Karmuji.com | Penyuluh Agama Islam Tuban

Efektivitas Mediasi Dalam Penyelesaian Perkara Perceraian di Pengadilan Agama Tuban,

 



Peraturan Mahkamah Agung mengenai Perma Nomor 1 Tahun 2016 tentang prosedur mediasi dipengadilan merupakan bentuk pembaharuan dan peraturan dari Mahkamah Agung sebelumnya, yakni peraturan Mahkamah Agung Perma Nomor 1 Tahun 2008 tentang prosedur mediasi di pengadilan. Dalam hal ini bagaimana pelaksanaan mediasi pada perkara perceraian di Pengadilan Agama Tuban, sebagai salah satu penyelesaian sengketa (perceraian) dapat dikatakan efektif atau adanya peningkatan pencabutan perkara penceraian dengan upaya damai atau rukun, dengan cara membandingkan prosentase perkara perceraian yang masuk pada Pengadilan Agama Tuban sesudah berlakunya Perma Nomor 1 tahun 2016. Dengan menitik beratkan pada perkara perceraian yang masuk pada pengadilan Agama Tuban yang berhasil dicabut dengan alasan damai atau Rukun.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yaitu penelitian dengan data yang diperoleh dari kegiatan lapangan. Lokasi penelitian di Pengadilan Agama Tuban, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban. Dalam penelitian ini peneliti menggunakkan jenis penelitian kualitatif, dalam hal ini penulis mengumpulkan data-data hasil dari wawancara, serta dokumentasi di Pengadilan Agama Tuban.

Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah : (1) Bagaimana pelaksanaan mediasi dalam perkara perceraian di pengadilan Agama Tuban? (2) Bagaimana efektivitas mediasi dalam menyelesaikan perkara perceraian di Pengadilan Agama Tuban? (2) Kendala-kendala apa saja dalam pelaksanaan mediasi pada perkara perceraian di Pengadilan Agama Tuban?

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa mediasi pada perkara perceraian di Pengadilan Agama Tuban Perma Nomor 1 Tahun 2016. Setelah berlakunya Perma Nomor 1 Tahun 2016, mediasi diterapkan pada semua perkara perceraian tanpa ada klasifikasi khusus dan sudah ada hakim yang bersertifikat mediator.selain itu bahwa mediasi pada perkara perceraian sebelum Perma Nomor 1 Tahun 2016, diperoleh nilai yang tidak signifikan. Hal ini dibuktikan dengan perkara perceraian yang di selesaikan dengan mediasi yang berhasil hanya 3 perkara. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa mediasi pada perkara perceraian di Pengadilan Agama Tuban kurang efektif. Meski demikian, secara tidak langsung hasil tersebut berpengaruh terhadap persentase penumpukan perkara yang nantinya terjadi di tingkat banding dan kasasi. Sedangkan kendala dalam pelaksanaan mediasi adalah;a) Lemahnya pengetahuan para pihak yang bersengketa mengenahi keuntungan mediasi, b) Terbatasnya waktu yang digunakan oleh mediator dalam melaksanakan mediasi, c) Tingkat kerumitan problem yang harus dipecahkan serta, d) kurangnya respon advokat dalam melaksanakan mediasi.

 

Berdasarkan hasil penelitian di atas, penulis memberikan saran-saran sebagai berikut: 1) Agar Mahkamah Agung RI sering mengadakan pelatihan untuk mediator sehingga para hakim mediator mendapatkan wawasan (ilmu) yang baru. 2) Agar PA Tuban lebih memperhatikan waktu yang digunakan untuk mediasi, karena merupakan solusi untuk menyelesaikan permasalahan para pihak. Dengan waktu yang panjang dan luas, maka akan memberi kesempatan lebih kepada para pihak untuk berfikir mana yang terbaik. 3) Agar seluruh perangkat hukum dan semua yang mengerti hukum memberikan sosialisasi dan pemahaman terhadap manfaat penyelesaian perkara melalui mediasi. Sehingga masyarakat tahu manfaat mediasi dan dapat meningkatkan efektivitas mediasi itu sendiri.

 

Belum ada Komentar

Posting Komentar