Karmuji.com | Penyuluh Agama Islam Tuban

Tradisi Perkawinan "Dandang Sauran Jeneng" dalam pandangan Ulama

 



1. Pengertian Tradisi.

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah tradisi sering di pergunakan. Ada tradisi jawa, tradisi kraton, tradisi petani, tradisi pesantren dan lain-lain. Sudah tentu masing-masing dengan identitas arti dan kedalaman makna tersendiri, tetapi istilah “tradisi”, biasanya secara umum di maksudkan untuk menunjuk kepada suatu nilai, norma dan adat kebiasaan yang berbau lama, dan yang lama tersebut hingga kini masih di terima, diikuti bahkan di pertahankan oleh kelompok masyarakat tertentu.

Menurut khazanah bahasa indonesia, tradisi berarti segala sesuatu seperti adat, kebiasaan, ajaran dan sebagainya, yang turun temurun dari nenek moyang. Ada pula yang menginformasikan, bahwa tradisi berasal dari kata traditium, yaitu segala sesuatu yang di transmisikan, diwariskan oleh masa lalu ke masa sekarang. Berdasarkan dua sumber tersebut jelaslah bahwa tradisi, intinya adalah warisan masa lalu yang dilestarikan terus hingga sekarang. Warisan masa lalu itu dapat berupa nilai, norma sosial, pola kelakuan dan adat kebiasaan lain yang merupakan wujud dari berbagai aspek kehidupan. 

Menurut Hasan Hanafi, tradisi (turats) adalah segala warisan masa lampau (baca tradisi) yang sampai kepada kita dan masuk kedalam kebudayaan yang sekarang berlaku. Dengan demikian, bagi Hanafi turats tidak hanya merupakan persoalan meninggalkan sejarah, tetapi sekaligus merupakan persoalan kontribusi zaman kini dalam berbagai tingkatannya.  

Secara terminologi perkataan tradisi mengandung suatu pengertian tersembunyi tentang adanya kaitan antara masa lalu dengan masa kini. Ia menunjuk kepada sesuatu yang diwariskan oleh masa lalu tetapi masih berwujud dan berfungsi pada masa sekarang. Sewaktu orang berbicara tentang tradisi islam atau tradisi kristen secara tidak sadar ia sedang menyebut serangkaian ajaran atau doktrin yang dikembangkan ratusan atau ribuan tahun yang lalu, tetapi masih hadir dan malah tetap berfungsi sebagai pedoman dari kehidupan sosial pada masa kini. Ajaran islam atau kristen tersebut masih berfungsi hingga saat ini, karena adanya proses pewarisan sejak awal berdirinya, melewati berbagai kurun generasi dan diterima oleh generasi sekarang. Oleh karena itulah tradisi dalam pengertian yang paling elementer adalah sesuatu yang di transmisikan atau di wariskan dari masa lalu ke masa kini.

Penulis memahami tradisi “Dandang Sauran Jeneng” sebagai tradisi yang diwariskan sejak masa nenek moyang dan di pertahankan sampai saat ini, sehingga penulis merasa perlu memaparkan tentang definisi tradisi dan tipe-tipe masyarakat tradisional dan makna tradisi bagi masyarakat.

2. Tipe-tipe Masyarakat Tradisional

Scoorl, secara teoritis membagi masyarakat tradisionalis menjadi empat tipe, yaitu:

a. Tipe Masyarakat Orde Moral

Masyarakat orde moral adalah komunitas kehidupan yang dalam mekanismenya masih amat terikat oleh berbagai norma baik buruk yang bersumber dari tradisi (adat) tertentu, sehingga disana banyak dijumpai sejumlah pantangan (tabu) yang dalam beberapa hal dapat mengganggu proses modernisasi.

b. Tipe Masyarakat Kerabat Sentris.

Masyarakat tipe ini pola dasar mekanisme kehidupan dan kepemimpinannya ditentukan oleh sistem kekerabatan yang ada semata-mata, tanpa alternative manapun juga untuk mempertimbangkan dari segi yang lain. Dalam hal siapa yang mengganti pemimpin misalnya, disana berlaku prinsip keturunan yang ketat, atau bisa pula dikatakan faktor norma tradisislah yang lebih menentukan seseorang menjadi pemimpin, dan bukan faktor prestasi atau kemampuan yang lain.

c. Tipe Masyarakat Leluhurisme.

Sebutan ini secara khusus diperuntukkan bagi masyarakat yang mempunyai kepercayaan akan perlunya senantiasa menjalin hubungan dengan para leluhur itu akan di pegang teguh sebagai norma kehidupan untuk setiap generasi. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tipe ini biasanya selalu menghubungkan kondisi baik dan buruk, nasib untung dan rugi juga sebagai peristiwa yang mereka alami, dengan ada atau tidaknya restu dari para leluhur.

d. Tipe Masyarakat Primitif Isolates dan Parokial

Pada dasarnya sebutan primitive isolates adalah untuk masyarakat kecil bersahaja yang secara ekonomis dapat memenuhi kebutuhan hidup sebagai kelompok, mempunyai kebudayaan sendiri  yang hampir tak pernah terjadi perubahan. Karena mereka hanya mempunyai hubungan yang amat terbatas dengan dunia luar. Maka seandainya masyarakat tradisional tipe ini tidak dipakai sama sekali, mereka dapat meneruskan tradisi tanpa mengalami kesulitan.

Sedang masyarakat parokial, maksudnya adalah komunitas kehidupan yang transformasi kebudayaan dari luar terjadi melalui proses parokialisasi, yaitu penerapan setiap anasir dari luar untuk disesuaikan secara penuh dengan tradisi lokal yang sudah ada.

3. Makna Tradisi Bagi Masyarakat

Sudah jelas tidak mungkin terbentuk untuk bertahan masyarakat atau kelompok tradisional dengan kecenderungan tradisionalismenya, kecuali fihak tersebut menganggap bahwa tradisi yang mereka pertahankan, baik secara obyektif maupun subyektif dalah sesuatu yang bermakna, berarti atau bermanfaat bagi kehidupan mereka dalam penjelasan yang agak rinci. Makna tradisi bagi masyarakat adalah sebagai berikut:

a. Sebagai Wadah Ekspresi Keagamaan

Tradisi mempunyai makna sebagai wadah penyalur keagamaan masyarakat, hampir ditemui pada setiap agama. Dengan alasan, agama menurut pengalaman secara rutin dikalangan pemeluknya. Dalam rangka pengamalan itu, ada tata cara yang sifatnya baku, tertentu dan tidak bisa dirubah-rubah. Sesuatu yang tidak pernah dirubah-rubah dan terus menerus dilakukan dalam prosedur yang sama dari hari kehari bahkan dari masa kemasa, akhirnya identik dengan tradisi. Berarti tradisi bisa muncul dari alamiah dari keagamaan, baik yang dilakukan kelompok maupun perseorangan.

b. Sebagai Alat Pengikat Kelompok

Menurut kodratnya manusia adalah makhluk kelompok. Bagi manusia hidup berkelompok adalah suatu keniscayaan, karena memang tidak ada orang yang mampu memenuhi segala keperluannya sendirian. Atas dasar ini, dimana dan kapanpun selalu ada upaya untuk menegakkan dan membina ikatan kelompok, dengan harapan agar menjadi kokoh dan terpelihara kelestariannya. Adapun cara yang ditempuh antara lain melalui alat pengikat termasuk yang berwujud tradisi.

c. Sebagai Benteng Pertahanan Kelompok 

dalam dunia ilmu-ilmu sosial, kelompok tradisionalis cenderung diindentikkan dengan stagnasi (kemandekan), suatu sikap yang secara teoritis bertabrakan dengan progres (kemajuan dan pembaharuan). Padahal, pihak progres yang didukung dan dimotori oleh sains dan teknologi, yang dengan daya tariknya sedemikian memikat, betapapun pasti berada di posisi yang lebih kuat. Karenanya adalah wajar bila pihak tradisionalis mencari benteng pertahanan termasuk dengan cara memanfaatkan isi tradisi itu sendiri.


C. Perkawinan Menurut Hukum Islam

Perkawinan bagi umat manusia adalah sesuatu yang sangat sakral dan mempunyai tujuan yang tidak bisa terlepas dari ketentuan-ketentuan syari’at islam. Orang yang melangsungkan sebuah perkawinan bukan semata mata untuk memuaskan nafsu seksual belaka yang berada dalam tubuh dan jiwanya, melainkan untuk meraih ketenangan, ketentraman dan sikap saling mengayomi diantara suami istri dengan dilandasi cinta dan kasih sayang yang mendalam. Disamping itu untuk menjalin tali persaudaraan diantara keluarga dari pihak suami dan pihak istri yang berlandaskan pada etika dan estetika yang bernuansa ukhuwah basyariyah dan islamiyah.

1. Definisi Pernikahan

Perkawinan atau perniklahan dalam literature fiqih berbahasa arab disebut dengan dua kata, yaitu nikah (نكاح) dan zawaj (زواج). Kedua kata ini yang terpakai dalam kehidupan sehari-hari orang arab dan banyak terdapat dalam al-qur'an dan hadis nabi. Kata nakaha banyak terdapat dalam al-qur'an yang juga memakai arti kawin, seperti yang disebutkan dalam surat An-Nisa' ayat 3:

"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya".

Demikian pula banyak sekali terdapat kata zawaja dalam al-qur'an yang mengandung arti kawin, seperti pada surat Al-Ahzab ayat 37: 

"Dan (ingatlah), ketika kamu Berkata kepada orang yang Allah Telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) Telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid Telah mengakhiri keperluan terhadap Istrinya (menceraikannya), kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu Telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi".

Secara artian nikah tersebut adalah "bergabung" (ضم), "hubungan kelamin" (وطء) dan juga berarti "akad" (عقد) adanya dua kemungkinan arti ini karena kata nikah dalam al-qur'an ternyata memang mengandung dua arti tersebut. Kata nikah yang terdapat surat Al-Baqoroh ayat 230:

jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui".


Mengandung arti hubungan kelamin dan bukan hanya sekedar akad nikah karena ada petunjuk dari hadis nabi bahwa setelah akad nikah dengan laki-laki kedua perempuan itu belum boleh dinikahi oleh mantan suaminya kecuali suami yang kedua telah merasakan nikmatnyan hubungan kelamin dengan perempuan tersebut.

Tetapi dalam al-qur'an juga terdapat kata nikah dengan arti akad, seperti dalam firman Allah surat An-Nisa' ayat 22:

 "Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)".

Ayat tersebut diatas mengandung arti bahwa perempuan yang dinikahi oleh ayah itu haram dinikahi dengan semata ayah telah melangsungkan akad nikah dengan perempuan tersebut, meskipun diantara keduanya belum berlangsung hubungan kelamin. Meskipun ada dua kemungkinan arti dari kata na-ka-ha itu namun mana diantara dua kemungkinan tersebut yang mengandung artisebenarnya terdapat beda pendapat diantara ulama'. Golongan ulama syafi'iyah berpendapat bahwa kata nikah itu berarti akad dalam arti yang sebenarnya (hakiki); dapatnya berarti juga untuk hubungan kelamin,  namun dalam arti tidak sebenarnya (arti majazi). Penggunaan kata untuk bukan arti sebenarnya itu memerlukan penjelasan di luar kata itu sendiri. 

Sebaliknya, ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kata nikah itu mengandung arti secra hakiki untuk hubungan kelamin. Bila berarti juga untuk lainnya seperti untuk akad adalah dalam arti majazi yang memerlukan penjelasan untuk maksud tersebut.

Ulama golongan Hanabilah berpendapat bahwa penunjukan kata nikah untuk dua kemungkinan tersebut adalah dalam arti sebenarnya sebagaimana terdapat dalam dua contoh ayat yang disebutkan sebelumnya. Beda pendapat dalam mengartikan kata nikah tersebut disini kelihatannya remeh, namun perbedaan tersebut berdampak jelas dalam beberapa masalah lainnya yang akan terlihat kemudian. Dalam arti terminologis dalam kitab-kitab terdapat beberapa rumusan yang saling melengkapi. Perbedaan perumusan tersebut disebabkan oleh berbeda dalam titik pandangan. Dikalangan ulama syafi’iyah rumusan yang bisa dipakai adalah:

عقد يتضمن ا باحة الو طء بلفظ الا نكاح او التزويج

Artinya:

“Akad atau perjanjian yang mengandung maksud membolehkan hubungan kelamin dengan menggunakan lafaz na-ka-ha atau za-wa-ja”.(Al- Mahally,206) 

Ulama golongan syafi’iyah ini memberikan definisi sebagaimana disebutkan diatas melihat kepada hakikat dari akad itu bila dihubungkan dengan kehidupan suami istri yang berlaku sesudahnya, yaitu boleh bergaul sedangkan sebelum akad tersebut berlangsung diantara keduanya tidak boleh bergaul. Definisi tersebut mengandung maksud sebgai berikut:

Pertama: penggunaan kata lafaz akad (عقد) untuk menjelaskan bahwa perkawinan itu adalah suatu perjanjian yang dibuat oleh orang-orang atau pihak-pihak yang terlibat dalam perkawinan. Perkawinan itu dibuat dalam bentuk akad karena ia adalah peristiwa hukum, bukan peristiwa biologis atau semata-mata hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan.

Kedua: penggunaan ungkapan; يتظمن اباحة الوطء (yang mengandung maksud membolehkan hbungan kelamin), karena pada dasarnya hubungan laki-laki dan perempuan itu adalah terlarang, kecuali ada hal-hal yang membolehkan secara hukum syara’ . di antara hal yang membolehkan hubungan kelamin itu adalah adanya akad nikah di antara keduanya. Dengan demikian, akad itu adalah suatu usaha untuk membolehkan sesuatu yang asalnya tidak boleh menjadi boleh.

Ketiga: menggunakan kata بلفظ انكاح وتزويج yang berarti menggunakan lafaz na-ka-ha atau za-wa-ja mengandung maksud bahwa akad yang membolehkan hubungan kelamin antara laki-laki dengan perempuan itu mesti dengan menggunakan kata na-ka-ha atau  za-wa-ja, oleh karena dalam awal islam disamping akad nikah itu ada lagi usaha yang membolehkan hubungan antara laki-laki atas seorang perempuan atau disebut juga “perbudakan”. Bolehnya hubungan kelamin dalam bentuk ini tidak disebut perkawinan atau nikah, tetapi menggunakan kata “tasarri”.

Definisi yang berdekatan dengan ini dikemukakan oleh ulama Hanafiyah, yaitu: عقد وضع لتمليك المتعة با الانثى قصدا yang artinya: akad yang ditentukan untuk memberi hak kepada seorang laki-laki menikmati kesenangan dengan seorang perempuan secara sengaja. 

Disebutkannya kata تمليك المتعة sebagai pasal (differentium) pertama mengandung arti yang sama dengan ungkapan اباحة الوطء dalam definisi golongan syafi’iyah tersebut diatas; karena sebelum berlangsungnya akad nikah seorang laki-laki tidak dapat menikmati kesenangan dengan seorang perempuan. Diakhirinya definisi ini dengan ungkapan قصدا sebagai pasal kedua dalam definisi yang arti lughawinya adalah secara sengaja mengandung arti menurut yang dituju atau disengaja oleh Allah; karena perkawinan menurut pandangan islam adalah kehendak Allah dan menurut aturan Allah. Bolehnya hubungan laki-laki perempuan sesudah akad nikah itu telah sesuai dengan kehendak Allah tersebut.


2. Dasar Hukum Perkawinan

Adapun sumber pokok perkawinan dalam islan adalah Al-qur’an dan Sunnah yang didalamnya telah diatur tentang pedoman pelaksanaanya. Pada pembahasan berikut ini akan dikemukakan beberapa ayat Al-Qur’an dan sunnah yang menjadi landasan disyari’atkan perkawinan tersebut. Allah SWT berfirman:

(#qßsÅ3Rr&ur 4‘yJ»tƒF{$# óOä3ZÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$#ur ô`ÏB ö/ä.ÏŠ$t6Ïã öNà6ͬ!$tBÎ)ur 4 bÎ) (#qçRqä3tƒ uä!#ts)èù ãNÎgÏYøóムª!$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù 3 ª!$#ur ììÅ™ºur ÒOŠÎ=tæ ÇÌËÈ   

Artinya: 

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui”. 


Sesungguhnya bila diperhatikan dengan seksama tidak sedikit orang yang pada mulanya kurang atau tidak mampu bekerja, tetapi setelah menikah berubahlah keadaannya. Perasaan tanggung jawab sebagai seorang suami ternyata bisa menggugah semangat sehingga bisa timbul ide-ide untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Betapa banyak orang yang pada mulanya lemah dan tidak punya cita-cita setelah menikah bertambah kuat dan aktif bekerja. Oleh sebab itu, kekhawatiran tidak adanya kemampuan membiayai hidup berumah tangga tidaklah menjadikan faktor untuk tidak menikah, hal itu bisa diatasi bila ada kemampuan dan ikhtiar. Dalam hadits Bukhari juga disebutkan:

عن انس ابن ما لك رضي الله عنه ان النبي ص م.......وا لله انى لاحشاكم الله واتقكم له لكن اضوم وافطرواصلى وارقد وتزوج انساء فمن رغب عن سنتى فليس منى.


Artinya: 

“Dari Anas bin Malik ra: setelah beliau memuji dan menyanjungnya, beliau bersabda: akan tetapi saya shalat, tidur, puasa dan mengawini beberapa wanita, barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”.




3. Asas Perkawinan

Asas perkawinan yang dianut adalah asas monogami yakni seorang suami beristrikan satu orang, keculai jika dibenarkan oleh hukum agama dan undang-undang untuk berpoligami. Untuk berpoligami diperlukan izin dari istri tua dan pengadilan.

Allah SWT berfirman:

÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ   


Artinya: 

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. 



4. Tujuan Perkawinan

Tujuan perkawinan pada umumnya bergantung pada masing-masing individu yang akan melakukannya, karena lebih bersifat subjektif. Namun demikian, ada juga tujuan umum yang memang diinginkan oleh semua orang yang akan melakukan perkawinan, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin menuju kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dan akhirat.

Adapun tujuan perkawinan secara rinci dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Melaksanakan libido seksualitas

Semua manusia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai insting sex, hanya kadar dan intensitasnya yang berbeda. Dengan perkawinan seorang laki-laki dapat menyalurkan nafsu seksualnya kepada seorang perempuan dengan sah dan begitu pula sebaliknya. Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 223: 

öNä.ät!$|¡ÎS Ó^öym öNä3©9 (#qè?ù'sù öNä3rOöym 4’¯Tr& ÷Läê÷¥Ï© ( (#qãBÏd‰s%ur ö/ä3Å¡àÿRL{ 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# (#þqßJn=ôã$#ur Nà6¯Rr& çnqà)»n=•B 3 ̍Ïe±o0ur šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇËËÌÈ   


Artinya: 

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”.


b. Memperoleh keturunan

Insting untuk mendapatkan keturunan juga dimiliki oleh pria maupun wanita. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa, mempunyai anak bukanlah suatu kewajiban melainkan amanat dari Allah SWT. Walaupun dalam kenyataanya ada seorang yang ditakdirkan untuk tidak mempunyai anak.

Firman Allah dalam surat Asy-Syura: 49-50:

°! ہù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 ß,è=øƒs† $tB âä!$t±o„ 4 Ü=pku‰ `yJÏ9 âä!$t±o„ $ZW»tRÎ) Ü=ygtƒur `yJÏ9 âä!$t±o„ u‘qä.—%!$# ÇÍÒÈ ÷rr& öNßgã_Íirt“ム$ZR#tø.èŒ $ZW»tRÎ)ur ( ã@yèøgs†ur `tB âä!$t±o„ $¸J‹É)tã 4 ¼çm¯RÎ) ÒOŠÎ=tæ ֍ƒÏ‰s% ÇÎÉÈ  

Artinya: 

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa”.


c. Memperoleh keturunan yang saleh

Keturunan yang saleh/salehah bisa membahagiakan kedua orang tua, baik di dunia maupun diakhirat kelak. Dari anak yang diharapkan oleh orang tua hanyalah ketaatan, akhlak, ibadah, dan sebagainya yang bersifat kewajiban.

Nabi Muhammad SAW. Bersabda:

اذا ما ت ابن ادم انقطع عمله الا من ثلا ث صد قة جا رية او علم ينتفع به او ولد صا ليح يد عو له .(روه البخارى)

Artinya:

 “Jika seorang anak Adam telah meninggal, maka putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara, yaitu: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendo’akannya.” (H.R. Bukhori)


Menyikapi hadist tersebut, maka untuk mendapatkan keturunman yang saleh kita dilarang menikahi perempuan dari keluarga dekat (mahram), ataupun perempuan yang buruk budi pekertinya. Hanya anak salehlah merupakan bagian dari amal seseorang yang akan bermanfaat setelah ia meninggal.

d. Memperoleh Kebahagiaan dan Ketentraman

Dalam hidup keluarga perlu adanya ketentraman, kebahagiaan, dan ketenangan lahir batin. Dengan keluarga yang bahagia dan sejahtera akan dapat mengantarkan pada ketenangan ibadah.

Firman Allah dalam surat Al-A’raf: 189: 

* uqèd “Ï%©!$# Nä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur Ÿ@yèy_ur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— z`ä3ó¡uŠÏ9 $pköŽs9Î) ( $£Jn=sù $yg8¤±tós? ôMn=yJym ¸xôJym $Zÿ‹Ïÿyz ôN§yJsù ¾ÏmÎ/ ( !$£Jn=sù Mn=s)øOr& #uqt㨊 ©!$# $yJßg­/u‘ ÷ûÈõs9 $oYtGøŠs?#uä $[sÎ=»|¹ ¨ûsðqä3uZ©9 z`ÏB šúï̍Å3»¤±9$# ÇÊÑÒÈ   


Artinya: 

”Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah Dia merasa ringan (Beberapa waktu). kemudian tatkala Dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi Kami anak yang saleh, tentulah Kami terraasuk orang-orang yang bersyukur".


e. Mengikuti Sunnah Nabi

Nabi Muhammad SAW. Menyuruh kepada umatnya untuk menikah sebgaimana disebutkan dalam hadis:

االنكاح من سنتى فمن لم يعمل بسنتى فليس منى. (روه ابن ما جه)

Artinya: 

“Nikah itu adalah sunnahku, maka barang siapa yang tidak mau mengikuti sunnahku, dia bukan umatku.” (H.R. Ibnu Majah)


f. Menjalankan Perintah Allah SWT

Allah menyuruh kita untuk menikah apabila telah mampu. Dalam sebuah ayat Allah SWT . berfirman:

(#qßsÅ3Rr&ur 4‘yJ»tƒF{$# óOä3ZÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$#ur ô`ÏB ö/ä.ÏŠ$t6Ïã öNà6ͬ!$tBÎ)ur 4 bÎ) (#qçRqä3tƒ uä!#ts)èù ãNÎgÏYøóムª!$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù 3 ª!$#ur ììÅ™ºur ÒOŠÎ=tæ ÇÌËÈ   


Artinya: 

“ Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui” 


g. Untuk Berdakwah

Nikah dimaksudkan untuk dakwah dan penyebaran agama, islam membolehkan seorang muslim menikahi perempuan kristiani, katolik atau hindu. Akan tetapi melarang perempuan muslimah menikah dengan pria Kristen, Katolik, atau hindu. Hal ini atas dasar pertimbangan karena pada umumnya pria itu lebih kuat pendiriannya dibandingkan dengan wanita. Disamping itu, pria adalah sebagai kepala rumah tangga.


5. Rukun dan Syarat Perkawinan

Suatu perkawinan adalah sah menurut hukum islam, jika memenuhi seluruh rukun dan syarat perkawinan. Tidak terpenuhinya ketentuan-ketentuan mengenai rukun dan syarat tersebut akan membuat suatu perkawinan menjadi tidak sah. Rukun perkawinan adalah unsur yang harus ada dalam setiap perkawinan.

Kompilasi hukum Islam pasal 14 menentukan bahwa rukun atau unsur yang harus terpenuhi ketika perkawinan dilangsungkan adalah: calon suami, calon istri, wali nikah, dua orang saksi, dan ijab kabul (ijab qobul). Menurut jumhur ulama’ rukun nikah itu adalah sigah atau ijab dan kabul, calon istri, calon suami, dan wali.sedangkan saksi-saksi hanya dimasukkan sebagai syarat, seperti juga mahar dan maskawin. Rukun tersebut memerlukan sejumlah persyaratan agar suatu perkawinan dapat dilaksanakan dengan sah. Tidak terpenuhinya syarat- syarat tersebut dapat mengakibatkan batalnya suatu perkawinan, sehingga perkawinan itu tidak mempunyai akibat hukum.

Pada garis besarnya, syarat sah perkawinan itu ada dua yaitu: 

a. Laki-laki dan perempuannya sah untuk dinikahi. Artinya kedua calon pengantin adalah orang yang bukan haram dinikahi, baik karena haram untuk sementara atau selamanya.

b. Akad nikahnya dihadiri oleh para saksi.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   


6. Larangan Perkawinan

Hukum islam juga mengenal adanya larangan perkawinan yang dalam fikih disebut dengan mahram (orang yang haram dinikahi). Di masyarakat istilah ini sering disebut dengan muhrim sebuah istilah yang tidak terlalu tepat. Muhrim kalaupun kata ini ingin digunakan maksudnya adalah suami, yang menyebabkan istrinya tidak boleh menikah dengan pria lain selama masih terikat dalam sebuah perkawinan atau masih berada dalam masa iddah talak raj’i. Di samping itu muhrim itu juga digunakan untuk menyebut orang yang sedang ihram. 

Dalam hal larangan perkawinan ini Al-Qur’an memberikan aturan yang tegas dan terperinci. Dalam Surah an-Nisa’ ayat 22-23 Allah SWT. Dengan tegas menyebutkan: 

Ÿwur (#qßsÅ3Zs? $tB yxs3tR Nà2ät!$t/#uä šÆÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# žwÎ) $tB ô‰s% y#n=y™ 4 ¼çm¯RÎ) tb$Ÿ2 Zpt±Ås»sù $\Fø)tBur uä!$y™ur ¸x‹Î6y™ ÇËËÈ ôMtBÌhãm öNà6ø‹n=tã öNä3çG»yg¨Bé& öNä3è?$oYt/ur öNà6è?ºuqyzr&ur öNä3çG»£Jtãur öNä3çG»n=»yzur ßN$oYt/ur ˈF{$# ßN$oYt/ur ÏM÷zW{$# ãNà6çF»yg¨Bé&ur ûÓÉL»©9$# öNä3oY÷è|Êö‘r& Nà6è?ºuqyzr&ur šÆÏiB Ïpyè»|ʧ9$# àM»yg¨Bé&ur öNä3ͬ!$|¡ÎS ãNà6ç6Í´¯»t/u‘ur ÓÉL»©9$# ’Îû Nà2Í‘qàfãm `ÏiB ãNä3ͬ!$|¡ÎpS ÓÉL»©9$# OçFù=yzyŠ £`ÎgÎ/ bÎ*sù öN©9 (#qçRqä3s? OçFù=yzyŠ  ÆÎgÎ/ Ÿxsù yy$oYã_ öNà6ø‹n=tæ ã@Í´¯»n=ymur ãNà6ͬ!$oYö/r& tûïÉ‹©9$# ô`ÏB öNà6Î7»n=ô¹r& br&ur (#qãèyJôfs? šú÷üt/ Èû÷ütG÷zW{$# žwÎ) $tB ô‰s% y#n=y™ 3 žcÎ) ©!$# tb%x. #Y‘qàÿxî $VJŠÏm§‘ ÇËÌÈ    

 

Artinya: 

“ Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[ saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.


Berpihak dari ayat ini maka para ulama membuat rumusan-rumusan yang lebih sistematis sebagai berikut: 

1. Karena pertalian nasab (hubungan darah).

a. Ibu, nenek (dari garis ibu atau bapak) dan seterusnya keatas.

b. Anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah.

c. Saudara perempuan sekandung, seayah dan seibu.

d. Saudara perempuan ibu (bibi atau tante).

e. Saudara perempuan bapak (bibi atau tante).

f. Anak perempuan dari saudara laki-laki sekandung.

g. Anak perempuan dari saudara laki seayah.

h. Anak perempuan saudara laki-laki seibu.

i. Anak perempuan saudara perempuan sekandung.

j. Anak perempuan saudara perempuan seayah.

k. Anak perempuan saudara perempuan seibu.

2. Karena hubungan semenda.

a. Ibu dari istri (mertua)

b. Anak (bawaan) istri yang telah dicampuri (anak tiri).

c. Istri bapak (ibu tiri).

d. Istri anak (menantu).

e. Saudara perempuan istri adik atau kakak ipar selama dalam ikatan perkawinan.

3. Karena pertalian sepersusuan.

a. Wanita yang menyusui seterusnya ke atas.

b. Wanita sepersusuan dan seterusnya menurut garis ke bawah.

c. Wanita saudara sepersusuan dan kemenakan sesusuan ke bawah.

d. Wanita bibi sesusuan dan bibi sesusuan ke atas.

e. Anak yang disusui oleh istrinya dan keturunannya.


7. Pencegahan Perkawinan

Pencegahan perkawinan terjadi jika kurang memenuhi syarat-syarat perkawinan tidak terpenuhi. Yang dapat mencegah perkawinan adalah para keluarga dalam garis keturunan lurus keatas dan kebawah, saudara, wali nikah, wali pengampu dari salah seorang calon mempelai dan pihak-pihak yang bersangkutan. Pencegahan perkawinan dapat dilakukan oleh suami atau istri yang masih terikat perkawinan dengan salah seorang calon istri atau calon suami yang akan melangsungkan perkawinan.

Adapun tujuan dari pencegahan adalah untuk menghindari suatu perkawinan yang dilarang hukum islam dan peraturan perundang-undangan. Pencegahan perkawinan dapat dilakukan bila calon suami atau calon istri yang akan melangsungkan perkawinan tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan menurut hukum islam dan peraturan perundang-undangan.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                


8. Batalnya Perkawinan

Suatu perkawinan batal apabila: .

a). Suami melakukan perkawinan, sedang ia tidak berhak melakukan akad    nikah karena sudah mempunyai empat orang istri sekalipun salah satu dari keempat istrinya dalam iddah thalak raj’i.

b).  Menikahi bekas istri yang dili’annya

c). Menikahi bekas istri yang pernah dijatuhi thalak tiga, kecuali bila bekas istri tersebut pernah menikah dengan pria lain bercerai qabla dukhul dan telah habis masa iddahnya.

d). Perkawinan yang dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan darah, semenda, dan susuan

Suatu perkawinan dapat dibatalkan:

1.  Seorang suami melakukan poligami tanpa izin dari pengadilan agama.

2. Pria yang dikawini ternyata diketahui masih menjadi istri pria lain yang mafqud.

3.  Pria yang dikawini ternyata masih dalam iddah dari suami lain 

4.  Perkawinan yang melanggar batas umur.

5. Perkawinan yang dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak.

6.  Perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan.

D.  Adat Istiadat (‘Urf) Dalam Hukum Islam

1. Definisi

Secara umum, adat dapat dipahami sebagai tradisi lokal (local custom) yang mengatur interaksi masyarakat. Dalam ensiklopedi disebutkan bahwa adat adalah “kebiasaan” atau “tradisi” masyarakat yang telah dilakukan berulang kali secara turun temurun. Kata “adat” di sini lazim dipakai tanpa membedakan mana yang mempunyai sanksi, seperti “hukum adat”, dan mana yang tidak mempunyai sanksi, seperti disebut adat saja. Adapun yang dikehendaki dengan kata adat dalam karya ilmiah ini adalah adat yang tidak mempunyai sanksi yang disebut dengan adat saja.

Dalam literatur Islam, adat disebut     العادة atau العرف yang berarti adat atau kebiasaan. Menurut Abdul Wahâb Khalâf urf adalah:

الْعُرْفُ هُوَ مَا تَعَارَفَهُ النَّاسُ وَسَارُوْا عَلَيْهِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَرْكٍ وَيُسَمَّى الْعَادَةَ. وَفِي لِسَانِ الشَّرْعِيِّيْنَ لافَرْقَ بَيْنَ الْعُرْفِ وَالْعَادَةِ.

Artinya: 

Al-‘Urf adalah sesuatu yang telah diketahui oleh orang banyak dan dikerjakan oleh mereka, yang berupa perkataan, perbuatan atau sesuatu yang ditinggalkan. Hal ini dinamakan pulah dengan al-‘âdah. Dalam bahasa ahli syara’ tidak ada perbedaan antara al-‘urf dan al-‘âdah. 


Menurut Al-Jurjânîy yang dikutip oleh Abdul Mudjib, al-‘âdah adalah:

الْعَادَةُ مَااسْتَمَرَّالنَّاسُ عَلَيْهِ عَلَى حُكْمِ الْمَعْقُوْلِ وَعَادُوْا إِلَيْهِ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَ

Artinya: 

Al-‘âdah adalah sesuatu (perbuatan maupun perkataan) yang terus-menerus dilakukan oleh manusia, karena dapat diterima oleh akal, dan manusia mengulang-ulanginya secara terus-menerus. Adapun terhadap al-‘urf diartikan:


الْعُرْفُ مَااسْتَقَرَّتِ النُّفُوْسُ عَلَيْهِ بِشَهَادَةِ الْعُقُوْلِ وَتَلَقًّتْهُ الطَّبَائِعُ بِالْعُقُوْلِ. وَهُوَ حُجَّةٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ أَسْرَعَ إِلَى الْفَهْمِ بَعْدَ أُخْرَى.



Artinya: 

Al-‘urf adalah sesuatu (perbuatan maupun perkataan) yang jiwa merasa tenang dalam mengerjakannya, karena sejalan dengan akal sehat dan diterima oleh tabiat. Al-‘urf juga merupakan hujjah, bahkan lebih cepat untuk dipahami.


Memperhatikan definisi-definisi di atas, dan juga definisi yang diberikan oleh ulama-ulama yang lain, dapat dipahami bahwa Al-‘Urf dan Al-‘آdah adalah searti, yang mungkin serupa perbuatan atau perkataan. Dan secara sederhana dapat dipahami bahwa adat harus:

a. Diketahui banyak orang atau harus memasyarakat.

b. Diamalkan secara terus menerus dan berulang.


2. Macam-macam Adat (‘Urf)

  Menurut Al-Zarqa’ yang dikutip oleh Nasrun Haroen, ‘Urf (adat kebiasaan) dibagi pada tiga macam: 

a. Dari segi obyeknya ‘urf (adat istiadat) dibagi pada al-‘urf al-lafzhî (adat istiadat/ kebiasaan yang menyangkut ungkapan) dan al-‘urf al-‘amali (adat sitiadat/ kebiasaan yang berbetuk perbuatan).

1) Al-‘urf al-lafzhî (العرف اللفظى) adalah adat atau kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan ungkapan tertentu dalam meredaksikan sesuatu, sehingga makna ungkapan itulah yang dipahami dan terlintas dalam pikiran masyarakat.

2) Al-‘urf al-‘amali (العرف العملى) adalah kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan biasa atau muamalah keperdataan, yang dimaksud dengan “perbuatan biasa” adalah perbuatan masyarakat dalam masalah kehidupan mereka yang tidak terkait dengan kepentingan orang lain.

b. Dari segi cakupannya, ‘urf dibagi dua, yaitu al-‘urf al-‘âm (adat yang bersifat umum) dan al’urf al-khâsh (adat yang bersifat khusus).

1) Al-‘urf al-‘âm (العرف العام) adalah kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas diseluruh masyarakat dan diseluruh daerah.

2) Al-‘urf al-khâsh (العرف الخاص) adalah kebiasaan yang berlaku di daerah dan masyarakat tertentu.

c. Dari segi keabsahannya dari pandangan syara’, ‘urf dibagi dua yaitu: al-‘urf al-shâhih (adat yang dianggap sah) dan al-‘urf al-fâsid (adat yang dianggap rusak).

1) Al-‘urf al-shâhih (العرف الصحيح) adalah kebiasaan yang berlaku ditengah-tengah masyarakat yang tidak bertentangan dengan nâsh (ayat atau hadits), tidak menghilangkan kemaslahatan mereka, dan tidak pula membawa mudarat kepada mereka.

2) Al-‘urf al-fâsid (العرف الفاسد) adalah kebiasaan yang bertentangan dengan dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah dasar yang ada dalam syara’.

3. Kehujjahan  Adat (‘Urf ) dan Peranannya Dalam Hukum Islam 

 Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa al-‘urf al-shâhih baik yang menyangkut al-‘urf al-lafzhî,  al-‘urf al-‘amali maupun menyangkut al-‘urf al-‘âm dan al’urf al-khâsh,  dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum syara’. Menurut Imam al-Qarafi (ahli fiqh Maliki) yang dikutip oleh Harun Nasroen menyatakan bahwa seorang mujtahid dalam menetapkan suatu hukum harus terlebih dahulu meneliti kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat setempat, sehingga hukum yang ditetapkan itu tidak bertentangan atau menghilangkan kemasalahatan yang menyangkut masyarakat tersebut. Dengan mengutip pendapat Imam al-Syathibi (ahli ushul fiqh Maliki) dan Ibn Qayyim al-Jauzi (ahli ushul fiqh Hanbali) Nasrun Haroen juga menyatakan bahwa seluruh ulama mazhab menerima  dan menjadikan ‘urf sebagai dalil syara’ dalam menetapkan hukum apabila tidak ada nash yang menjelaskan hukum masalah yang sedang dihadapi. Misalnya, seseorang menggunakan jasa pemandian umum dengan harga tertentu, padahal lamanya ia di dalam kamar mandi dan berapa jumlah air yang terpakai tidak jelas. Sesuai dengan ketentuan hukum syari’at Islam dalam suatu akad, kedua hal ini harus jelas. Akan tetapi, perbuatan seperti itu telah berlaku luas ditengah-tengah masyarakat, sehingga seluruh ulama mazhab menganggap sah akad ini. Alasan mereka adalah adat perbuatan yang berlaku.

Muhammad Abu Zahrah menyatakan bahwa adat (urf) merupakan sumber hukum yang diambil oleh Mazhab Hanafi dan Maliki dan sesungguhnya perbedaan diantara para fuqaha’ adalah perbedaan adat dimana mereka hidup.

Dari berbagai kasus adat yang dijumpai, para ulama’ ushul fiqih merumuskan kaidah-kaidah fiqh yang berkaitan dengan adat, diataranya adalah:

العادة محكة ما لم يخالف النص

Adat kebiasaan bisa dijadikan Hukum selama tidak bertentangan dengan nash

Adat bisa dijadikan sebagai salah satu dalil dalam menetapkan hukum syara’ apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 

a. Berlaku secara umum

b. Telah memasyarakat ketika persoalan yang akan ditetapkan hukumnya itu muncul.

c. Tidak bertentangan dengan yang diungkapkan secara jelas dalam suatu transaksi.

d. Tidak bertentangan dengan nash.


Belum ada Komentar

Posting Komentar