut adalah anak-anak yang masih sekolah dan sebagian lagi adalah pengangguran.

 

B.     Pemahaman Masyarakat Desa Karang Duren Tentang Pernikahan Nglangkahi Saudara Perempuan

  1. Pengertian Pernikahan Nglangkahi Saudara Perempuan

Kata nglangkahi berasal dari kata langkahan, yang dalam bahasa Indonesia berarti mendahului. Dan sudah dapat diketahui bahwa mendahului adalah sesuatu hal yang seharusnya berada dibelakang menjadi lebih awal. Jadi pernikahan nglangkahi saudara yaitu suatu pernikahan yang mana seorang adik mendahului kakaknya untuk menikah baik itu saudara laki-laki ataupun saudara perempuan. Namun dalam masyarakat Desa Karang Duren pernikahan nglangkahi saudara laki-laki ini tidak terlalu dipermasalahkan, malahan mereka berpendapat bahwa apabila terjadi pernikahan nglangkahi saudara laki-laki, maka hal seperti sudah dianggap wajar atau biasa saja. Karena seorang laki-laki itu memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada perempuan. Supinah[59] mengatakan bahwa:

“Nglangkahi yo nikah sing mantene wedhok iku iseh duwe mbak sing durung nikah, tapi la lek sing dilangkahi iku mas’e yo gak po po nduk! Soale wis wajar lek adik’e sing wedhok nikah disek, istilahe adik’e kudu mentas disek baru mas’e nikah. Arek lanang iku duwe tanggung jawab ngemong nang adik’e”

 

(Nglangkahi adalah pernikahan yang calon pengantin perempuan masih mempunyai seorang kakak perempuan yang belum menikah, tetapi apabila yang dilangkahi itu adalah kakaknya yang laki-laki ya tidak masalah. Karena sudah wajar apabila adik perempuan yang menikah terlebih dahulu, istilahnya perempuan itu harus berumah tangga terlebih dulu, baru setelah itu kakak laki-lakinya. Kakak laki-laki itu mempunyai tanggung jawab menjaga adiknya, jadi kalau adiknya sudah menikah setelah itu saudara laki-lakinya baru bebas)

 

Oleh karenanya seorang laki-laki yang ingin menikah harus benar-benar sudah siap lahir dan batinnya apabila memutuskan untuk melangsungkan pernikahan. Maka dari itu tidak jarang seorang kakak laki-laki lebih rela menikahkan adik perempuannya terlebih dahulu daripada dirinya sendiri. Karena dia menganggap seorang adik itu adalah tanggung jawabnya yang harus dijaga dan di lindungi. Akan tetapi jika sang adik sudah menikah maka selanjutnya tugas memberikan kesejahteraan kepada adiknya akan diambil alih oleh calon suaminya kelak.

Sebenarnya ketika dilaksanakan lamaran sudah dapat diketahui, jika yang dilamar masih mempunyai kakak baik laki-laki maupun perempuan yang belum menikah, kadang-kadang menjadi pertimbangan bagi orang tua untuk menentukan apakah lamaran diterima atau tidak, karena mempertimbangkan bagaimana perasaan sang kakak yang dilangkahi. Namun kita tahu bahwa sekarang pola pergaulan muda-mudi sudah begitu bebasnya, sehingga jika terjadi demikian, maka tidak ada jalan lain kecuali menikah lebih dulu dari pada kakaknya.

Perbedaan pelaksanaan dan syarat-syarat antara pernikahan biasa pada umumnya dengan pernikahan nglangkahi saudara perempuan adalah terletak pada pemberian peningset. Kata peningset berarti pengikat, ningseti berarti mengencangkan tali ikatan. Bila lamaran diterima pada hari yang disepakati keluarga pihak laki-laki datang lagi ke rumah pihak perempuan. Maksud kedatangan untuk menyerahkan beberapa barang penyerahan (peningset) sebagai bukti bahwa anak perempuan tersebut sudah dipasangkan dengan anak laki-lakinya. Meskipun belum dinikahkan, tetapi dengan peningset ini hubungan sudah menjadi setengah resmi dan terikat dan tidak boleh dijodohkan dengan laki-laki lain. Namun demikian tetap tidak boleh melakukan aktivitas layaknya suami istri.

“Isine peningset iku yo terserah sing lanang nduk, lek sing lanang wong sugeh yo lengkap mulai sak penduwor sampek sak penisor {sak pengadek} lan sak perhiasane lengkap, tapi lek wong biasa yo sak kene’e sing pasti yo pakean sak pengadek golongane sewek, bakal klambi, daleman, sepatu/sandal, lek jajane sing wajib iku tetelan, wajik, jenang lan liyane ”[60]

 

(Isi dari peningset itu terserah pihak laki-laki nak, apabila pihak laki-laki dari keluarga berada maka barang pemberiannya lengkap mulai dari atas sampai bawah {sekujur tubuh} dan juga perhiasan lengkap, tetapi apabila orang biasa maka seperlunya saja yang pasti adalah pakaian lengkap calon pengantin putri kain batik, bahan kebaya, pakaian dalam, sepatu/sandal, dan kue yang wajib adalah makanan yang berasal dari ketan {tetelan, wajik, jenang} dan lain-lain)

 

Barang-barang yang dibawa sebagai peningset tergantung kemampuan pihak laki-laki. Artinya bisa sangat sederhana, tetapi juga bisa sangat banyak dengan biaya yang mahal. Peningset yang sederhana pada umumnya berisi: jarit (kain batik), bahan kebaya, selendang, kemben (jarit kecil), cincin pengantin dan uang, jodhang (peti tempat kue dan makanan) yang berisi beras, gula, kopi, teh, mie dan lain-lain. Peningset yang utama adalah sepasang cincin untuk calon pengantin putra dan putri, dan juga kemben. Cincin ini sebenarnya adalah salah satu budaya Barat yang mempengaruhi adat Jawa, dilihat dari bentuknya yang bulat dan tanpa sambungan (seser) maka berarti cinta mereka berdua akan terus terpadu tanpa batas. Selain itu sesuai dengan kemampuan pengantin putra, dapat disediakan perhiasan lain seperti kalung, gelang dan anting.

Untuk pernikahan nglangkahi saudara maka peningset yang dibawa oleh pihak laki-laki berjumlah dua, satu untuk calon pengantin putri dan satu untuk kakak calon pengantin yang dilangkahi. Adapun isi dari peningset yang diberikan oleh pihak laki-laki untuk kakak perempuan calon pengantin tidak lengkap seperti calon pengantinnya.

 “Lek kanggo mbak’e sing dilangkahi iku pokok’e sandangan sak welase manten lanang, la lek’e wong sugih yo sandangan seng apik masio mek situk, bentuk’e iku yo sak anane klambi utowo opo ngono pokok’e wajib ngeke’e ”[61]

 

(Kalau untuk saudara yang dilangkahi itu yang penting adalah pakaian seikhlasnya calon penganten laki-laki, apabila dia berasal dari keluarga yang berada ya pakaian yang bagus meskipun hanya satu, bentuknya terserah misalnya kemeja atau apalah yang pasti wajib memberi)

 

Barang pemberian itu hanya sebagai penghormatan kepada kakak perempuan calon pengantin karena telah didahului oleh adiknya, meskipun jumlahnya sedikit namun pemberian itu wajib adanya tanpa diminta sekalipun.

Pernikahan nglangkahi ini biasanya terjadi karena beberapa alasan yang dapat dijadikan salah satu sebab untuk dapat terlaksananya pernikahan tersebut. Dan tiap alasan itu mempunyai tujuan yang pada dasarnya itu dilakukan demi kebaikan si adik. Sebagaimana alasan yang diungkapkan oleh Warti,[62] yakni:

“La yo kate yo opo maneh mbak, tak piker mungkin ancene kono wis siap la lek aku durung siap. Yo daripada mburi-mburine kedaden sing ora-ora mbak ”

 

(Mau bagaimana lagi mbak, saya pikir mungkin situ {adiknya} lebih siap kalau saya belum siap. ya daripada nanti di belakang terjadi hal-hal yang tidak diinginkan)

 

Berbeda dengan ungkapan Nurul,[63] ketika dia dimintai izin adiknya untuk menikah, dia hanya bisa pasrah dan mendoakan semoga pernikahan adiknya lancar dan bahagia.

“Yo opo yo, yo wis ora opo-opo mungkin ancene jodohmu luweh disek tekoe timbang aku. Yo paling jodohku ancene durung teko, durung wayae ae”

 

(Gimana ya, ya sudahlah tidak apa-apa mungkin memang jodoh kamu lebih awal datangnya daripada aku. Mungkin jodohku belum datang, belum waktunya.)

 

Mereka memang mempunyai alasan yang berbeda-beda namun tujuan mereka sama yaitu demi kebaikan adik-adik mereka. Selain tujuan itu mereka tidak menghiraukan yang lain, meskipun mereka tahu akan konsekwensinya yaitu mereka akan kesulitan dalam mendapatkan jodoh seperti kepercayaan yang selama ini beredar di masyarakat. Ketika muncul pertanyaan, apakah tidak takut akan tertimpa sial seperti mitos yang berlaku di masyarakat, maka Warti[64] menjawab:

“La lapo mbak wedi, aku ora wedi, iku wes opo jare gusti Allah, aku pasrah. Yo ancene paling jodohku durung teko, jodoh kan wes diatur ambek seng kuoso”

 

(Buat apa takut mbak, saya tidak takut, itu terserah sama Allah, saya pasrah. Ya mungkin jodohku belum datang, jodoh itu kan sudah diatur sama yang maha kuasa)

 

Warti merelakan untuk dilangkahi atau didahului menikah oleh adiknya Alfiyah karena dia menganggap bahwa adiknya lebih siap dan lebih mampu untuk membina rumah tangga. Selain itu pertimbangan lain yang lebih mengkhawatirkan yaitu apabila terjadi hal-hal yang tidak dinginkan seperti hamil di luar nikah ataupun kawin lari (tanpa restu) apabila terlalu lama menunggu sang kakak. Namun ada juga yang mengatakan bahwa jodohnya mungkin belum datang, sedangkan jodoh adiknya telah datang terlebih dulu. Oleh karenanya lebih baik segera dilaksanakan pernikahan daripada terlalu lama berpacaran tanpa adanya ikatan, malah akan menimbulkan fitnah dan gunjingan yang dalam masyarakat dianggap tidak pantas (saru).

Selain itu tujuan dilakukannya pernikahan ini dapat saja karena sang kakak lebih mementingkan pekerjaan atau hal-hal lain yang dianggap lebih penting saat ini untuknya daripada harus menikah lebih dulu. Selain itu si kakak cuek, tidak menghiraukan dan memperdulikan omongan-omongan orang lain.[65]

Dalam lingkungan Islami kasus seperti itu tidaklah menjadi masalah yang serius, sah-sah saja seorang adik mendahului kakaknya menikah. Namun ukhuwah dan silaturrahmi wajib dijaga dengan baik. Dalam lingkungan awam memang nglangkahi  saudara perempuan memang teranggap aib bagi sebagian kalangan, diantaranya akan tertimpa sial setelahnya.

Dari sudut pandang Islam pelaksanaan adat yang seperti ini tidak dipermasalahkan (dibenarkan) karena pada dasarnya Islam mengajarkan agar pernikahan itu dilakukan semudah mungkin dan dipublikasikan seluas mungkin dalam bentuk walimatul ursy. Adapun upacara adat yang menyertai pelaksanaan akad nikah, seperti selama ini sering terjadi sepenuhnya merupakan upacara budaya/urusan duniawi yang bebas dilakukan oleh umat Islam sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Islam. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Choirul Anam[66] sebagai berikut:

“Mboten wonten masalah, sing penting mbak’e ridho. Lek menurut agama iku syarat syah’e nikah iku nggeh wonten gangsal setunggal manten estri, kale manten jaler, tigo wali, sekawan saksi, gangsal ijab kobul. Nggeh naming niku tok boten wonten syarat-syarate kados peningset loro ngonteniku. Sak jane tujuane niku lak yo gawe kebaikan mbak’e, yo cek ndang payu pisan. La lek ngono iku menurut agama ya gak opo-opo”

 

(Tidak ada masalah yang penting saudara perempuannya itu rela. Kalau menurut agama syarat syahnya nikah itu ada lima satu calon pengantin wanita, dua calon pengantin laki-laki, tiga wali, empat saksi, lima Ijab Kabul. Ya cuma syarat itu saja tidak ada syarat harus ada peningset dua gitu. Sebenarnya tujuannya itu kan juga buat kebaikan saudara yang dilangkahi, agar cepat mendapatkan jodoh juga. Nah kalau begitu menurut agama ya tidak ada masalah)

 

Dalam pelaksanaan pernikahan nglangkahi saudara ini terdapat beberapa ketentuan yang harus dilakukan agar pernikahan yang dilakukan tidak membawa masalah. Atau lebih tegasnya agar adiknya yang akan menikah lebih dulu tidak menemui kesulitan dalam hidupnya dan kakaknya segera mendapatkan jodoh juga, maka diadakan upacara adat yang disebut langkahan.

Seperti pada larangan-larangan yang akan dilanggar, maka sudah pasti terdapat beberapa syarat yang harus dilakukan dan dipenuhi. Seperti yang dikatakan oleh Kasih[67] yaitu

“Nglangkahi iku kan asline gak oleh nduk, tapi yo timbang adik’e ngenteni kesuwen, yo maleh gak opo-opo. Tapi yo kudu diadakno upacara langkahan, sing tujuane yo adik’e sing nikah iku cek slamet lan lancer, selain iku yo cek mbak’e seng dilangkahi ndang oleh jodoh. Istilahe ngguwak sebel ngono lo nduk”

 

(Nglangkahi pada dasarnya itu tidak boleh dilakukan nak, tetapi daripada adik permpuannya itu menunggu terlalu lama, ya akhirnya diperbolehkan. Tetapi harus diadakan langkahan. Tujuannya adalah agar adik yang menikah terlebih dulu itu selamat dan lancar, selain itu agar kakaknya juga segera mendapatkan jodoh. Istilahnya membuang kesusahan gitu lo nak)

 

Disebut langkahan karena adiknya menikah mendahului kakaknya. Yang mana maksud dari diadakannya upacara adat ini adalah adiknya. memohon izin dan doa restu untuk mendahului menikah, serta mendoakan agar kakaknya segera mendapatkan jodoh juga.

Dapat disimpulkan disini yakni untuk dapat terlaksananya pernikahan nglangkahi saudara dengan syarat yang paling utama adalah restu dan izin dari kakaknya yang dilangkahi. Selain itu juga restu dan izin dari orang tua keduanya. Terkadang orang tua tidak tega dan membiarkan anaknya yang ingin menikah itu (adik) menunggu sampai anaknya yang lebih tua menikah lebih dulu. Dan satu lagi yaitu peningset yang diberikan calon istrinya itu harus berjumlah dua, satu untuk calon istrinya dan satunya untuk kakak yang dilangkahi.

Menurut masyarakat setempat apabila yang melamar itu orang kaya atau dari keluarga berada maka barang pemberian atau peningset yang diberikan kepada calon istrinya itu harus sama dengan yang diberikan kepada kakaknya. Yang boleh berbeda hanyalah warnanya saja.

“Yo masio gak njaluk yo wis mesti dike’i mbak, barang-barange yo podo kabeh, yo mek warnae ae bedo ora opo-opo terus  engkok terserah milih sing endi”

 

(Ya meskipun tidak meminta ya sudah pasti diberi mbak, barang-barangnya itu ya sama semua, cuman warnanya saja yang berbeda tidak apa-apa nanti terserah mau milih yang mana)

 

Akan tetapi apabila tergolong orang yang kurang mampu maka hanya diberikan satu potong kain (bahan baju) satu ukuran. Karena ini adalah syarat yang harus dilakukan maka harus dipenuhi, dan agar tidak memberatkan pihak laki-laki maka diperbolehkan cukup memberikan satu potong kain.[68]

Berbeda dengan pernikahan dalam pandangan hukum Islam. Di dalam hukum Islam tidak menetapkan adanya syarat-syarat tertentu untuk pernikahan nglangkahi saudara perempuan sekalipun. Baik pernikahan nglangkahi saudara perempuan ataupun pernikahan-pernikahan yang dianggap tidak biasa sekalipun tidak ada persyaratan yang khusus diwajibkan atas salah satu pihak. Syarat-syarat syah pernikahan dalam hukum Islam hanya ada lima yaitu adanya calon suami, calon istri, wali, saksi, dan ijab qobul.

“Ten agomo niku mboten wonten syarat-syarat kados peningset kale ngonteniku, sing penting lek ten agomo nggeh niku wau sanes muhrim, sami setujune, tiang sepuh ridho sedoyo, kados N3 niku surat persetujuan antara calon istri dan calon suami setuju, lek ngken salah sijine dipekso nggeh mboten angsal. Nah mantun ngonten  nggeh mau persyaratan gangsal niku calon suami, calon istri, wali, saksi kale ijab kobul”[69]

 

(di dalam agama itu tidak ada syarat- syarat seperti adanya peningset, yang penting di dalam agama yaitu bukan muhrim, sama-sama setuju, ridho kedua orang tua, N3 surat persetujuan antara calon suami dan istri, kalau salah satu merasa terpaksa ya gak bias. Nah setelah itu persyaratan yang lima tadi calon suami, calon istri, wali, saksi dan ijab kabul)

 

Namun adanya syarat tambahan yang disyaratkan pada pernikahan nglangkahi saudara perempuan tersebut tidak dilarang oleh syari’at Islam. Karena dilihat dari segi tujuan dan manfaatnya itu tidak bertentangan dengan hukum Islam itu sendiri. Selain itu juga tidak termasuk dalam pernikahan-pernikahan yang dilarang dalam hukum Islam, baik secara nasab, karena hubungan pernikahan, hubungan sesusuan dan lain-lain. Dan juga tidak adanya waktu tertentu seperti dalam pernikahan mut’ah.

Ditambahkan syarat tertentu itu pada pernikahan nglangkahi saudara perempuan yakni untuk menghormati saudara yang telah didahului untuk menikah. Dan juga agar dengan diberikannya barang tersebut saudara yang dilangkahi itu akan akan segera mendapatkan jodoh juga, dalam bahasa jawanya ndang ketularan.

“Adat niku menawi wonten sangkut paute kale ten agomo nggeh mbonten opo-opo, tapi lek nyebal dateng agomo nggeh mboten angsal. Misale kados kata-kata -iki lek gak ngene nggok maleh nggara’i ngene-, nah niku sing nyebal kale agomo, lek ngonten niku namine lak ndisi’i kersane gusti Allah”[70]

 

(Adat itu jika ada sangkut pautnya {tidak bertentangan}dengan agama ya tidak apa-apa, tetapi kalau bertentangan dengan agama ya tidak tidak boleh. Misalnya seperti kata-kata –kalau tidak begini nanti akan menimbulkan begini-, nah itu yang bertentangan dengan agama, kalau begitu itu namanya mendahului takdir Allah)

 

Dari situ dapat dipahami bahwa adat tidak selalu bertentangan dengan hukum Islam pelaksanaan adat beserta ritual-ritualnya yang dipandang menyalahi sekalipun, apabila dilihat dari segi tujuan dan manfaatnya itu baik bagi yang melakukannya serta tidak mengurangi syarat syahnya yang sudah ditetapkan oleh syari’at Islam, maka pelaksanaan adat itu diperbolehkan.     

  1. Prosesi Pernikahan Nglangkahi  Saudara Perempuan

Untuk prosesi pernikahan nglangkahi saudara perempuan, sebenarnya tidak ada petunjuk yang menjelaskan secara rinci dan tegas. Karena pada setiap daerah khususnya Jawa itu untuk pelaksanaan upacara langkahan tidak ada satu buku petunjuk sama yang membahas bagaimana pelaksanaan pernikahan nglangkahi. Meskipun ada beberapa buku yang terkait namun buku yang satu dengan yang lainnya tidak sama. Jadi upacara langkahan pada tiap-tiap daerah itu berbeda baik dari segi tata cara maupun waktu pelaksanaannya. Namun dari berbagai perbedaan diantara daerah satu dengan lainnya, ada satu hal yang banyak kesamaan yakni pelaksanaan upacara itu sebelum diadakan akad nikah.

Selain itu prosesi pernikahan nglangkahi itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pernikahan secara umum, dari rentetan acaranya. Mulai dari awal hingga akhir itu sama tidak ada yang dikurangi. Hanya saja terdapat beberapa acara tambahan sebelum dilakukan akad nikah karena berhubungan dengan nglangkahi saudara perempuannya itu.

Menurut Kasih[71] ada beberapa tahap dalam upacara langkahan tersebut.

“Upacara langkahan mbiyen iku asline ono carane, pertama iku yo langkahan. Langkahan iki kudu disekseni karo bapak ibune, terus dilakoni ndek kamar’e mbak’e sing dilangkahi iku nduk. Mbak’e waktu itu ndodok terus dilangkahi karo adik’e ngono lo. La pas nglangkahi iku ambek niat lek’e adik’e kate nglangkahi mbak’e rabi ndisek. Terus maringono ono sungkeman barang, ambek nggawe kebaya ngono iku nduk. Iki yo dilakoni ndek kamar’e mbak’e pisan. La pas sungkeman iki wes kudu njaluk izin nang mbak’e”

 

(Upacara langkahan pada zaman dahulu itu sebenarnya ada caranya sendiri, pertama yaitu langkahan. Langkahan ini harus disaksikan oleh bapak dan ibunya, dan dilakukan dikamar yang dilangkahi itu nak. Kakaknya itu jongkok kemudian dilompati {dilangkahi } oleh adiknya. Ketika itu harus disertakan niat bahwa adiknya akan mendahului kakaknya. Kemudian setelah itu juga sungkeman. Dengan memakai busana kebaya gitu nak. Ini juga dilakukan di kamar kakaknya itu nak. Ketika itu sekalian minta izin kepada saudara perempuannya)

 

Tata cara urutan upacara tersebut pertama yakni langkahan. Langkahan merupakan suatu tahap prosesi yang dilakukan di dalam kamar sang kakak perempuan yang disertai oleh ayah dan ibunya sebagai saksi. Pertama-tama si kakak jongkok dan kemudian adiknya melangkahi (melompati) sebanyak tiga kali. Dan ini dilakukan dengan disertai niat bahwa sang adik ingin menikah lebih dulu daripada kakak perempuannya.

Setelah dilakukan langkahan prosesi selanjutnya yakni sungkeman yaitu sang kakak perempuan yang dilangkahi telah siap di kamar pengantin, mengenakan busana Jawa. Kemudian masuklah adiknya diantar para pinisepuh dengan mengucapkan kata-kata sebagai berikut:

“Mbak aku kate nikah disek, mangkane aku njaluk ijin sampean, sekalian aku njaluk dongane, mugo-mugo rumah tanggaku mbesok slamet lan tentrem selawase. Aku yo ndongakno sampean mugo-mugo ndang ketemu karo sing dikarepno”

 

(Mbakyu, saya akan menikah dahulu. Untuk itu saya mohon izin mendahului mbakyu, serta mohon doa restu, agar rumah tangga yang akan saya bangun dapat selamat dan bahagia selamanya. Saya juga mendoakan agar mbakyu segera mendapatkan jodoh yang dinginkan ).

Kemudian kakak perempuannya yang dilangkahi menjawab,

“Yo, aku ngijini awakmu rabi disek, mugo-mugo rumah tanggamu tentrem, bahagia lan sejahtera. Suwon kanggo dungone mugo-mugo aku yo ndang oleh jodoh pisan” [72]

 

 (Iya adikku, saya izinkan engkau menikah dahulu, semoga rumah tanggamu temteram bahagia dan sejahtera. Terima kasih atas doamu semoga saya segera mendapatkan jodoh juga).

 

Lalu adiknya memberikan cindera mata kepada kakaknya berupa apa saja sesuai kemampuan. Yang mana acara ini melambangkan bahwa kakaknya telah dengan ikhlas mengizinkan adiknya untuk mendahului menikah.

Akan tetapi tata cara upacara langkahan pada masyarakat Karang Duren saat ini sudah tidak seperti yang dilakukan pada jaman dahulu. Dalam pelaksanaan pernikahan nglangkahi saudara perempuan saat ini tidak dilakukan tahap prosesi langkahan, karena ini terkesan kurang baik dan tidak sopan. Masyarakat Karang Duren hanya  melakukan upacara inti saja yaitu sungkeman.

“Tapi lek saiki yo wis gak kathek nglangkahi ngono nduk iku lak biyen na. lek saiki sing penting yo sungkemane iku tok.”[73]

 

(Tetapi kalau sekarang ya sudah tidak usah memakai dilangkahi segala nak itu kan dulu. Kalau sekarang yang penting ya sungkemannya itu)

 

“Lek aku yo ora kathek nglangkahi ngono mbak, yo engkok lak tambah ngersulo ta mbak’ku. Mungkin waktu dijalu’i ijin seh gak opo-opo, tapi lek pas waktu temu manten iku lo baru kroso nelongso. Wong kadang awak’e dewe ae ngene nelongso kok mbak, yo rumongso kene ndisi’i, la tapi wong diijini la lek gak gelem aku yo kudu ngenteni”[74]

 

(Kalau saya juga tidak usah nglangkahi gitu mbak, nanti kan malah semakin kecewa kakak saya. Mungkin waktu dimintai ijin memang tidak apa-apa, tapi ketika acara temu kemanten itu baru terasa kecewa. Terkadang saya begini merasa gak enak juga mbak, kan saya tahu kalau saya telah mendahului kakak saya, tapi kan orangnya mengijini kalau seandainya dulu tidak mengijini ya saya harus menunggu)

 

Dari situlah maka dianggap bahwa perubahan dalam upacara langkahan itu dibenarkan karena upacara yang secara utuh hanya akan membuat rasa kecewa yang dirasakan saudara yang dilangkahi itu semakin besar. Sebagaimana yang dikatakan Hadi Putra[75] sebagai tokoh masyarakat setempat yakni:

“Lek wong saiki iku kan seneng sing cepet lan gak ribet a. dadi yo timbang nglangkahi barang ngono yo kan malah leweh gak enak maneh nang mbak’e sing dilangkahi iku. Lek sekedar sungkeman ngono lak luweh praktis a.”

 

(Kalau orang sekarang itu kan senang yang serba cepat dan gak merepotkan. Jadi ya daripada pakai langkahan segala itu kan malah kurang sopan sama kakaknya yang dilangkahi. Kalau sekedar sungkeman itu kan malah lebih praktis)

 

Memang mereka menganggap bahwa sungkeman sudah mewakili dari upacara langkahan  itu. Karena pada dasarnya pernikahan ini dapat terjadi karena adanya ijin dari kakak perempuan yang dilangkahi. Dan sungkeman adalah merupakan perwujudan dari ijin seorang adik kepada kakaknya, dan inilah sebenarnya inti dari diadakannya upacara nglangkahi  tersebut. Meskipun hanya diadakan upacara sungkeman, namun ini tidak mengurangi arti dari upacara langkahan yang sebenarnya.

 

  1. Dampak Sosio-Psikologis Terhadap Saudara Yang Dilangkahi

Dampak sosio-psikologis ialah dampak yang ditimbulkan itu berhubungan sengan masyarakat sekitar, sehingga adanya anggapan-anggapan masyarakat itu akan merugikan dan membuat malu/kecewa bagi perempuan yang dilangkahi secara psikologi. Dan dalam pelaksanaan pernikahan nglangkahi saudara perempuan pada masyarakat Desa Karang Duren ini tidak hanya membawa kebaikan atau menghindarkan dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang  dapat terjadi, namun pasti juga terdapat sederet dampak-dampak negatif yang dapat terjadi terutama pada saudara perempuan yang dilangkahi juga beserta keluarga besar mereka.

Adapun dampak-dampak negatif yang dirasakan oleh saudara perempuan yang dilangkahi tersebut antara lain:

1.      Tertimpa sial

Pengertian sial bagi perempuan yang dilangkahi disini yaitu karena jodohnya lama. Maksudnya adalah setelah perempuan (saudara yang dilangkahi) itu didahului oleh adiknya untuk menikah, maka ia akan kesulitan mendapatkan jodohnya kelak. Dan ini sudah menjadi anggapan umum meskipun tanpa adanya kesepakatan.

“Yo ancene se lek sing wedhok dilangkahi iku maleh yo opo ngono lo, nomer siji arek iku ngkok maleh sial, jodohe iku lo jero. Soale wis kedisian adik’e, selain iku yo keluwagrane lak maleh kenek pisan a gara-gara adik’e sing nikah disek. Soale kan iso ae gara-gara adik’e wis meteng disek makane ndang-ndang dirabekno. La iki kan sing yo maleh garahi isin keluwargane nduk”[76]

 

(Ya memang sih kalau Yang dilangkahi itu perempuan jadi gimana gitu, satu perempuan itu jadi tertimpa sial, jodohnya lama. Karena sudah keduluan adiknya, selain itu keluarganya juga ikut menanggung karena pernikahan adiknya itu. Sebab bias saja adanya pernikahan itu karena sang adik sudah hamil duluan oleh karena itu segera dinikahkan. Nah ini kan juga membuat aib bagi keluarga)

 

Anggapan bahwa jodohnya akan lama itu sebenarnya datang dari masyarakat sendiri. Karena dengan pandangan masyarakat yang demikian, maka akan menghambat kelancaran hubungan kakak yang sudah dilangkahi dengan dunia luar.

Kata sial tidak berarti bahwa perempuan yang sudah didahului menikah oleh adiknya ia akan sial terus menerus (berkelanjutan) sepanjang hidupnya baik dari segi pekerjaan, rizki dan lain-lain. Namun kata sial disini hanyalah terbatas dengan masalah tentang lamanya ia (saudara yang dilangkahi) mendapatkan jodoh. Masyarakat hanya membatasi makna sial sampai disitu saja, tidak berkelanjutan atau tidak mempengaruhi darifaktor lain misalnya  segi ekonomi, keberuntungan, pekerjaan, rizki dan lain sebagainya.  

Untuk itu masyarakat Karang Duren mensyaratkan beberapa syarat tambahan dalam pelaksanaan pernikahan tersebut yakni dengan mengadakan upacara langkahan dan memberikan 2 peningset. Dan diyakini apabila kedua syarat itu dilakukan maka akan membatalkan mitos yang diyakini oleh masyarakat setempat (tolak balak).

Sebagaimana ungkapan Mar’atus[77] yang dilangkahi oleh adiknya empat tahun yang lalu, dan sekarang ia juga sudah menikah:

“Aduh ngono iku kan mitos a Dek, waktu iku seh aku yo percoyo yo ora. Tapi jare wong sepuh iku lek wes disyarati terus aku yo yakin, pasti aku yon ndang ketularan, dadi waktu iku aku percoyo ae aku bakalan ketularan”

 

(Aduh itu kan mitos Dek, pada waktu itu saya percaya tidak percaya. Tapi kata orang tua kalau sudah lakukan syaratnya terus aku yakin, pasti aku juga segera mendapatkan jodoh juga, jadi waktu itu aku percaya bahwa aku juga akan segera mendapatkan jodoh juga)

 

2.      Tidak percaya diri

Adanya anggapan dari masyarakat bahwa ia akan kesulitan dalam mendapatkan jodohnya, dari situ akan timbul rasa tidak percaya diri pada perempuan yang sudah dilangkahi oleh adiknya itu. Karena dengan pernikahan adiknya itu semakin menunjukkan ketidaklayakannya untuk segera melangsungkan pernikahan. Ini terbukti dengan adiknya yang menikah terlebih dahulu. Dan itu dapat dikarenakan adanya cacat atau kekurangan pada diri saudara yang dilangkahi itu baik dari segi fisik/jasmaninya ataupun dari segi sikap dan tingkah lakunya yang kurang baik.

3.      Citra perempuan yang dilangkahi itu turun 

Pemahaman masyarakat bahwa adanya kemungkinan cacat/kekurangan pada diri saudara yang dilangkahi itu, baik dari sikap dan perilakunya tadi tentunya akan menghambat kelancaran hubungan saudara yang dilangkahi itu dengan orang lain khususnya lawan jenis. Karena pandangan masyarakat itu akan membuat setiap pemuda yang ingin melamarnya itu akan mengurungkan niatnya.

Walau bagaimanapun setiap orang atau pemuda pasti mempunyai kriteria dalam memilih seorang istri, dan yang pertama yaitu dilihat dari bibit, bobot, dan bebetnya. Setelah itu baru syarat-syarat yang lainnya. Dan ini sudah menjadi pegangan setiap orang dalam memilih pasangan hidup terutama masyarakat Jawa pada umumnya. Sehingga dari pasangan yang baik akan bibit, bobot dan bebetnya itu akan menjadikan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rohmah.

Sebenarnya dampak sosio-psikologis yang dapat dialami oleh saudara yang dilangkahi itu sebenarnya tidak lepas dari campur tangan masyarakat sekitar. Karena dari masyarakat itulah muncul berbagai anggapan tentang dampak pernikahan itu. Maksudnya yaitu apabila terjadi pernikahan nglangkahi saudara itu pasti dalam masyarakat akan timbul berbagai anggapan, ini disebabkan masyarakat selalu menyoroti dan mempermasalahkan tentang terjadinya perkawinan yang dianggap tidak wajar itu.

Misalnya mulai dari timbulnya rasa kasihan kepada saudara perempuan yang dilangkahi, kemudian adanya anggapan bahwa ada ketidak sempurnaan (cacat/kekurangan) pada saudara perempuan yang lebih tua, sehingga membuat para pemuda berfikir dua kali untuk melamarnya, bahkan sampai adanya penafsiran masyarakat kepada saudara yang dilangkahi akan dijauhkan dari jodohnya (jodohnya datangnya lama).

Sedangkan dampak yang dapat dirasakan oleh keluarga khususnya orang tua dari perempuan yang dilangkahi itu antara lain:

1.      Gunjungan dari masyarakat

Gunjingan disini dapat diartikan juga sebagai kecaman dari masyarakat sekitar karena dengan terjadinya pernikahan nglangkahi saudara perempuan ini tidak lepas dari adanya ijin atau restu dari keluarga khususnya orang tua. Oleh karenanya keluarga juga pasti mendapat gunjingan karena telah mengijinkan anak perempuannya yang lebih muda menikah terlebih dahulu. Dengan begitu ia akan dikecam sebagai orang tua yang tega terhadap anaknya, tidak mempertimbangkan perasaan anak yang dilangkahi itu. Memang pernikahan nglangkahi saudara perempuan ini dapat terjadi hanya ats restu dan ijin dari saudara yang dilangkahi, akan tetapi jika keluarga khususnya orang tuanya tiak mengijinkannya, maka pernikahan itu juga tidak dapat terlaksana.

2.      Adanya anggapan tidak dapat mendidik anaknya dengan baik

Tidak sedikit pula dari masyarakat Desa Karang Duren yang menganggap bahwa terjadinya pernikahan nglangkahi saudara perempuan itu juga dapat karena terjadinya hamil di luar nikah. Dan anggapan seperti itu tentunya akan membuat malu keluarga apabila sampai mendengar hal itu. Karena kebanyakan dari pelaku pernikahan nglangkahi saudara perempuan ini memang dilihat dari kebiasaannya sang adik memang lebih berani daripada kakaknya. Berani disini diartikan pergaulan dengan lawan jenis, sedangkan kakaknya terkesan lebih pendiam. Dan ini semakin membuktikan bahwa keluarganya tidak dapat mendidik anak-anaknya dengan baik.

3.      Membuat bingung orang tua

Dari berbagai anggapan tadi tentunya siat orang tua yang mengalami hal itu akan sangat bingung menentukan sikap. Dilain pihak apabila tidak mengijinkan anaknya yang lebih muda untuk menikah lebih dulu, maka ia takut akan terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. Namun di pihak lain dia akan dianggap sebagai orang tua yang tega telah mengijinkan anaknya yang lebih muda nglangkahi oleh saudaranya yang lebih tua.

Timbulnya pemahaman masyarakat itu, karena tidak adanya pengertian dalam diri mereka. Selain itu masyarakat tidak tahu apa sebenarnya motif yang melatar belakangi terjadinya pernikahan nglangkahi saudara tersebut. Mereka hanya menafsirkan apa yang mereka lihat secara kasat mata dan tidak menghiraukan apa sebenarnya tujuan dilakukannya pernikahan itu. Mungkin saja sebenarnya sang kakak masih belum siap baik secara lahir dan batin dan sang kakak menganggap si adik lebih siap, selain itu si kakak lebih menghawatirkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan apabila pernikahan itu tidak segera dilaksanakan.

Jadi sebenarnya pemicu adanya dampak yang ditimbulkan dari pernikahan nglangkahi saudara perempuan itu adalah timbulnya berbagai anggapan dan pemahaman masyarakat yang keliru yang tidak berdasarkan kebenaran. Oleh karenanya apabila ingin melakukan pernikahan tersebut harus menjalani berbagai ritual yang ditetapkan sendiri oleh masyarakat, sebagai hukuman atas suatu hal yang bertentangan dengan kepercayaan dan ini harus dilaksanakan.

Dari situ jelas bahwa agama tidak mempermasalahkan selama tujuan diadakan tambahan syarat itu baik. Karena dengan ditambahkannya syarat itu tidak mengurangi syarat syahnya pernikahan yang sudah ditentukan oleh agama dan juga tidak membatalkan keabsahan pernikahan itu. Syarat-syarat itu akan bermasalah jika yang bersangkutan meyakini bahwa akan terjadi celaka atau tertimpa bencana bagi orang yang tidak melaksanakannya. Karena dengan berkeyakinan demikian maka berarti kita telah mendahului takdir Allah, dan itu yang tidak diperbolehkan.

Adakalanya seorang adik justru disunnahkan mendahului kakaknya, yaitu tatkala seorang kakak tidak tergolong sholihah. Selain itu jika sang kakak dalam kondisi belum siap menikah dan adiknya sudah siap. Demikian juga apabila kakaknya menolak pria yang meminangnya karena ia tidak menyukainya. Mungkin juga ia ingin menyeleseikan studinya, atau mungkin juga ia memiliki kriteria-kriteria yang sulit untuk dipenuhi sehingga ia kesulitan mendapatkan laki-laki yang sesuai dengan kriterianya. Maka akan lebih bijaksana bagi orang yang lebih tua mendahulukan orang yang lebih siap dan membutuhkan untuk menikah. Sebagaimana bunyi hadits berikut:

4677 عن عَبْدُ اللَّهِ بن مسعود رضى الله عنه قَالَ: قال لنا رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

Artinya:

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a berkata: berkata Rasulallah saw.: “wahai para pemuda barang siapa yang telah mampu hendaknya menikah, sebab menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan, kalau belum mampu maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya.” (Mutafakun 'alaihi)[78]

 

Dari bunyi hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya kalau si calon pengantin sudah berkehendak dan sudah mampu lahir-batinnya, maka kita tidak boleh menghalangi apa yang menjadi keinginan mereka, karena akan berakibat fatal kepada keduan-duanya (pihak laki-laki dan perempuan). Sebaliknya apabila memang belum siap dan mampu untuk melaksanakan pernikahan tersebut maka lebih baik berpuasa meskipun umurnya lebih tua sekalipun.

Dan dalam kondisi seperti ini, apakah kesalahan dan penghalang bagi si wanita yang lebih muda usianya untuk lebih dulu melangsungkan pernikahan. Bahkan mungkin saja pernikahannya itu dapat menjadi penyebab dan memberikan motivasi tergeraknya hati kakaknya untuk segera melangsungkan pernikahan juga.

Upacara budaya atau hal-hal yang bersifat duniawi yang tidak diatur secara tersurat ketentuannya adalah termasuk dalam kategori sabda Rasulallah saw. Yang berarti “kamu lebih tahu tentang urusan duniawimu”. Oleh karena itu kedudukan upacara adat dalam peristiwa pernikahan atau peristiwa lain tidak dilarang apabila:

b.      Tidak merupakan suatu kegiatan yang bersifat laghwun (perbuatan sia-sia), sebab orang mukmin yang baik adalah yang selalu menjauhkan diri dari kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat.

c.       Tidak ditempatkan sebagai bagian dari aqidah Islam, artinya seseorang jangan sampai mempunyai pendirian bahwa kalau tidak melaksanakan upacara adat akan bernasib sial atau memperoleh malapetaka.

d.      Tidak ditempatkan sebagai bagian dari ibadah (syari’at) Islam, artinya jangan sampai seseorang merasa berdosa karena tidak melakukan upacara adat.

e.       Tidak menyerupai agama lain.

f.       Tidak mengarah kepada hal-hal yang bertentangan dengan hokum Islam seperti syirik, bid’ah dan lain-lain. [79]

Adapun prosesi pernikahan seperti pada pernikahan nglangkahi saudara perempuan adalah ritual-ritual yang dilakukan masyarakat pada zaman dahulu. Namun semakin beriringnya perkembangan zaman maka tradisi-tradisi yang dilakukan pada zaman dahulu sudah tidak sama dengan yang dilakukan sekarang. Ini bukan berarti bahwa masyarakat telah meninggalkan adat dan tradisi yang diajarkan dan digariskan oleh nenek moyang. Masyarakat tetap memperhatikan dan mempertimbangkan setiap hal-hal yang dianggap adat dan tradisi setempat, namun mereka tidak melakukan ritual secara utuh.

Berbeda dengan zaman dahulu masyarakat selalu melakukan ritual secara sungguh-sungguh. Dan ini bukan berarti masyarakat sudah tidak percaya dengan tradisi-tradisi tersebut. Tetapi pada zaman sekarang ini masyarakat lebih suka melakukan segala sesuatu itu secara cepat dan praktis serta tidak berbelit-belit. Namun tidak mengurangi rasa hormat kepada nenek moyang yang telah menggariskan ritual-ritual itu. Oleh karenanya ritual-ritual itu tetap dilakukan tetapi hanya mengambil intinya saja. Misalnya dalam pelaksanaan pernikahan nglangkahi saudara perempuan tidak dilakukan tahap prosesi langkahan, karena ini terkesan kurang baik dan tidak sopan. Maka hanya dilakukan sungkeman.

Namun terdapat satu hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan ritual yang secara singkat dan praktis itu yakni selain mempersingkat acara dan tidak menghabiskan waktu yang lama juga lebih meminimalisir rasa kecewa yang dirasakan oleh kakak yang dilangkahi. Karena dengan melakukan ritual yang secara utuh, maka hanya akan menambah rasa kecewa pada saudara yang yang dilangkahi itu. Rasa kecewa itu akan semakin berlarut-larut dirasakannya. Seperti yang terjadi pada pernikahan Faiza dan Agus. Faiza ini melakukan pernikahan dengan melangkahi saudara perempuannya yang bernama Ani. Meskipun telah diadakan musyawarah sebelum pelaksanaan pernikahan itu, dan telah meminta izin kepada Ani namun ketika terjadi pesta pernikahan (walimatul ursy) Ani tetap merasa sakit hati dan kecewa (ngersulo) karena telah didahului menikah oleh adiknya yang lebih muda. Ini terbukti dengan tidak hadirnya Ani dalam pesta pernikahan Faiza. Ani lebih memilih untuk pergi dari rumahnya untuk sementara waktu daripada harus hadir dan menyaksikan pesta pernikahan tersebut. Ani melakukan ini karena Dia tidak kuat menangggung rasa kecewa dalam hatinya. [80]

Sama halnya yang dilakukan oleh Nurul, ketika adiknya yang bernama Mami telah menikah lebih dulu daripada dirinya. Hanya saja Nurul tidak pergi dari rumah seperti yang dilakukan oleh Ani, namun rasa kecewa itu nampak sekali diwajahnya. Memang sebelum diadakan pesta pernikahan adiknya Nurul tampak tegar, ikhlas dan benar-benar menerima pernikahan adiknya itu. Tapi ketika diadakan pesta pernikahan itu khususnya pada waktu akad nikah, wajahnya tampak sedih sekali menanggung rasa kecewa (ngersulo).[81]

Jadi dari berbagai kejadian di atas ternyata dapat dipahami meskipun masyarakat menyalahi aturan dalam arti tidak melaksanakan upacara secara utuh, namun terdapat suatu hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan upacara yang serba praktis tersebut. Yakni selain menghemat waktu dan biaya juga lebih menghormati kepada saudara yang lebih tua yang dilangkahi oleh adiknya itu.

 

 

 

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Dari berbagai uraian yang telah dipaparkan oleh peneliti diatas yaitu tentang pemahaman  masyarakat Desa Karang Duren Kec. Pakisaji Kab. Malang tentang pernikahan nglangkahi saudara perempuan  maka dapat diambil kesimpulan yaitu:

1.      Terjadinya pernikahan nglangkahi saudara perempuan di Desa Karang Duren ini disebabkan karena si adik dianggap lebih siap untuk menikah daripada kakak perempuannya. Dan ketidaksiapan ini karena sang kakak belum mempunyai pasangan atau calon suami, selain itu bisa juga karena saudara perempuannya itu lebih mementingkan pekerjaan atau hal-hal lain yang dianggap lebih penting saat ini untuknya daripada harus menikah lebih dulu.

2.      Ritual pernikahan nglangkahi saudara perempuan di Desa Karang Duren ini ternyata telah jauh dari tradisi yang sebenarnya dilakukan pada masa lalu. Meskipun ada beberapa hal yang dihilangkan, namun ada hal tertentu yang masih diyakini dan dilakukan sampai saat ini. Upacara langkahan pada masyarakat Desa Karang Duren telah diminimalisir sedemikian rupa khususnya dalam prosesi pernikahannya. Maksudnya disini agar yang didahului menikah tidak terlalu kecewa dan sakit hati dalam pelaksanaan upacara itu.

3.      Adapun dampak sosio-psikologis pernikahan nglangkahi bagi saudara perempuan yang dilangkahi itu antara lain: bahwa dia akan mendapatkan jodohnya lama atau jodohnya tak kunjung datang (menjadi perawan tua) karena telah didahului oleh adiknya (saudara yang lebih muda). Selain itu mereka akan mendapat sorotan dan gunjingan masyarakat sekitar lantaran didahului oleh saudaranya yang lebih mudah, dan dikhawatirkan bahwa ia ternyata mempunyai cacat atau keburukan baik dari segi sikap, watak dan perilaku, sehingga orang lebih memilih adiknya daripada kakaknya.

4.      Pelaksanaan upacara langkahan saat ini hanya merupakan suatu penghormatan yang dilakukan oleh saudara yang lebih muda kepada saudara yang lebih tua yang telah didahului menikah. Yang mana hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan syari'at hukum Islam. Karena dalam hukum Islam malah dianjurkan bagi mereka yang sudah siap menikah baik secara lahiriyah maupun bathiniyah, meskipun itu mendahului yang lebih tua. Pertimbangannya yaitu ditakutkan akan terjadinya kemudhorotan yang lebih besar bagi mereka yang sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk segera menikah. Namun demikian harus dilakukan dengan secara yang ma'ruf dan tanpa menghilangkan rasa hormat kepada saudara yang lebih tua.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Agoes, Artati, (2001) "Kiat Sukses Menyelenggarakan Pesta Perkawinan Adat Jawa ", Jakarta. Gramedia Pustaka Amani.

 

Al-Hamdani H.S.A., (2002) “Risalah Nikah (Hukum Perkawinan Islam)”. Jakarta. Pustaka Amani,

 

Al-Jazairi, Syaikh Abu Bakar “Pedoman Hidup Seorang Muslim”. Madinah. PT. Megatama Sofwa Pressindo.

 

Aminuddin dan Zainal Asikin (2004), “Pengantar Metode Penelitian Hukum” Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada, Cet: I.

 

Arikunto Suharsimi, Prof. Dr., (2002) “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktek”, Jakarta. PT. Rineka Cipta. 

 

Bratawidjaja, Thomas Wiyasa (1988), “Upacara Perkawinan Adat Jawa”, Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.

 

Departemen Agama Republik Indonesia (1994), “Al-Qur’an dan Terjemahannya”. Semarang. PT. Kumudasmoro.

 

Drever, James, (1988) “Kamus Psikologi”. Jakarta: PT. Bina Aksara .

 

Fakultas Syari’ah, (2005), “Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah”, Universitas Islam Negeri Malang.

 

Faridl, Miftah (1999). “150 masalah nikah dan keluarga”. Jakarta: Gema Insani.

 

Hadikusuma, Hilman (1995), “Hukum Perkawinan Adat”. Bandung: Citra Aditiya Bakti.

 

Idhamy, Dahlan (1984), “Asas-Asas Fiqh Munakahat Hukum Keluarga Islam”. Surabaya. Al-Ikhlas.

 

Mukhtar, Kamal (1974) “Asas-Asas Hukum Islam Tantang PerkawinanJakarta. PT. Bulan Bintang,

 

Muhammad, Bushar,. (1995), “Pokok-Pokok Hukum Adat”. Jakarta. PT. Pradya Paramita.

 

Moleong, Lexy J MA. (2002), “Metodologi Penelitian Kualitatif”. Bandung. PT. Remaja Rosda Karya.

 

Partanto, Pius A. (2001) “Kamus Ilmiyah Populer”. Surabaya. PT. Arkola Sabiq, Sayyid, (1987), “Fikih sunnah 6”. Bandung. PT. Al-Ma’arif.

 

Sudikan, Setya Yuwana, (2000) "Upaca Adat Jawa Timur", Surabaya. Dinas P dan K Propinsi Jawa Timur.

 

Syarifuddin, Amir, (2006), “Hukum Perkawinan Islam di Indonesia”. Jakarta. Kencana.

 

Syarifuddin, Amir, (2003), “Garis-Garis Besar Figh”. Jakarta. Kencana.

 

Rifa’i, Mohammad, (1978), “Fiqh Islam Lengkap”. Semarang. CV. Toha Putra.

 

Utomo, Sutrisno Sastro, (2005) "Upacara Daur Hidup Adat Jawa", Semarang. IKAPI.

Wignjodipoero, Soerojo, (1995), “Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat”. Jakarta. PT. Toko Gunung Agung. 

 



[1] Thomas Wiyasa Bratawidjaja, Upacara Perkawinan Adat Jawa (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988),13.

[2] Setya Yuwana Sudikan, Upaca Adat Jawa Timur (Surabaya: Dinas P dan K Propinsi Jawa Timur, 2000).2

[3] Artati Agoes, Kiat Sukses Menyelenggarakan Pesta Perkawinan Adat Jawa (Jakarta: Gramedia Pustaka Amani. 2001).38.

[4]  Sutrisno Sastro Utomo, Upacara Daur Hidup Adat Jawa (Semarang. IKAPI. 2005).59.

[5] Takhrijul Hadits, Kutubuttis’ah, Shohihul Bukhori, An-Nikah, No Hadits 4677

[6] Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat.(Bandung: Citra Aditiya Bakti. 1995) hal.70

[7] Soerojo Wignjodipoero, Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat. (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung. 1995) Hal. 122.                                                                                                                                                          

[8] Thomas Wiyasa Bratawidjaja, Upacara Perkawinan Adat Jawa, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1988) Hal 14.

[9] Bushar Muhammad,  Pokok-Pokok Hukum Adat. (Jakarta: PT. Pradya Paramita1995) Hal 28-29

[10] Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat. (Bandung: Citra Aditiya Bakti. 1995) Hal 69-70

[11] Artati Agoes, Op. Cit. hal x

[12] Hilman Hadikusuma, Op. Cit. hal. 71

[13] Ibid., 51.

[14] Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum Islam Tantang Perkawinan (Jakarta: PT. Bulan Bintang,  1974),77

[15] Hilman Hadikusuma, Op. Cit. hal. 70.

[16] Dahlan Idhamy, Asas-Asas Fiqh Munakahat Hukum Keluarga Islam (Surabaya: Al-Ikhlas, 1984), 9

[17] Kamal Mukhtar, Op. Cit.,11.

[18] Mohammad Rifa’I, Fiqh Islam Lengkap (Semarang: CV. Toha Putra1978), 453

[19] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994), 862

[20] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994), 710

[21] Kamal Mukhtar, Op.Cit. 12

[22] H.S.A. Al-Hamdani, hal. 14-17

[23] Kamal Mukhtar, Op.Cit. 12

[24] Ibid. Op.Cit. 67.

[25] Takhrijul Hadits, Kutubuttis’ah, Sunan Ibnu Majah, An-Nikah. No Hadits 1871

[26] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Pedoman Hidup Seorang Muslim. (Madinah: PT. Megatama   Sofwa Pressindo,1419 H), 647

[27] Takhrijul Hadits, Kutubuttis’ah, Shohihul Bukhori, An-Nikah. No Hadits 4741

[28] Takhrijul Hadits, Kutubuttis’ah, Shohihul Muslim, An-Nikah. No Hadits 2425

[29] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi,Op.Cit. 648

[30] Takhrijul Hadits, Kutubuttis’ah, Sunan Tirmidzi, Annikahu ‘an Rasulallah, No Hadits 1021

[31] Mohammad Rifa’i, Op.Cit. 460.

[32] Takhrijul Hadits, Kutubuttis’ah, Sunan Tirmidzi, Sholat. No Hadits 156

[33] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994), 945.

[34] Mohammad Rifa’I, Op.Cit. 461.

[35] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi,Op.Cit. 648-649.

[36] Sayyid Sabiq, Fikih sunnah 6, (Bandung. PT. Al-Ma’arif, 1987). 48-51.

[37] H.S.A. Al-Hamdani, Op.Cit. 68.

[38] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi,Op.Cit. 649.

[39] Ibid, 655-656

[40] Takhrijul Hadits, Kutubuttis’ah, Shohihul Bukhori, No Hadits 4754

[41] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994),120.

[42] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994),120.

[43] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994),120.

[44] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994),120.

[45] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994),120.

[46] H.S.A. Al-Hamdani, Op.Cit. 81-87.

[47] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994),120.

[48] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994),120.

[49] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994),121.

[50] Sayyid Sabiq.Op.Cit. 118-136. 

[51] Kamal Mukhtar, Op.Cit.106

[52] Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. (Jakarta: Kencana. 2006), hal 100. 

[53] Amir Syarifuddin, , Garis-Garis Besar Figh. (Jakarta: Kencana. 2003), hal. 102-103.

[54] Amir Syarifuddin, Op. Cit., 104.

[55] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Semarang: PT. Kumudasmoro 1994), 56.

[56] Amir Syarifuddin, Op. Cit., 106

[57] Amir Syarifuddin, Op. Cit., 107-108.

[58] Sumber data dari kantor Kelurahan Desa Karang Duren

[59] Supinah, wawancara (Karang Duren, 5 November 2006)

[60] Supinah, wawancara (Karang Duren, 4 Desember 2006)

[61] Ibid, 7 November 2006.

[62] Warti, wawancara (Karang Duren, 7 November 2006)

[63] Nurul, wawancara (Karang Duren, 7 November 2006)

[64] Warti, wawancara (Karang Duren, 7 November 2006)

[65] Sukarman, wawancara (Karang Duren, 2 November 2006)

[66] Choirul Anam , wawancara (Karang Duren, 7Desember 2006)

[67] Kasih, wawancara (Karang Duren, 26 November 2006)

[68] Mami, wawancara (Karang Duren, 7 November 2006)

[69] Choirul Anam , wawancara (Karang Duren, 7Desember 2006)

[70] Ibid,.

[71] Kasih, wawancara (Karang Duren, 26 November 2006)

[72] Ibid,.

[73] Ibid,.

[74] Faiza, wawancara (Karang Duren, 8 November 2006)

[75] Hadi Putra, wawancara (Karang Dur en, 2 November 2006)

[76] Supinah, wawancara (Karang Duren, 7November 2006)

[77] wawancara (Karang Duren, 30 Desember 2006)

[78] Takhrijul Hadits, Kutubuttis’ah, Shohihul Bukhori, An-Nikah, No Hadits 4677

[79] Miftah Faridl, 150 masalah nikah dan keluarga. (Jakarta: Gema Insani. 1999) hal. 67-68.

[80] Faiza, wawancara (Karang Duren, 8 November 2006)

[81] Mami, wawancara (Karang Duren, 7 November 2006)



Belum ada Komentar

Posting Komentar