Karmuji.com | Penyuluh Agama Islam Tuban

Tinjauan Tokoh Masyarakat Terhadap Tradisi Sesajen Sebelum Akad Nikah di Desa Sukoharjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban.



Di Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban khususnya di desa Sukoharjo yang berada di bagian selatan Kecamatan Bancar mempunyai banyak tradisi unik. Salah satunya yaitu tradisi pemberian sesajen sebelum dilaksanakannya akad nikah. Tradisi pemberian sesajen ini sebenarnya tidak hanya dilakukan sebelum acara akad nikah saja melainkan juga ketika khitanan namun ada perbedaan dari keduanya yaitu jenis sesajennya.

Fokus Penelitian: 1). Apa yang melatarbelakangi terjadinya tradisi sesajen sebelum akad nikah di Desa Sukoharjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban ? 2). Bagaimana bentuk sesajen yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Sukoharjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban? 3). Bagaimana Pandangan tokoh Masyarakat terhadap tradisi sesajen sebelum akad nikah di Desa Sukoharjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban?


Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode ini dipilih agar diperoleh data penelitian yang bersifat mendalam dan menyeluruh mengenai tradisi pemberian sesajen sebelum akad nikah di di Desa Sukoharjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban. Data yang diperoleh kemudian disajikan secara deskriptif. 


Hasil Temuan:

1). latar belakangi terjadinya Sesajen sebelum Akad Nikah oleh masyarakat di Desa Sukoharjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban melakukan tradisi ini adalah karena dulu daerah yang mereka tempati sebelumnya yaitu sebuah hutan yang belum terjamah oleh manusia, kemudian orang-orang yang pertama mengubah hutan ini menjadi desa selalu melakukan izin terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan, dengan memberi persembahan karena ditakutkan akan mengganggu mereka (Makhluk astral) yang lebih dulu menempati daerah tersebut dan dikhawatirkan akan terjadi bencana atau diganggu oleh mereka. karena seringnya memberi persembahan berupa sesajen maka anak turunnya seperti saya ini juga melakukannya, tapi seiring perkembangan zaman persembahan yang dulunya hanya menggunakan menyan, mawar, sejenis bunga-bunga lain yang ditujukan untuk para leluhur atau arwah-arwah ghaib  sekarang sudah di ubah menjadi nasi yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk dimakan bersama warga lain dan namanya juga di ubah menjadi sedekah yang ditujukan kepada Allah SWT dengan niat bersyukur karena telah diberikan kesehatan serta kelancaran pada acara pernikahan yang di gelar. Karena untuk merubah kebiasaan masyarakat apalagi disini masi kental sekali dengan tradisi jawa itu sangatlah sulit. Jadi para penerus atau Tokoh agama disana merubah pola pikir sedikit demi sedikit agar bisa diterima oleh masyarakat.

2). Bentuk sesajen yang digunakan pada malam sedekah di Desa Sukoharjo Kecamatan bancar Kabupaten tuban adalah berupa satu nasi bucu berukuran besar  dan duapuluh Nasi tanpa bucu yang ditaruh di nampan dan limabelas yang ditaruh dipiring. Satu nasi yang ada bucunya hanya diberi lauk tumisan tewel, dan cara memasak tumisan ini dengan menggunakan sarang dari lebah. Kemudian untuk duapuluh nasi yang lain di beri lauk,sayur lodeh, kacang panjang, ikan asin, ayam, kentang wortel, kecambah, mie kuning, tahu dan polo (kacang merah kering yang di rebus lalu di campur dengan kelapa yang di potong bentuk kotak-kotak). Jadi jumlah semua yang diperlukan untuk hajatan dimalam sedekah adalah tigapuluh enam sesajen.

Selain tigapuluh enam sesajen yang dibagikan kepada warga sekitar ada juga yang namanya sesajen desel, sesajen ini sengaja diletakkan diatas deasel (alat untuk menyalakan lampu), sesajen pawon (fungsinya sama dengan kompor tapi terbuat dari tanah liat dan menggunakan kayu bakar) sesajen pawon dan sesajen desel dibuat di piring dengan isian, jajanan pasar, bunga mawar dan menyan.

3). Tinjauan Tokoh terhadap tradisi sesajen sebelum akad nikah  di Desa Sukoharjo Kecamatan Bancar Kabupaten Tuban

Dalam praktik yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Sukoharjo Kecamatan banacar Kabupaten Tuban ada dua perbedaan penafsiran dari masyarakat, mereka yang Konemporer memaknai tradisi ini sebagai rasa syukur kepada  Allah SWT dengan niat bersyukur kepada Allah SWT karena diberikan berkah sebuah hajat perkawinan sebagai rasa syukur mereka mengadakan sedekah dengan mengundang para warga untuk berdatangan kerumah dan memberikan sebuah nasi beserta lauknya, maka hukum dari sedekah ini adalah boleh dan malah dianjurkan karena dengan bersedakah pintu rezeki akan terbuka lebar. 

Namun ada juga sebagian masyarakat yang memiliki background Kejawan  seperti para orang tua yang identik masih percaya dengan mitos memberikan pemaknaan terhadap sesajen itu sebagai bentuk penghormatan atau tegur sapa kepada nenek moyang yang mendiami tempat tersebut, hal ini mereka yakini bahwa ketika melakukan pemberian berupa sesajen yang ditujukan kepada nenek moyang atau makhluk ghaib yang ada di tempat tersebut  mereka percaya dan meyakini bahwa dalam pelaksanaan  pernikahan berjalan dengan lancar tidak ada gangguan-gangguan dan memperoleh keselamatan. Maka dalam praktinya memberikan sesembahan selain kepada Allah SWT hukumnya adalah Haram. 

Anik Pujayanti, S.H. 2021. 



Belum ada Komentar

Posting Komentar