Karmuji.com | Penyuluh Agama Islam Tuban

Wanita Karir dalam kacamata Agama Islam





Wanita Karir dapat diartikan dengan wanita yang berkecimpung dalam kegiatan profesi (usaha, perkantoran dan sebagainya). atau dapat diartikan seseorang wanita yang bekerja dan menjadikan pekerjaan atau karirnya sebagai prioritas utama dibandingkan hal-hal lainnya.

Emansipasi Wanita

Pandangan terhadap Wanita 

Secara garis besar pandangan masyarakat terhadap wanita dapat digolongkan menjadi dua begitu pula dalam menempatkannya Pandangan pertama:  menempatkan wanita secara sempit. Wanita tiada lain hanyalah sesosok insan lemah yang selalu taat kepada suami baik dalam hal makruf ataupun mungkar sehingga wanita tidak boleh keluar dari rumah untuk keperluan apa pun. Mereka hanya boleh bergerak dalam 3 unsur (kasur, dapur, sumur) sehingga yang terjadi adalah serba salah silaturrahim ke saudara atau mertua dilarang, belajar di luar rumah dilarang, ke suatu tempat untuk memenuhi suatu keperluan juga dilarang. Semua larangan itu terkadang justru akan membuat wanita itu menjadi jumud, kurang wawasan, dan tidak tahu apa-apa. Dalam hal ini seolah-olah wanita yang bersedia menikah dengan seorang laki-laki adalah bagaikan menyerahkan diri ke dalam penjara, yaitu penjara suaminya. Pandangan seperti ini tentu bertentangan dengan ajaran Islam, karena Islam sangatlah menjunjung tinggi derajat wanita, menghormati kesuciannya serta menjaga martabatnya, dan tidak menjadikannya layaknya budak bagi suaminya dengan kesempitan yang ia dapatkan.

Pandangan kedua, mereka yang terlalu membela hak wanita dan secara bebas mendudukkannya sebagai persamaan, atau yang biasa disebut “emansipasi” atau “kesetaraan gender”.

Makna Emansipasi Wanita secara Umum

Salah satu persepsi publik paling populer adalah bahwa makna emansipasi wanita adalah “perjuangan kaum wanita demi memperoleh persamaan hak dengan kaum laki-laki”. Tuntutan seperti ini jelas bertentangan dengan fitrah Allah SWT yang telah menciptakan manusia menjadi dua jenis. Dalam satu jenis saja baik laki-laki maupun wanita rasanya tidak mungkin seseorang menuntut persamaan di antara semua individu. Bahkan seluruh kehidupan ini akan rusak jika persamaan diartikan seperti itu. Harus diakui hukum sebuah materi yang ada dalam kehidupan ini adalah berdasarkan pada perbedaan. Jika di antara sesama kaum laki-laki saja tidak mungkin terwujud persamaan, bagaimana pula eratnya antara laki-laki dan wanita.

Kita tidak bisa menerima prinsip persamaan secara mutlak. Namun kita harus yakin bahwa dibalik semua itu tentu ada kadar persamaan antara laki-laki dan wanita yang disebut sebagai keadilan bukan persamaan. Secara kodrati meski dipaksakan dengan cara apa pun kaum laki-laki tidak mungkin melakukan memenuhi hak-haknya adalah sama dengan itu. perilaku kodrati wanita, seperti menstruasi (datang bulan), pregnasi (mengandung plus melahirkan), dan laktasi (menyusui). Allah SWT memang menciptakan sifat-sifat biologis kodrati laki-laki beda dengan wanita. Bentuk alat kelamin laki-laki juga diciptakan Allah berbeda dari wanita. Justru itu adalah demi fungsi reproduksional agar makhluk manusia tidak punah. 

Keliru sambil merugi jika kaum wanita berjuang untuk memperoleh hak yang sama dengan hak laki-laki. Karena berdasar latar belakang kodrati yang berbeda di dunia tenaga kerja di Indonesia masa kini misalnya kaum wanita justru memiliki kelebihan hak ketimbang laki-laki yakni cuti menstruasi, hamil sekaligus melahirkan. Dengan hak cuti dua hari setiap bulan di masa menstruasi masih ditambah hak cuti tiga bulan = 90 hari di masa hamil dan melahirkan, seorang pekerja wanita malah memiliki kelebihan hak cuti selama  90 + (12 x 2) = 114 hari dari pada laki-laki. Apabila hak pekerja wanita disamakan dengan pekerja laki-laki, maka langsung hak lebih 114 hari itu akan lenyap demi kerugian wanita. Sebaliknya tidak ada alasan bagi pekerja laki-laki untuk disamakanhak cuti kodratinya dengan pekerja wanita, akibat latar belakang realita kodrati biologis kaum laki-laki mustahil memenuhi syarat untuk memperoleh cuti.

Secara kultural jika hak wanita disamakan dengan laki-laki maka justru sangat merugikan wanita. Dengan persamaan hak maka kaum wanita terutama yang sedang hamil akan kehilangan hak kultural untuk dilindungi dan prioritas kemudahan di saat-saat khusus seperti hak memperoleh tempat duduk yang layak di kendaraan umum atau hak untuk terlebih dahulu diselamatkan ketika bencana atau kecelakaan maupun hak untuk memperoleh prioritas kehormatan seperti dibukakan pintu mobil, dipayungi ketika hujan, dan aneka adat istiadat tata kesopanan yang menguntungkan kaum wanita lainnya.

Degradasi moralitas wanita terbuka lebar di depan mata, lantaran kesalahan dalam memahami konsep emansipasi. Berkaitan dengan pornografi dan pornoaksi, beberapa waktu lalu terjadi perdebatan sengit dan sangat menegangkang antara pro (dapat merusak moral terutama generasi muda) dan kontra (kebebasan berekspresi dan nilai seni) terhadap RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi).Yang melarang adanya tindakan-tindakan yang berbau porno aksi dan pornografi sebagaimana dalam Bab II pasal 4, “Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara, atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syai rlagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi bagian tubuh tertentu yang sesuai dari orang dewasa.”Juga pada pasal 5 “Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara, atau rekaman suara, film, atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh orang dewasa.”

Pada hakikatnya Undang-undang tersebut adalah upaya melindungi kehormatan wanita yang selama ini dijadikan obyek penjualan utama produk pornografi dan pornoakasi. Mulai dari iklan-iklan terkadang setengah telanjang, ditambah lagi adegan-adegan mesum di televisi, semua lebih disimbolkan dengan keburukan dan kerendahan wanita. Jika kita mau jujur praktik tersebut tidak bisa digolongkan dengan emansipasi atau kebebasan tetapi lebih kepada “kebablasan”. Padahal emansipasi wanita oleh pemudi zaman klasik adalah membuang stigma kasar bahwa wanita hanya berkisar “kasur, sumur, dan dapur”. Paradigma ini membuat kaum wanita tertekan, tertindas bahkan merasa tak berguna.

Tidak diragukan lagi bahwa masyarakat Barat telah memutar balikkan ukuran norma dan nilai. nilai kewanitaan Kaum wanita diposisikan sejajar dengan laki-laki dalam segala hal dari masalah yang besar hingga soal-soal yang terkecil. Masyarakat Barat yang mengibarkan bendera pembebasan wanita sama artinya mereka menebarkan racun emansipasi di tengah umat Islam. Para penyeru itu lupa atau lebih tepat dikatakan pura-pura lupa terhadap masing-masing kodrat dua jenis. makhluk tersebut yang secara biologis dan kejiwaan keduanya diciptakan Allah SWT secara berbeda.

Sungguh tidak mengherankan karena apa yang mereka inginkan adalah lebih dari sekadar persamaan. Persamaan yang mereka serukan hanyalah sarana pemuasan nafsu mereka secara bebas. Mereka tidak lagi menjadikan Agama sebagai rujukan dan pedoman saat ada masalah. Mereka ragu bahkan ingkar terhadap kepercayaan agama. Bahkan sebelum dan sesudahnya mereka juga telah menginginkan supaya kemungkaran merajalela di tengah masyarakat Muslim. Mereka menginginkan kehancuran Islam dan tahu kuncinya berada di tangan wanita. Oleh karena itu, Rasulullah Muhammad SAW  tidak mewasiatkan tentang fitnah yang lebih berbahaya atas kaum laki-laki selain dari wanita. Jalan menuju kerusakan suatu kaum tidak lain adalah melalui kaum wanita.

Sejarah bersaksi bahwa faktor kehancuran budaya Yunani yang paling menonjol adalah karena keluarnya para wanita secara bebas di berbagai lapangan pekerjaan. Jalanan dipenuhi oleh para wanita yang keluar rumah berdesak desakan dan berkompetisi dengan kaum laki-laki. Dari sini kemudian timbul fitnah kaum laki-laki lantas kehilangan kendali dan akhirnya akhlaknya dipertaruhkan. Padahal jika akhlak sebuah masyarakat lenyap maka lenyap pula eksistensi masyarakat itu. 

Ironisnya, akibat dari semua itu adalah kehancuran merajalela karena akhlak tidak lagi menjadi pengendali jiwa. Tidak ada lagi kebaikan di tengah manusia. Dari sini kembalilah masyarakat tersebut kepada bentuk masyarakat hewani. Masyarakat yang melampiaskan semua nafsu dan keinginan tanpa memerhatikan norma dan nilai-nilai yang ada. 

Makna Emansipasi Yang Benar 

Salah satu konsep yang ditetapkan Islam adalah bahwa seorang laki-laki harus menjaga kelaki-lakiannya. Oleh sebab itu, sangat tepat ajaran Rasulullah Muhammad SAW yang mengharamkan laki-laki memakai emas dan sutra. Begitu pula seorang wanita juga harus menjaga kewanitaannya, karena itulah diharamkan atasnya berbaur dengan kaum laki-laki, apalagi sampai sengaja mempertontonkan diri di hadapan mereka. Jadi, makna emansipasi wanita yang benar adalah perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri yang hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Jika seandainya makna emansipasi wanita adalah menuntut persamaan antara hak dan kebebasan dengan laki-laki, hal tersebut tidaklah mungkin.

Peran wanita pada masa Rasulullah Muhammad SAW. 

Dalam sejarah peradaban islam wanita memiliki andil dalam memajukan islam dalam segala aspek begitu pula saat Rasulullah Muhammad SAW. jihad dalam peperangan wanita ikut serta dengan Rasulullah Muhammad SAW. dan seluruh pasukan perang  dalam hal ini dikarenakan kepergian wanita ke medan perang bukan suatu faktor kekuatan penting di samping keikut sertaan mereka di dalam berperang adalah atas nama pribadi bukan atas nama kelompok. para wanita itu tidak ikut serta keluar ke medan jihad kecuali dengan izin Rasulullah Muhammad SAW. dan atas desakan dari mereka sendiri. Serta  peranan wanita di medan perang disesuaikan dengan kodrat kewanitaannya. Mereka tidak ikut latihan berkuda sebagaimana kaum laki-laki juga tidak diharuskan ahli dalam bersenjatakan pedang atau perisai walaupun sebagai bentuk kehati-hatian yang dapat bermanfaat dalam situasi yang sangat mendesak dan gawat seperti yang dilakukan oleh Nusaibah binti Ka ’ab yang membela Rasulullah Muhammad SAW. dengan pedangnya pada Perang Uhud. Sahabat wanita yang lain seperti Rumaisha yang dengan goloknya ia menyobek perut setiap kaum musyrikin yang melewatinya. dan ini yang terpenting, bahwa para wanita yang pergi ke medan jihad tidak berangkat kecuali dengan mahram yang senantiasa menyertainya.

Dari sini jelaslah bahwa para wanita Islam sesuai fakta sejarah tidak ikut serta membentuk pasukan militer seperti yang dilakukan kaum laki-laki di medan jihad. Secara hukum, mereka tidak diwajibkan memenuhi panggilan jihad sebagaimana kaum laki-laki. Jika harus ikut serta, maka peranannya di medan jihad adalah sebatas kodrat kewanitaannya. Hal ini berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyah RA, “Aku ikut berperang bersama Nabi sebanyak tujuh kali, aku menggantikan mereka dalam menjaga perbekalan, aku buatkan mereka makanan, aku obati mereka yang terluka, dan aku menjaga mereka yang sakit.” 

Pada masa Rasulullah Muhammad SAW  kaum wanita pernah menuntut agar diberi kesempatan melakukan jihad secara kelompok dan terorganisir, sebagaimana mereka juga menuntut agar diberi pahala jihad yang sama dengan kaum laki-laki. Salah seorang dari shohabiyah (sahabat wanita) atas nama segenap kaum Wanita pada waktu itu mengadu kepada Rasulullah Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah Muhammad SAW, aku adalah delegasi segenap kaum muslimah kepadamu. Jihad telah diwajibkan oleh Allah atas kaum laki-laki. Jika mereka menang, mereka mendapatkan balasan pahala dan jika mereka terbunuh maka mereka tetap hidup di sisi Allah dan diberi rezeki. Lalu apa bagian kami dari itu semua?” Rasulullah Muhammad SAW menjawab, “Sampaikanlah kepada segenap kaum muslimah yang engkau temui, bahwa ketaatan kepada suami dan memenuhi hak-haknya adalah sama dengan itu. Tetapi sedikit sekali dari kalian yang melakukannya. Ketaatan kepada suami dan memenuhi hak-haknya adalah senilai dengan pahala jihad fisabililllah”. Oleh karena itu, arena jihad wanita muslimah adalah di rumah melayani suaminya dengan baik dan memenuhi hak-haknya, termasuk di antaranya haji dan umrah sebagaimana didapati dalam hadits lain.

Jihad wanita bukanlah harus dengan keluar secara terorganisir memanggul senjata sebagaimana yang dijadikan alasan oleh para penyeru emansipasi. Jika kita cermati sebenarnya yang mereka inginkan adalah pergaulan bebas tanpa batas antara kaum Adam dan Hawa disetiap lapangan kehidupan. Mereka tak lain hanyalah ingin menikmati tubuh wanita yang tidak menutup auratnya, bahkan untuk menghancurkan pemuda pemudi kaum Muslimin melalui kesempatan emansipasi tersebut. Di samping itu seakan-akan mereka menuduh kaum laki-laki begitu lemah dan telah kehilangan kekuatannya. Seakan medan perang telah hilang pilar penyangganya sehingga Karena itu hendaknya para penyeru emansipasi, utamanya dari kalangan umat Islam, memahami bahwa jihad wanita yang paling mulia adalah haaji yang mabrur.

Wanita Keluar Rumah

Usaha Musuh Islam agar Wanita Keluar Rumah 

Kaum Yahudi dan Nasrani serta rahib dan para pendetanya telah berusaha menghancurkan tatanan keluarga Muslim. Keyakinan bahwa mereka selama-lamanya akan terus menghancurkan kaum Muslimin adalah karena Allah SWT sendiri telah mengabarkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah:120


وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

Terjemahnya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan dating kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagim.

Selanjutnya usaha mereka itu dijalankan oleh Dhoimer. Mula-mula ia mengadakan kongres kemanusiaan pada tahun 1908, yang pada saat itu ia menganjurkan para pendeta dan rahib serta teman-teman dan murid-muridnya agar berusaha mengajak para wanita Muslimah keluar dari rumahnya dan merusak hubungan dengan suami, orang tua, dan anak anaknya. Setelah itu Dhomeir menjelaskan bahwa jalan terbaik untuk menjatuhkan kaum muslimin dari Islamnya adalah dengan merusak para wanitanya.

Goldstone (salah seorang pemeluk Kristen) sebagaimana yang dikutip oleh Anshorullah mengatakan, “Situasi timur tidak pernah akan tenang kalau hijab tak segera direnggut dari wanita kaum Muslimin.” Ia juga mengatakan, “Untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan Islam terlebih dahulu haruslah dilenyapkan pakaian jilbab dari kaum wanita, pengajaran Al-Quran harus dilarang, minuman memabukkan harus dimasukkan ke negeri Islam, narkotika dan barang-barang yang merusak serta perbuatan munkar digalakkan.

Jean Paul Rau (seorang pemeluk Kristen) yang dikutip oleh Anshorullah mengatakan, “Sesungguhnya pengaruh Barat yang terlihat di segala bidang dan dapat mengusai masyarakat Islam memang lebih baik tidak perlu ditonjolkan, biarlah yang menonjol gerakan kebebasan wanita.

Zumer (seorang pemeluk Kristen) yang dikutip oleh Anshorullah mengatakan, “Orang-orang Nasrani tidak boleh putus asa, sebab di dalam hati kaum Muslimin benar-benar telah berkembang kecenderungan yang cukup mencolok ke arah ilmu bangsa-bangsa Eropa dan kepada kebebasan wanitanya.”

Anna Milgan (missionaris Kristen) mengatakan, “Tak ada jalan yang lebih pendek untuk merobohkan Islam dari pada keluarnya wanita muslimah tanpa menutup kepala dan berpakaian yang tidak senonoh.”

Sebab itulah musuh-musuh Islam tidak pernah gencar dan akan selalu berusaha untuk menerobos kekuatan Islam dengan menjadikan wanita sebagai umpan yang sangat indah dengan mempergunakan sarana-saran informasi sebagai medianya dimana wanita ditampilkan sebagai penyanyi,  penari, bintang iklan, film dan sebagainya. Bahkan  sekali waktu wanita ditampilkan dalam pose telanjang. Untuk itulah mereka mengerahkan seluruh kemampuan yang ada. 

Sebab-sebab Wanita Keluar Rumah 

Keluarnya wanita dari rumah tidak semua hanya tentang hal negatif atau tentang hal-hal buruk yang dapat menjatuhkan harga diri wanita tersebut atau hal yang dapat membahayakan agama dan lingkungannya, namun ada beberapa sebab yang menjadikan wanita keluar rumah. dimana sebab tersebut dibagi menjadi dua   Sebagaiaman berikut :

Dangkalnya ilmu mereka terhadap nilai-nilai Islam 

Penyebab utama yang mendasari seorang wanita keluar rumah adalah karena mereka kurang mengerti hakikat dan peranannya di dalam menciptakan generasi-generasi Islam masa mendatang. Oleh karenanya, hari-hari mereka dihabiskan di luar rumah hanya ingin mencapai ekonomi yang makmur. Semua itu karena dan akalnya pemahaman kaum wanita mengenai nilai-nilai Islam itu sendiri.

Dampak Ekonomi 

Ekonomi juga merupakan tuntutan dan kebutuhan wanita sehingga faktor inilah yang banyak mempengaruhi wanita keluar dari rumahnya. Dengan adanya sebuah tuntutan seorang wanita akan keluar dari rumah demi memenuhi tuntutan tersebut sesuai kemampuannya. ”Misalnya tuntutan untuk belajar, mengajar, ataupun hal-hal lain yang pelaksanaan dan pemanfaatannya adalah bersifat lebih umum dari pada kebutuhan.

Dampak Negatif Wanita Berkarir di Luar Rumah 

Meskipun tidak semua yang dilakukan wanita diluar rumah adalah tentang hal-hal yang bersifat negatif. Namun, dengan keluarnya para wanita dai rumah menimbulkan beberapa dampak negatif di antaranya sebagai berikut.

Dampak Negatif dari Sisi Agama 

Berpotensi untuk membuka aurat. Para wanita yang bekerja di luar rumah biasanya melepaskan hijabnya sering bepergian dan memakai parfum atau make up yang dapat mengundang syahwat kaum laki laki. 

Membiasakan ikhtilat (bercampur dengan laki-laki) dan ini sulit dihindari oleh wanita yang bekerja ke luar rumah.

Membiasakan bertabarruj (bersolek) dan ini hampir menjadi kebiasaan bagi wanita yang bekerja di luar rumah, bahkan konsekuensi bagi mereka.

Membiasakan khalwat (berduaan).

Menelantarkan putra putri mereka sehingga kurang mendapatkan kasih sayang, perawatan, dan pendidikan langsung dari sang ibu. 

Dampak Negatif dari Aspek Kejiwaan

Penelitian kedokteran di lapangan (dunia Barat) menunjukkan telah terjadi perubahan signifikan terhadap bentuk tubuh wanita karir secara biologis sehingga menyebabkannya kehilangan naluri kewanitaan, tetapi tidak berubah jenis kelamin menjadi laki-laki. Jenis wanita semacam ini dijuluki sebagai jenis kelamin ketiga. 

Menurut data statistik, kebanyakan penyebab kemandulan para isteri yang bekerja sebagai wanita-wanita karir tersebut bukan karena penyakit yang biasa dialami oleh anggota badan, tetapi lebih diakibatkan kebiasaan wanita di masyarakat Eropa yang secara total, baik dari aspek materil, pemikiran, maupun biologis, lari dari fitrahnya (yakni sifat keibuan). 

Penyebab lainnya adalah upaya mereka untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum laki-laki dalam segala bidang. Hal inilah yang secara perlahan menghilangkan sifat keibuan mereka dan terjadinya kemandulan serta berhentinya ASI sebagai akibat perbauran dengan kaum laki-laki. 

Para wanita karir yang menjadi ibu rumah tangga tidak dapat memberikan pelayanan secara terus- menerus terhadap anak-anak mereka yang masih kecil karena hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk karir mereka. 

Berkurangnya angka kelahiran sehingga pemerintah Negara tersebut (Inggris) saat ini menggalakkan kampanye memperbanyak anak dan memberikan penghargaan bagi keluarga yang memiliki banyak anak. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan kondisi yang ada di dunia Islam.

Oleh karenanya, bagi kaum Muslimah sebaiknya menyadari bahwa pekerjaan seorang wanita di luar rumah pada hakikatnya siksaan bagi dirinya walaupun hal tersebut tampaknya tidak terasa. Seorang wanita tidak mampu bekerja atau melakukan pekerjaan sebagaimana kaum laki laki dalam banyak hal, karena kondisi fisik wanita yang lemah yang membuatnya tidak leluasa bergerak. Selain itu, beberapa penyebab yang semakin membuat muslimah merasa berat untuk bekerja di luar rumahnya, di antaranya sebagai berikut,

Haid. Pada waktu haid seorang wanita harus beristirahat dan tidak boleh membawa beban berat agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merusak kesehatan dan dirinya serta mengganggu kelancarannya. 

Hamil. Dalam kondisi hamil seorang wanita merasakan lemah sehingga tidak mampu bekerja berat dan akan berakibat buruk pada kesehatan dan bayinya jika ia terus memaksakan pekerjaannya.

Nifas (melahirkan). Dalam kondisi tersebut seorang wanita juga merasakan berbagai kesulitan dan tubuhnya merasa lemah dia kehilangan darahnya. Oleh sebab itu, dia tidak boleh dibebani pekerjaan yang memberatkan. 

Menyusui dan merawat anak. Selama dua tahun seorang ibu harus merawat bayinya selalu menyertainya mengurus segala kebutuhannya dan mendidiknya. Di samping itu, dia masih harus menangani pekerjaan rumah demi berlangsungnya kebahagiaan rumah tangganya. Jika hal itu ditinggalkan akan menjadi bencana bagi seluruh keluarganya. 

Susunan tubuh seorang wanita yang hamil, melahirkan anak, serta menyusuinya, sangat berbeda dengan tubuh seorang laki-laki yang tidak menanggung beban semua itu.

Sesungguhnya kesuksesan yang sebenarnya bagi wanita Muslimah adalah keberhasilan dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Jadi bukanlah kebahagiaan dan kesuksesan dengan kekayaan yang ia dapatkan dengan keluar dari rumahnya karena akan dihadapkan dengan berbagai dam pak negatifnya. 

Wanita Karir Menurut Islam

Pandangan Islam tentang Wanita Karir

Islam menghormati wanita dengan penghormatan yang sangat luhur serta mengangkat martabatnya dari sumber keburukan dan kehinaan, dari penguburan hidup-hidup dan perlakuan buruk ke kedudukan yang terhormat dan mulia. Hal ini karena wanita menjadi ibu dan sebagai isteri yang harus diperlakukan dengan lemah lembut dan kehalusan.

Salah seorang ulama Indonesia yang di akui kemashurannya mengemukakan pendapatnya tentang wanita berkarir M.Quraish Sihab menjelaskan bahwa wanita mempunyai hak untuk bekerja selama pekerjaan tersebut membutuhkannya dan selama mereka membutuhkan pekerjaan tersebut serta pekerjaan tersebut dilakukanya dalam suasana terhormat, sopan serta dapat pula menghindari dampak-dampak negarif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.

Seorang muslimin yang teguh dalam ketaatannya kepada Allah SWT, maka Allah SWT menyediakan baginya seperti apa yang telah disediakan bagi kaum Muslim. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surah An-Nahl ayat 97.

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Terjemahnya: Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki. laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

Allah SWT menciptakan kaum wanita dengan susunan yang sangat berbeda dengan susunan tubuh laki-laki. Allah SWT mempersiapkan wanita untuk bekerja di dalam rumah dengan sifat pekerjaan yang sesuai dengan kewanitaannya.

Jika Islam memberikan kedudukan yang sama antara laki-laki dan wanita di dalam hak dan kewajiban, hal itu berarti agar wanita dapat menjaga pribadinya dengan kehalusan perasaannya. Kelemahan wanita dari beberapa segi diakui dan dibenarkan oleh Islam, dan mempunyai hukum tersendiri yang meletakkan wanita pada tempat yang sesuai dan disesuaikan dengan keadaannya itu. Islam telah menentukan kewajiban-kewajiban tersendiri bagi setiap laki-laki dan wanita. Masing-masing dituntut untuk melaksanakan peranannya, sehingga bangunan masyarakat akan sempurna, baik di dalam maupun di luar rumah. Laki-laki dituntut mencari nafkah, sementara wanita dituntut mendidik anak-anaknya, memberi perhatian, kasih sayang, menyusui, dan mengasuhnya. Sedangkan meninggalkan tugas-tugas rumah bagi wanita berarti menyia-nyiakan rumah dan penghuninya. Hal ini akan menyebabkan terpecahnya lahir dan batin keluarga, serta dampak-dampak negatif lainnya.

Dengan demikian, peranan wanita dalam memelihara diri dan keluarganya merupakan perkara yang perlu diperhatikan dan dicermati. Apalagi kedudukan mereka dalam keluarga menjadi pendamping setia bagi suami, mendidik anak-anak, menggantikan kedudukan suami jika ia tidak ada, memenuhi kewajibannya bagi suami, dan segala hal yang berkaitan dengan urusan rumah, karena sudah barang tentu ia mempunyai tuntutan-tuntutan di dalam keluarga. 

Allah SWT menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang berat, pantang menyerah, sabar, dan lain-lain. Oleh karenanya, sesuai dengan pekerjaan yang melelahkan yaitu menghidupi keluarga secara layak. Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita adalah mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang, pusing-pusing, rasa sakit di perut, serta melemahnya daya pikir. Ketika melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak, tetapi harus dijalaninya. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh ibu sehingga mengurangi staminanya. Oleh karena itu, Agama Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan atau karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya, serta menjaganya dari pelecehan terhadapnya. 

Agama Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita serta tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya. Oleh karena itu, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa menunggu ('iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati hendaknya nafkahnya dibebankan ke atas pundak orang tuanya atau anak-anaknya yang lain.

Apabila wanita menikah suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Apabila diceraikan, maka selama masa ‘iddah (menunggu) suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan nafkah anak-anaknya, serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka sedangkan wanita tersebut tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut. Selain itu, apabila wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin. 

Karir Wanita Muslimah

Dalam menjalankan peranannya sebagai seorang wanita banyak karir yang harus dilaksanakan, sebagaimana karir-karir yang dilaksanakanan para wanita muslimah, berikut adalah karirnya:

Wanita sebagai hamba Allah SWT.

Taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Tidak menyekutukan Allah SWT dan mematuhi orang tua.

Menjaga diri dan keluarga dari murka Allah SWT dan neraka-Nya.

Menjalankan amal-amal ibadah yang banyak sekali jumlahnya

Wanita sebagai isteri

Taat kepada suami selagi dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Senantiasa menyenangkan suami dan kasih sayang kepada anak.

Menjaga kehormatan dirinya dan harta benda suaminya apabila suami tidak ada.

Tidak cemberut dihadapan suami.

Tidak mengecewakan suaminya apabila suami memerlukannya.

Harus mendapatkan izin suami apabila hendak keluar rumah.

Tidak menyalahkan suaminya dihadapan orang lain.

Tidak meminta cerai.

Senantiasa membantu suaminya dalam kebenaran dan bebajikan.

Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga

Menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.

Bertanggung jawab terhadap kebersihan dan kerapian rumah tangga.

Memlihara anak mulai dari kandungan hingga menyusui dan beranjak dewasa.

Sebagai pendidik anak-anaknya.

Wanita Sebagai Guru.

Wanita Sebgaia Murid

Wanita Sebagai rakyat dalam Daulah Islamiyah

Wanita Sebagai Makhluk Sosial.

Wanita Karir dalam Rana Profsesi.

Alasan yang Memperbolehkan Wanita Karir

Ulama fiqih menyatakan ada dua alasan dimana seorang wanita diperbolehkan untuk bekerja diluar rumah dan mencari nafkah, apabila berdasarkan pada alasan berikut.

Rumah tangga memerlukan banyak biaya untuk kebutuhan sehari hari dan untuk menjalankan fungsi keluarga sementara penghasilan suami belum begitu memadai, suami sakit atau meninggal sehingga ia berkewajiban mencari nafkah bagi dirinya sendiri maupun anak-anaknya.

Masyarakat memerlukan bantuan dan peran wanita untuk melaksanakan tugas tertentu yang hanya dapat dilakukan oleh seorang wanita seperti perawat, dokter, guru dan pekerjaan lain.

Syarat Wanita Karir

Agama islam adalah agama Rohmatanlil alamin agama yang mengatur segala aspek kehidupan baik laki-laki maupun wanita. Begitupula apaliba wanita muslimah yang hendak beraktifitas di luar rumah atau menjadi wanita karir yakni harus berpegang dan mentaati peraturan syariat, baik dalam aspek tingkah laku, berpakaiam maupun berprofesi. Ketentuan yang wajib dilakukan di antaranya:

Keluar rumah karena adanya keperluan (hajat)

Mendapatkan izin suami atau wali

Terjamin dari ancaman fitnah

Dengan menutup aurat

Harus menghindari terjadinya ikhtilath dengan laki-laki bukan mahram

Tidak dengan cara tasyabbuh.

Tidak berhias

Tidak berpakaian ketat dengan menonjolkan bentuk tubuh

Bentuk profesi yang dilakukan diperbolehkan (tidak dilarang) syariat.

Belum ada Komentar

Posting Komentar