Karmuji.com | Penyuluh Agama Islam Tuban

sikap Ulama Fiqh mengenai Wakaf Uang



 


 Pandangan Madzab Hanafi 

Ulama Hanafiyah membolehkan wakaf benda bergerak asalkan hal itu sudah menjadi urf (kebiasaan) di kalangan masyarakat, seperti mewakafkan buku, mushaf dan uang. Seperti dikemukakan  Ibn ‘Abidin dalam kitabnya, Hasyyat Ibn ‘Abidin, soal sah tidaknya mewakafkan uang tergantung adat kebiasaan di satu tempat. Wakaf uang dirham dan dinar sudah menjadi kebiasaan di negeri Romawi, sehingga berdasarkan prinsip diatas, wakaf dirham dan dinar sah ditempat itu dan tidak sah ditempat lain. Secara lebih jelas keb
olehan wakaf uang terungkap dalam fatwa yang dikeluarkan oleh al-Anshari diatas. Ibn Taimiyah dalam kitabnya, Majmu’
al-Fatwa, meriwayatkan satu pendapat dari kalangan Hanabilah yang membolehkan berwakaf dalam bentuk uang.[1]

Dalam masalah wakaf uang, ulama Hanafiyah mensyaratkan harus ada istibdal (konversi) dari benda yang diwakafkan bila dikhawatirkan ada ketidaktetapan zat benda. Caranya adalah dengan mengganti benda tersebut denga benda tidak bergerak yang memungkinkan manfaat dari benda tersebut kekal.[2] Dari sinilah kalangan ulama Hanafiyah berpendapat boleh mewakafkan dinar dan dirham melalui penggantian (istibdal) dengan benda tidak bergerak sehingga Muhammad ibn Abdullah al-Ansyari murid dari Zufar, seperti yang dikutip Ibn Abidin dalam Rad al-Mukhtar, menyatakan boleh berwakaf dengan uang, seperti dinar dan dirham.[3] Wakaf uang ini dilakukan dengan cara menginvestasikannya dalam bentuk mudharabah dan keuntungannya disedekahkan pada mauquf alaih.

Pandangan Madzab Syafi’i

Ulama Syafi‟iyah, seperti al-Nawawi, dalam al-MajmuSyarah al-Muhadzab berpendapat boleh mewakafkan benda bergerak, seperti hewan, di samping benda tidak bergerak, seperti tanah. Namun, mereka menyatakan tidak boleh mewakafkan dinar dan dirham karena dinar dan dirham akan lenyap dengan dibelanjakaan dan sulit akan mengekalkan zatnya. Berbeda dengan ulama lainnya, Abu Sur ulama dari kalangan  Syafiiyah membolehkan wakaf dinar dan dirham. Namun pendapat ini ditepis oleh Al-Mawardi dengan menyatakan dinar dan dirham tidak dapat diijarahkan dan pemanfaatannya pun tidak tahan lama. Karena itu, benda ini tidak bisa diwakafkan. [4]

Ibn Qudamah dalam kitabnya Mughni menjelaskan, umumnya para fuqaha dan ahli ilmu tidak membolehkan wakaf uang (dinar dan dirham) karena uang akan lenyap ketika dibelanjakan sehinga tidak ada lagi wujudnya. Disamping itu, uang juga tidak dapat disewakan karena menyewakan uang akan mengubah fungsi uang sebagai standar harga.[5]

Al-Ramli dalam Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, dan Muhammad al-Khathib al-Syarbini dalam Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani al-Faz al-Minhaj mengemukakan, bahwa wakaf adalah menahan harta dan dapat dimanfaatkan yang bendanya tidak mudah lenyap sehingga atas dasar pengertian tersebut bagi mereka hukum wakaf uang adalah tidak sah.[6]



[2] Muhammad Abbu Zahrah, Muhadharat Fi al-Waqf, (Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi, 1971),  104.  Sebagaimana yang dikutip Eka Apriyadi dalam Skripsinya yang berjudul “Analisis Pendapat Madzab Hanafi dan Syafi’i Tentang Wakaf Uang”, Lampung: 2017, 91.

[4] https://bwi.or.id/index.php/in/publikasi/artikel/815-wakaf-uang-perspektif-hukum-dan-ekonomi-islam.html (diakses pada 01 April 2018, pukul 09.45 WIB).

[5] Ibid.

[6] Syam Suddin Muhammad Ibn Abu AL-Abbas Ibn Hamzah Ibn Syihabbyddin At-Ramli, Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minha, Juz. 5, (Beirut: Dar al-Fikr, 1984), 35. Sebagaimana yang dikutip Eka Apriyadi dalam Skripsinya yang berjudul “Analisis Pendapat Madzab Hanafi dan Syafi’i Tentang Wakaf Uang”, Lampung: 2017, 96.


Belum ada Komentar

Posting Komentar